JATIMTIMES — Hari Pendidikan Nasional bukan hanya momentum untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga ruang refleksi untuk melihat siapa saja yang hari ini meneruskan semangat beliau: membebaskan manusia melalui pendidikan.
Di Blitar, semangat itu menyala dalam sosok Ulva Roifatul Lailin, S.Pd., M.A.P., seorang dosen sekaligus aktivis sosial yang membuktikan bahwa pengajar bukan semata profesi, melainkan bentuk pengabdian.
Baca Juga : Peringatan Hardiknas 2025, Bupati Mas Rio: Tidak Ada Lagi Pengelompokan Siswa Berdasarkan Kecerdasan
Dilahirkan pada 25 Agustus 1989 di Blitar, Ulva adalah potret perempuan Indonesia yang menapaki jalan pendidikan bukan dari karpet merah, melainkan dari jalan berkerikil. Sejak 2007, ia bekerja sambil kuliah—dari penjilid dokumen di rental komputer, kasir kedai susu, staf koperasi, hingga perusahaan kontraktor. Semua dilakukan untuk satu hal: bertahan dan terus belajar.
Kini, ia mengajar Ilmu Administrasi Publik di Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, sekaligus menjadi salah satu wajah perempuan yang aktif mendampingi program pemberdayaan masyarakat di lingkungan Pemerintah Kota Blitar. Dari ruang kelas hingga ke tengah masyarakat, langkah Ulva tidak pernah terputus.
“Kita harus hadir, bukan hanya bicara. Pendidikan yang sejati itu yang menyentuh dan mengubah,” ujarnya dalam satu kesempatan.
Di kampus, ia bukan hanya pengajar mata kuliah, tetapi juga menjadi teman diskusi, pengarah penelitian, dan pembuka pintu bagi mahasiswa-mahasiswa perempuan yang ingin melangkah lebih jauh. Di luar kampus, ia hadir dalam pelatihan-pelatihan warga, memberikan materi, sekaligus mendengarkan kebutuhan masyarakat.
Perjalanan akademiknya tidak berhenti di gelar sarjana. Setelah lulus dari FKIP Unisba, Ulva melanjutkan studi Magister Administrasi Publik di Universitas WR Supratman Surabaya. Ia menyelesaikan pendidikan S-2 sambil mengasuh tiga anak dan bekerja penuh waktu. “Saya belajar mencintai lelah, karena di situlah saya merasa hidup,” ungkapnya dalam obrolan santai usai memberi kuliah.
Sebagai perempuan yang kini juga menjadi bagian dari birokrasi lokal melalui berbagai program kolaborasi dengan pemerintah, Ulva menyadari bahwa ilmu administrasi publik bukan sekadar teori. Ia mempraktikkannya dalam dinamika masyarakat, membantu mengelola pelatihan ekonomi produktif, mendorong literasi perempuan, hingga penguatan kapasitas organisasi warga.
Hari Pendidikan Nasional 2025, yang jatuh pada Jumat, 2 Mei, terasa bermakna ketika melihat kiprah seperti Ulva. Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan—mulai dari disparitas akses hingga krisis motivasi belajar—ia menunjukkan bahwa satu pengajar bisa menciptakan efek berantai di masyarakat.
Rekan-rekannya menyebut Ulva sebagai sosok yang “tidak hanya pintar, tapi juga tekun dan hangat.” Ia sering menghabiskan akhir pekan di lapangan, bukan untuk berlibur, tetapi menyusun modul pelatihan atau menyiapkan sesi mentoring bagi UMKM perempuan.
Dari balik podium kampus hingga meja pelatihan warga, Ulva tak sekadar bicara perubahan. Ia menjalani sendiri proses itu. Dari dulu hingga kini, ia berjalan dengan kesadaran bahwa pendidikan bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk memperkuat daya hidup masyarakat.
Baca Juga : Ketika Kolonialisme Bertemu Mistik: Menelusuri Akar Pemberontakan Pulung Ponorogo 1885
“Menjadi perempuan hari ini bukan tentang menuntut kesetaraan, tapi tentang hadir dan memberi makna,” ungkapnya dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional. Bagi Ulva, pendidikan tidak bisa lepas dari konteks sosial dan keberpihakan terhadap mereka yang termarjinalkan.
Tinggal di Sananwetan, Blitar, bersama suami dan tiga anaknya, Ulva tetap menjunjung kesederhanaan. Ia tidak mengejar sorotan, tetapi dampak. Ia tidak mengejar popularitas, tetapi kebermanfaatan. Perannya sebagai ibu, dosen, dan pendamping masyarakat dijalani bersamaan—dengan waktu yang diatur cermat, dan tenaga yang seolah tak pernah habis.
Di tengah gelombang digitalisasi dan globalisasi yang menuntut pendidikan serba cepat, Ulva mengingatkan bahwa substansi pendidikan adalah membentuk karakter. “Nilai paling penting dalam pendidikan adalah empati. Kalau itu hilang, gelar akademik tidak banyak artinya,” katanya.
Ulva adalah salah satu dari sekian banyak wajah perempuan Indonesia masa kini yang meneruskan semangat Kartini dalam konteks yang lebih relevan: memberdayakan masyarakat melalui pengetahuan. Namun lebih dari itu, ia juga menjelma menjadi refleksi cita-cita Ki Hadjar Dewantara: menjadi pemimpin yang "ing madya mangun karsa," di tengah masyarakat menyalakan semangat.
Hari Pendidikan Nasional 2025 tidak harus dirayakan dengan seremoni mewah. Cukup dengan mengingat kembali bahwa di berbagai sudut negeri ini, masih ada orang-orang seperti Ulva yang menjadikan pendidikan sebagai jalan sunyi pengabdian. Dan dari jalan sunyi itulah, masa depan perlahan dibentuk.
Di momen Hari Pendidikan Nasional ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Bu Ulva, yang telah menunjukkan dengan nyata bahwa lentera ilmu tak hanya menyala di ruang kelas, tetapi juga terus bercahaya di tengah masyarakat dan menghangatkan hati anak-anak bangsa. Semangatnya yang tak pernah padam menginspirasi kami untuk terus maju dan berbagi ilmu bagi kemajuan bersama.