free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Ekonomi

Gen Z Makin Suka Matcha : Bukan Sekadar Tren, Ada Budaya Jepang hingga Peluang Bisnis di Baliknya

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

02 - Sep - 2026, 12:55

Loading Placeholder
Direktur Intibev, Hans Sulistyo saat berkunjung ke Kota Malang dalam sebuah workshop (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Matcha sedang menemukan momentumnya di kalangan generasi muda, khususnya  di Indonesia. Minuman berwarna hijau khas Jepang itu kini semakin mudah ditemukan di kedai kopi, restoran, hingga berbagai gerai minuman kekinian.

Menariknya, popularitas matcha bukan semata karena rasa. Ada perubahan gaya hidup generasi muda yang ikut mendorongnya. Budaya Jepang yang semakin dekat dengan Gen Z, kebiasaan traveling, paparan media sosial, hingga karakter rasa yang dianggap lebih sesuai dengan selera generasi muda menjadi sejumlah faktor yang membuat matcha semakin diminati.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Pahing 2 September 2026: Awas Boros! 

Data survei Jakpat terhadap 1.238 responden pada April 2026 menunjukkan matcha dikonsumsi oleh 34 persen Gen Z dalam enam bulan terakhir, sedikit lebih tinggi dibandingkan Milenial yang berada di angka 32 persen. Angka itu memang belum membuat matcha menggeser kopi dan teh yang masih menjadi minuman dominan, tetapi memperlihatkan bahwa matcha memiliki daya tarik yang lebih kuat di kelompok usia muda.

1

Direktur Intibev, Hans Sulistyo, melihat fenomena tersebut bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Menurutnya, salah satu kunci popularitas matcha adalah semakin dekatnya Gen Z dengan budaya Jepang.

"Dunia ini sudah makin mendekat. Traveling bukan suatu hal yang susah. Salah satu destinasi yang paling diburu orang adalah Jepang," katanya saat berkunjung ke Kota Malang, (2/9/2026).

Menurut dia, pengalaman bepergian dan paparan budaya Jepang membuat matcha semakin mudah dikenali. Di Jepang, matcha tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman, tetapi hadir dalam berbagai produk, mulai dari kue, makanan ringan hingga minuman.

Ketika budaya tersebut bertemu dengan generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial, produk matcha menjadi semakin mudah masuk ke dalam keseharian mereka. "Gen Z yang suka traveling, Gen Z yang menggunakan multimedia atau platform aplikasi, itu sangat mudah sekali mengenali produk ini," ujarnya.

Faktor budaya itu kemudian bertemu dengan perubahan selera. Hans melihat generasi muda saat ini mulai lebih selektif terhadap minuman yang terlalu manis. Di titik ini, matcha mempunyai karakter yang berbeda. Matcha dapat dikombinasikan dengan susu tanpa harus selalu ditambahkan gula, sehingga menghasilkan rasa yang tetap memiliki karakter manis dari susu sekaligus mempertahankan cita rasa khas matcha.

"Kalau matcha, tanpa ditambahin gula, hanya dicampurkan susu saja sudah punya karakteristik yang sweet," jelas pimpinan perusahaan yang bergerak sebagai produsen dan supplier bahan baku minuman yang fokus bisnis Food and Beverage (F&B) ini. 

Karakter tersebut membuat matcha memiliki posisi yang menarik di tengah dominasi kopi. Anak muda tetap mengonsumsi kopi, tetapi menurut Hans, sebagian mulai mencari alternatif rasa dan pengalaman minum yang berbeda. Fenomena itu juga terlihat dari semakin banyaknya kedai kopi yang memasukkan matcha ke dalam menu. Matcha tidak selalu diposisikan sebagai pesaing kopi, tetapi justru sebagai pendamping.

"Matcha itu bisa menjadi pendamping dari kopi, sehingga terciptalah produk bernama kopi matcha. Bagaimana matcha diblend dengan kopi," katanya.

Hans melihat pola konsumsi tersebut sebagai bagian dari perubahan preferensi antargenerasi. Ia mengibaratkan tren minuman sebagai siklus yang terus bergerak. Menurutnya, generasi milenial sebelumnya memiliki kedekatan dengan kopi dan boba. Sementara generasi Z muda hingga Gen Alpha kini mulai menemukan produk yang berbeda melalui matcha.

"Setiap generasi ada polanya. Kalau milenial zaman dulu, boba. Tapi kalau Gen Z dan Gen Alfa, mereka mencari sudah beda. Mereka mencari adalah matcha," ujarnya.

Bagi industri kuliner, perubahan selera tersebut bukan sekadar fenomena gaya hidup. Ada peluang bisnis yang ikut terbuka. Hans menilai matcha mempunyai keunggulan dari sisi diferensiasi dibandingkan minuman cokelat yang sudah sangat umum.

Cokelat telah menjadi produk yang mudah ditemukan di rumah. Konsumen dapat membuat minuman cokelat sendiri dengan berbagai produk instan yang tersedia di pasaran. Kondisi berbeda terjadi pada matcha.

