JATIMTIMES - Fadhil Arjiansyah, siswa asal SMPN 1 Rejotangan berhasil meraih juara 2 dalam ajang lomba Maca Geguritan tingkat SMP yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung. Siswa yang akrab disapa Fadhil itu berhasil meraih juara 2 usai unggul dari total 90 lebih peserta yang berasal dari berbagai sekolah di wilayah Tulungagung. Fadhil menjadi salah satu peserta yang menonjol berkat penghayatan dan pemahamannya terhadap teks geguritan yang dibawakannya.
Berdasarkan keterangan dari pihak sekolah pada Rabu, 30 April 2025, Fadhil merupakan siswa kelas IX-A yang sebelumnya juga telah menorehkan prestasi dalam bidang lain, salah satunya sebagai juara lomba story telling, bahkan di level yang lebih luas hingga luar kota.
Namun kali ini, dia menunjukkan kepiawaiannya dalam bidang sastra Jawa dengan tampil memukau saat membacakan geguritan bertema Peran Ibu Dalam Mempersiapkan Generasi Muda Yang Berpendidikan dan Berbudi Pekerti Luhur.
Baca Juga : Wali Kota Surabaya dan Dirut PDAM Surya Sembada Raih Golden Throphy BUMD Awards 2025
Fadhil lewat keterangannya mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap budaya Jawa memang sudah tumbuh sejak kecil. Ia merasa terpanggil untuk turut menjaga warisan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman.
“Saat ini, budaya kita, budaya Jawa itu semakin terkikis oleh adanya perubahan zaman. Jadi penting buat kita untuk tetap menjaga adat kita. Wong kita itu wong Jowo yo tetep digae Jowo ne,” ujar Fadhil dengan penuh semangat.
Agenda lomba maca geguritan se-Kabupaten Tulungagung itu digelar pada Selasa, 22 April 2025 itu berlangsung di UPT Taman Bina Bakat dan Kompetensi Siswa (TB2KS).
Penampilan Fadhil dalam lomba tersebut mendapat apresiasi dari pihak sekolah, termasuk Kepala SMPN 1 Rejotangan, Mochammad Shoim Arief, S.Pd., M.M. Pesan apresiasi tersebut disampaikan melalui guru Bahasa Jawa, Wiwin Setyorahayu, S.Pd., pihak sekolah menyampaikan kebanggaan atas pencapaian Fadhil.
Menurut Bu Wiwin, ekspresi dan pembawaan Fadhil saat tampil sudah sangat bagus dan meyakinkan, meski ada sedikit kekhasan gaya yang terbawa dari kebiasaannya dalam lomba story telling.
"Fadhil sudah bagus dalam ekspresi, hanya saja kadang dia improve karena terbawa kebiasaan story telling," ujar Bu Wiwin menjelaskan. Meski demikian, gaya tersebut justru menunjukkan fleksibilitas Fadhil dalam mengolah karya sastra, dan menjadi keunikan tersendiri dalam membacakan geguritan.
Lebih lanjut, Bu Wiwin juga menekankan pentingnya pelestarian dan pengenalan Bahasa Jawa di lingkungan sekolah. Ia melihat bahwa saat ini Bahasa Jawa sudah mulai ditinggalkan dan tidak digunakan secara luas oleh generasi muda.
“Saat ini Bahasa Jawa itu hal yang sulit bagi mereka. Masih ada kesulitan pelafalan di beberapa kata, belum lagi masalah unggah-ungguh, belum lagi penulisan yang tidak sesuai,” jelasnya.
Baca Juga : MPM Salurkan Donasi Pembangunan Sekolah Korban Erupsi Gunung Lewotobi di Flores Timur
Menurutnya, Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai etika dan kearifan lokal yang tinggi.
“Etika Jawa itu sangatlah adiluhung, jadi haruslah kita tetap mempertahankan bahasa Jawa itu dengan cara mempelajari dan melaksanakannya,” tambahnya lagi.
Kegiatan lomba Maca Geguritan ini menjadi bukti nyata bahwa upaya melestarikan budaya lokal melalui pendidikan masih terus dilakukan. Keberhasilan Fadhil tentu tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi motivasi bagi teman-temannya untuk mencintai dan mengapresiasi kekayaan budaya sendiri, khususnya di bidang bahasa dan sastra Jawa.
Kesadaran ini penting bagi siswa-siswi calon generasi penerus agar bahasa dan sastra Jawa tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat sebagai warisan penting budaya bangsa.