JATIMTIMES - Sejumlah poster berisi penolakan terhadap aksi premanisme dan pungutan liar (pungli) muncul di sekitar kawasan Terminal Arjosari, Kota Malang, Selasa (1/7/2025). Poster-poster tersebut mengatasnamakan warga dan komunitas Arjosari yang mendesak pengembalian keamanan dan kenyamanan bagi para penumpang.
Dalam poster itu, warga menyuarakan agar tidak ada lagi tindak kekerasan yang terjadi di terminal. Salah satu pernyataan yang tertulis berbunyi:
"Kami seluruh warga Arjosari menolak keras adanya premanisme, pungli, dan tindak kekerasan atau pemaksaan di wilayah Terminal Arjosari!!!"

Poster tolak premanisme di terminal Arjosari. (Foto: istimewa)
Baca Juga : Dishub Kota Surabaya Tertibkan Parkir di Kawasan RS Adi Husada dan Pasang Rambu Larangan
Poster lainnya juga menekankan pentingnya memberantas segala bentuk kekerasan di kawasan terminal:
"Save Terminal Arjosari! Kembalikan ketentraman dan keamanan penumpang di Terminal Arjosari."
"Jangan biarkan semua penumpang merasa cemas! Lawan premanisme!!"
Seruan ini muncul tak lama setelah insiden dugaan pengeroyokan terhadap seorang perwira TNI AL yang terjadi pada Kamis malam, 26 Juni 2025, di kawasan Terminal Arjosari. Kejadian itu viral setelah video pengeroyokan beredar luas di media sosial.

Poster tolak premanisme di terminal Arjosari. (Foto: istimewa)
Sebelumnya, diberitakan bahwa seorang perwira TNI AL diduga menjadi korban pengeroyokan yang melibatkan sejumlah juru panggil penumpang atau jupang di Terminal Arjosari. Tiga orang yang diduga terlibat dalam insiden tersebut telah diamankan, yakni AM (31), RS (25), dan NH (29), yang semuanya merupakan warga Gang Permadi, Jalan Muharto, Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Namun, aparat masih memburu beberapa nama lain yang disebut terlibat dalam kasus ini. Kepala Terminal Tipe A Arjosari, Mega Perwira Donowati, membenarkan bahwa masih ada pelaku yang belum tertangkap.
“Yang diamankan tiga, masih ada yang belum, mandornya pelaku-pelaku itu yang dicari. Dugaan sementara, para pelaku merupakan juru panggil penumpang (jupang),” ungkap Mega saat dikonfirmasi, Sabtu (28/6/2025).
Mega menjelaskan bahwa insiden tersebut diduga dipicu oleh kesalahpahaman, meski penyebab pastinya masih dalam pendalaman.
“Bukan antar ojol dan jupang. Kalau kronologi persisnya kami belum tahu. Berawal dari cekcok. Kami masih dalami penyebabnya, takutnya ada yang memperkeruh suasana,” tegasnya.
Baca Juga : Polri Peringati Hari Bhayangkara, Ini yang Diharapkan Ketum LDII
Kejadian berlangsung cepat dan sulit dikendalikan. Beberapa kru bus sempat mencoba melerai, namun pelaku bertindak agresif. Korban akhirnya berhasil dievakuasi oleh petugas terminal dengan bantuan ambulans.
“Korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Saiful Anwar. Saat itu kondisinya luka parah di wajah, kepala, dan matanya bengkak,” jelas Mega.
Dari video yang viral di media sosial, terlihat korban mengalami luka parah di bagian wajah dan kepala. Beberapa warga dan kru bus yang berada di lokasi langsung memberikan pertolongan dan membawa korban menjauh dari lokasi.
Pasca kejadian itu, masyarakat terus mendesak agar pemerintah dan aparat bertindak tegas terhadap praktik premanisme. Salah satunya melalui poster yang diklaim ditulis oleh komunitas warga dan arek-arek Arjosari ini.
“Berantas segala bentuk kekerasan, premanisme, dan pungli di wilayah Terminal Arjosari.”
Melalui poster-poster ini, warga berharap Terminal Arjosari yang menjadi salah satu titik mobilitas utama di Kota Malang bisa kembali menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua penumpang.
“Jangan biarkan semua penumpang merasa cemas. Lawan premanisme!!”
Hingga berita ini ditulis, JatimTIMES masih berupaya mengonfirmasi ke pihak bersangkutan soal hal ini.