JATIMTIMES - Lagi-lagi, nama Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (Unisma) bersinar di ajang literasi nasional. Mahasiswa PBSI bernama Safira Ramadani Mahfud berhasil menembus Kompetisi Cerita Anak Dwibahasa 2024 yang digelar Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur belum lama ini.
Dalam ajang ini, Safira mengirimkan sebuah karya bertema kehidupan anak petani. Prestasi ini melanjutkan torehan sebelumnya, saat dua naskahnya telah diterbitkan tahun lalu melalui kompetisi serupa.
Baca Juga : Ditawari Rusia Kerja Sama Bidang Pendidikan, Ini Respons Kadin Jatim
Kisah berlatar belakang pedesaan menjadi senjata ampuh mahasiswa tersebut dalam meraih juara. Mengangkat pengalaman masa kecilnya di tengah keluarga petani, ia menyulam narasi tentang dinamika kehidupan anak saat musim panen. “Saya ingin menggali nilai-nilai kearifan lokal yang sering terlupakan, sekaligus mengenang momen berharga bersama orang tua di sawah,” ujar Safira Ramadani saat diwawancarai.

Kompetisi yang mengusung konsep dwibahasa (Indonesia dan bahasa daerah) ini bukan sekadar ajang adu kreativitas, tetapi juga upaya melestarikan bahasa ibu melalui cerita anak. Balai Bahasa Jatim kemudian akan membukukan karya pemenang dan didistribusikan ke sekolah-sekolah sebagai bahan ajar literasi.
Jalan sang mahasiswa menuju podium berawal dari ruang kuliah. Dr Ari Ambarwati MPd, dosen PBSI Unisma, menjadi katalisator yang mengenalkannya pada dunia sastra anak melalui mata kuliah khusus. “Bu Ambar tidak hanya mengajar teori, tetapi juga mendorong kami untuk mengeksplorasi imajinasi dan nilai edukasi dalam cerita,” tutur Safira.
Hasil kolaborasi ini melahirkan Klab Sastra Anak Unisma, komunitas kreatif yang digadang-gadang sebagai inkubator penulis muda. Setiap Sabtu, puluhan mahasiswa berkumpul untuk berdiskusi, menggali ide, hingga praktik langsung menulis cerita anak yang sarat makna. Tak hanya penulis, klab ini juga melibatkan mahasiswa berbakat di bidang ilustrasi untuk memperkaya visualisasi karya.
Prestasi keempat sang mahasiswa selama menempuh studi di Unisma bukanlah kebetulan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) secara konsisten menyediakan infrastruktur pendukung, mulai dari pelatihan kepenulisan hingga pendanaan penerbitan karya. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya pandai secara akademis, tetapi juga mampu menciptakan karya yang berdampak sosial,” tambah Ari Ambarwati.
Dukungan ini terbukti efektif. Sejak 2023, tiga mahasiswa PBSI Unisma telah menelurkan delapan cerita anak terbitan Balai Bahasa Jatim. Karya-karya tersebut kini digunakan sebagai bahan literasi di sejumlah SD dan PAUD di Jawa Timur.
Baca Juga : Fasilitas Memadai, Unesa Siap Tampung 150 Siswa Sekolah Rakyat Tahun Ini
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan lembaga pemerintah mampu melahirkan gerakan literasi yang progresif. Kedepan, PBSI Unisma berencana memperluas jaringan dengan penerbit nasional dan mengadakan workshop penulisan cerita anak terbuka untuk umum.
“Kami optimis, bibit-bibit penulis berbakat akan terus bermunculan. Literasi anak bukan hanya tentang dongeng pengantar tidur, melainkan investasi untuk membentuk karakter generasi masa depan,” pungkasnya.