"Kalau bicara cokelat, orang bisa bikin di rumah minuman cokelat. Tapi kalau bicara matcha, PR. Mereka harus cari dulu matchanya, harus mengocok dulu matchanya, harus campurkan dengan susunya," kata Hans.

Kesulitan tersebut justru menciptakan peluang bagi kafe dan restoran. Konsumen yang ingin menikmati matcha tidak perlu menyiapkan bahan dan peralatan sendiri. Mereka cukup datang ke kafe, memesan, lalu mendapatkan produk siap minum.

Dari perspektif bisnis, kondisi itu membuat matcha dapat memberikan nilai tambah pada menu. Kafe tidak hanya menjual kopi, tetapi memiliki pilihan lain untuk konsumen yang menginginkan minuman berbeda. Hans bahkan menyebut matcha sebagai salah satu produk yang dapat meningkatkan value sebuah coffee house.

Baca Juga : Setelah Tambakberas, Tantangan NU Sesungguhnya Baru Dimulai

"Setiap coffee house pasti punya produk matcha. Kenapa? Karena matcha menambah nilai value dari produk itu sendiri," ujarnya.

Matcha juga memiliki fleksibilitas penggunaan yang cukup luas. Bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi matcha latte, kopi matcha, cokelat matcha, minuman susu, hingga berbagai produk makanan dan kue. Dengan demikian, satu bahan baku dapat dikembangkan menjadi beberapa menu dengan karakter pasar berbeda.

Meski memiliki citra premium, Hans mengingatkan pelaku usaha agar tidak terjebak menggunakan matcha dengan grade tinggi tanpa memperhitungkan kemampuan konsumen. Menurutnya, bisnis matcha harus berbasis segmentasi. Kafe dengan target pasar premium dapat menggunakan premium matcha atau ceremonial matcha. Sementara usaha dengan target konsumen yang lebih sensitif terhadap harga dapat memilih culinary matcha.

Intibev sendiri menyediakan beberapa tingkatan produk, mulai dari matcha latte, culinary matcha, premium matcha hingga ceremonial matcha. "Matcha sebaik apa pun tapi kalau customer, dalam hal ini rekan-rekan Horeka, tidak bisa jualan karena harga terlalu tinggi, ini adalah suatu realita," jelasnya.

Ia mencontohkan, matcha premium dapat memiliki harga hingga sekitar Rp500 ribu per gram. Karena itu, penggunaannya harus benar-benar diperhitungkan agar harga bahan baku tidak membuat produk kehilangan pasar.

Lanjut Hans, perbedaan grade juga tidak otomatis berarti satu produk berkualitas dan lainnya buruk. Setiap grade memiliki fungsi dan segmentasi pasar masing-masing.

Strategi tersebut menjadi penting karena daya tarik matcha justru terletak pada kemampuannya menjangkau beberapa lapisan pasar. Ada konsumen yang mencari pengalaman premium, tetapi ada pula yang hanya ingin menikmati matcha dengan harga yang terjangkau.

Peluang tersebut juga mulai dilirik Intibev di Malang. Hans mengatakan, selama ini perusahaan lebih banyak mengenal Malang dan Batu sebagai daerah wisata. Namun, kali ini pihaknya mulai datang dalam konteks bisnis untuk memperkenalkan produk matcha kepada pelaku usaha kuliner.

Untuk saat ini, Hans menyebut penggunaan produk matcha Intibev telah menjangkau Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Sementara pasar Malang masih dalam tahap awal. "Untuk Malang sendiri belum. Sehingga kami masuk ke Malang ini," katanya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut justru menunjukkan masih terbukanya ruang pertumbuhan pasar matcha di Malang Raya. Terlebih, karakter Malang sebagai kota dengan banyak kafe, restoran dan konsumen muda dinilai sesuai dengan perkembangan produk beverage yang mengandalkan inovasi.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah matcha hanya akan menjadi tren sesaat seperti sejumlah minuman kekinian sebelumnya. Hans memperkirakan perjalanan matcha masih cukup panjang. Alasannya, basis konsumennya kini mulai masuk ke Gen Z muda dan Gen Alpha. "Generasi ini akan panjang. Dia mungkin lima tahun lagi pun masih akan tumbuh di situ. Jadi ini masih panjang," ujarnya.

Namun, Hans tidak memandang tren beverage sebagai sesuatu yang akan bertahan dalam satu bentuk selamanya. Menurutnya, industri minuman memiliki siklus yang berulang. "Kalau enggak kopi, lalu dia akan ke teh, lalu dia akan ke cokelat, dia akan ke fruit, balik lagi ke kopi," katanya.

Dalam siklus itu, matcha berada di dalam kategori teh. Artinya, ketika popularitas satu varian matcha nantinya menurun, bukan berarti kategori tersebut langsung hilang. Produk dapat mengalami perubahan bentuk, rasa, kombinasi maupun cara penyajian.

Hal itu pula yang membuat Hans melihat matcha bukan sekadar produk viral. Selama pelaku usaha mampu membaca perubahan selera konsumen, melakukan inovasi dan menyesuaikan harga dengan segmentasi pasar, matcha berpeluang memiliki umur yang lebih panjang.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi

--- Iklan Sponsor ---