free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Agama

Sepele Namun Bisa Rusak Kualitas Pahala Puasa, Apa itu? 

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

12 - Mar - 2025, 12:41

Loading Placeholder
Ilustrasi bulan Ramadan. (Foto Pixabay)

ATIMTIMES - Tujuan pelaksanaan puasa Ramadan tidak hanya menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa melatih pengendalian diri, pengorbanan, rasa empati, serta diiringi dengan perubahan diri yang konsisten untuk menjadi Muslim yang lebih baik.

Salah satu yang dilakukan yakni menghindari tindakan atau hal yang makruh. Tujuannya tak lain agar tak mengurangi pahala puasa sehingga bisa mendapatkan kesempurnaan ganjaran di bulan Ramadan.

Baca Juga : Targetkan Rampung Sebelum Lebaran, Bupati Subandi Pastikan Perbaikan Jalan Berlubang

Selain terdapat ketentuan yang bisa membatalkan puasa dan tindakan yang diharamkan, ada pula hal lain yang harus dihindari karena dapat mengurangi nilai ibadah puasa. Meski puasanya tidak batal, menjadi makruh hukumnya jika tetap dilakukan. 

Hal ini seperti yang diungkap oleh pendakwah kondang Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam ceramah yang dibagikan oleh channel YouTube @AdiHidayatOfficial. Menurutnya, saat puasa sangat penting untuk menjaga lisan dan emosi agar puasa tidak kehilangan nilai di sisi Allah.

Ia pun menukil hadis Nabi Muhammad yang memperingatkan bahwa tidak semua orang yang berpuasa akan mendapatkan ganjaran penuh jika mereka tidak bisa mengendalikan diri.

Rasulullah bersabda, "Jika seseorang berpuasa tetapi tidak meninggalkan perkataan keji dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia menahan lapar dan dahaga." (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas puasa seseorang tidak hanya diukur dari kemampuannya menahan lapar, tetapi juga dari sikap dan perilakunya selama menjalankan ibadah ini.

UAH menuturkan, menjaga lisan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam berpuasa. Mengucapkan kata-kata kasar, berdusta, bergunjing, atau menyebarkan fitnah dapat merusak pahala puasa seseorang. Dalam Al-Qur'an, Allah telah memperingatkan agar manusia berkata dengan perkataan yang baik.

"وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا"

"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)

Selain lisan, UAH juga mengingatkan tentang pentingnya menahan amarah dan menghindari pertikaian. Islam tidak hanya melarang perbuatan buruk, tetapi juga memberikan solusi bagi mereka yang terprovokasi atau diajak bertengkar.

Rasulullah bersabda, "Jika seseorang mencelamu atau mengajak bertikai, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’." (HR. Bukhari & Muslim). Dengan kata lain, puasa seharusnya menjadi sarana untuk melatih kesabaran dan menghindari konflik yang tidak perlu.

UAH menjelaskan bahwa dalam Islam, puasa diibaratkan sebagai perisai yang melindungi seseorang dari keburukan. Nabi Muhammad menyebutkan dalam sebuah hadis, "Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, katakanlah: ‘Saya sedang berpuasa’." (HR. Bukhari & Muslim).

Lebih lanjut, UAH menambahkan bahwa orang yang mampu menjaga puasanya dengan baik akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah kelak.

"لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ"

"Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan saat bertemu dengan Tuhannya." (HR. Bukhari & Muslim)

Tidak cukup sampai disitu saja, UAH juga mengingatkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan minyak kasturi. Hal ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa bagi mereka yang menjalaninya dengan penuh keimanan dan keikhlasan.

Baca Juga : Kapok Jual MinyaKita, Gegara Masyarakat Kecewa Kualitas dan Harganya

Selain menghindari perkataan buruk dan pertengkaran, UAH juga menekankan pentingnya menjaga ibadah lain selama Ramadan. Puasa yang hanya sekadar menahan lapar tanpa diiringi dengan peningkatan ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, akan kehilangan esensi spiritualnya.

"رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الجُوعُ وَالعَطَشُ"

"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. Ahmad)

UAH pun mengatakan, puasa harus dijadikan sebagai momentum perubahan. Jika seseorang sebelumnya sering berkata kasar, mudah marah, atau lalai dalam ibadah, maka Ramadan menjadi kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri.

"إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ"

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

UAH mengingatkan bahwa salah satu tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang lebih bertakwa. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an:

"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ"

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

"Puasa sejati bukan sekadar pindah waktu makan, tetapi bagaimana kita mengontrol diri dan menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan," tutupnya. 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---