JATIMTIMES - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Malang tidak sekadar berbicara tentang kelahiran Rasulullah. Pesan yang mengemuka justru menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan pelajar, yakni bagaimana membangun hubungan antarsesama di tengah masih maraknya perundungan, ejekan, diskriminasi, dan sikap saling merendahkan.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang digelar di Lapangan Basket MTsN 1 Kota Malang, Senin (24/8/2026). Mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah: Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan”, peringatan itu menempatkan akhlak Rasulullah sebagai pijakan untuk membaca persoalan relasi sosial di lingkungan generasi muda.
Baca Juga : Melestarikan Tradisi Ancak di Desa Paspan Banyuwangi dalam Memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW
Ust. Dr. H. Umar Faruq, S.Hum., M.Pd., yang menyampaikan Mauidzoh Hasanah, secara khusus mengaitkan perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW dengan persoalan perundungan yang masih menjadi tantangan di kalangan anak muda.
Menurutnya, tekanan yang dihadapi Rasulullah sejak awal dakwah memiliki bentuk yang beragam, mulai dari celaan, penolakan, tekanan sosial hingga perlakuan diskriminatif. Dalam konteks kehidupan saat ini, sebagian bentuk perlakuan tersebut memiliki kemiripan dengan praktik bullying atau perundungan.
Namun, yang menjadi teladan bukan sekadar kemampuan Rasulullah menghadapi tekanan, melainkan cara beliau merespons perlakuan tersebut.
“Rasulullah SAW adalah contoh nyata bagaimana sikap sabar dan keteguhan hati mampu meruntuhkan kebencian,” tutur Umar Faruq di hadapan para murid dan guru.
Ia mengingatkan bahwa perbedaan karakter, latar belakang, kemampuan akademik maupun kondisi sosial tidak seharusnya menjadi alasan seseorang merendahkan orang lain.
“Di masa kini, ketika isu perundungan marak terjadi di lingkungan anak muda, kita harus kembali menyerap ajaran beliau: merajut persaudaraan, memuliakan sesama manusia, dan menghentikan segala bentuk bullying antar sesama,” lanjutnya.
Kembali ditegaskan, bahwa sekolah bukan hanya sebagai ruang untuk mengejar capaian akademik, tetapi juga sebagai lingkungan tempat anak belajar membangun relasi sosial. Cara berbicara, memperlakukan teman, menyikapi perbedaan dan menyelesaikan konflik menjadi bagian dari pembentukan karakter yang tidak kalah penting dibandingkan pencapaian di ruang kelas.
Perundungan, dalam konteks tersebut, tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Ejekan terhadap kondisi fisik, pemberian julukan yang merendahkan, pengucilan dari kelompok pertemanan, mempermalukan seseorang di depan orang lain hingga tekanan melalui ruang digital dapat menjadi bagian dari persoalan yang harus diperhatikan.
Karena itu, keteladanan Rasulullah yang disampaikan dalam peringatan tersebut diarahkan pada persoalan yang lebih konkret. Kesabaran bukan berarti membiarkan tindakan yang salah, sementara kelembutan bukan berarti kehilangan keberanian untuk menghentikan perilaku yang merugikan orang lain.
Kepala MTsN 1 Kota Malang, Dra. Erni Qomaria Rida, M.Pd., juga menekankan pentingnya menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai bagian dari proses pembentukan karakter murid.
Baca Juga : 6 Bulan Perang AS-Iran, 20 Orang Tewas dalam 68 Insiden di Selat Hormuz
Ia mengingatkan agar peringatan Maulid tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Nilai yang dibawa dalam peringatan tersebut harus tercermin dalam keseharian warga madrasah, terutama dalam cara murid berinteraksi dengan teman, guru dan lingkungan sekitarnya.
"Tema “Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan” tidak berhenti sebagai slogan kegiatan. Tema itu berkaitan langsung dengan bagaimana lingkungan pendidikan membangun ruang yang membuat murid merasa dihargai, aman dan diterima tanpa harus kehilangan identitas maupun perbedaannya," paparnya.
Terlebih lagi, di tengah dinamika kehidupan pelajar yang semakin kompleks, persoalan membangun lingkungan yang bebas dari perundungan menjadi bagian penting dari pendidikan karakter. Sekolah tidak cukup hanya memberikan pemahaman mengenai apa yang benar dan salah, tetapi juga perlu membentuk kebiasaan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi penolakan dan perlakuan buruk menjadi salah satu rujukan moral yang kembali diangkat dalam momentum tersebut. Kesabaran, empati, persaudaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia menjadi pesan yang relevan untuk diterapkan dalam hubungan sosial di lingkungan madrasah.
Erni juga menjelaskan bahwa peringatan ini juga diisi dengan berbagai kegiatan, mulai ubudiyah, pembacaan Tilawatil Qur’an dan Asmaul Husna. Pembacaan Mahalul Qiyam kemudian dilakukan bersama sebelum memasuki sesi utama berupa Mauidzoh Hasanah. Setelah sesi keagamaan dan istirahat makan bersama, pesan Maulid kemudian diterjemahkan dalam berbagai kegiatan yang melibatkan murid dari seluruh tingkatan kelas.
Murid kelas VII mengikuti Quiz Islami Online dan Final Cerdas Cermat. Kelas VIII mengikuti Lomba Sholawat Nabi, sedangkan murid kelas IX tampil melalui Lomba Musikalisasi Puisi dengan tema religius di panggung utama.
"Pilihan kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pesan tentang akhlak tidak hanya disampaikan melalui ceramah. Nilai kebersamaan juga dibangun melalui interaksi antarmurid, kerja sama dalam kelompok, keberanian tampil dan penghargaan terhadap kemampuan masing-masing," ungkapnya.