free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Peristiwa

Mengenal Ubi Bombing? Alternatif yang Diklaim Bisa Padamkan Karhutla

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

25 - Aug - 2026, 14:19

Loading Placeholder
Potret karhutla Kalimantan. (Foto: AFP)

JATIMTIMES - Istilah ubi bombing mendadak menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto membahasnya dalam rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026).

Ubi bombing disebut sebagai salah satu alternatif yang dapat dikembangkan untuk membantu mengatasi kebakaran. Gagasan tersebut muncul ketika pemerintah membahas upaya mencari metode lain selain water bombing yang selama ini dilakukan menggunakan helikopter.

Baca Juga : RUU Reforma Agraria Masuk Prolegnas Prioritas 2026, Dinilai Mendesak untuk Akhiri Konflik Pertanahan

Dalam rapat tersebut, Prabowo awalnya meminta jajarannya, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mencari bahan yang dapat memadamkan atau meredam api dengan lebih efektif dibandingkan air.

"Seperti kalau alat pemadam kebakaran yang diitu (APAR) kan yang keluar zat kimia. Bener nggak? Ya coba dicek deh mungkin BRIN ya. Coba dicek BRIN ya. BRIN apakah bisa produksi atau kita sourcing. Kan dijual, untuk alat-alat, kita maunya isinya cari sourcing dari mana," kata Prabowo dalam rapat yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, dikutip Selasa (25/8/2026).

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya inovasi berbahan dasar tepung yang telah digunakan untuk menangani kebakaran dalam skala kecil.

Menurut Sigit, bahan tersebut berasal dari tepung singkong dan dapat digunakan untuk meredam api.

Penjelasan tersebut langsung menarik perhatian Prabowo. Presiden kemudian meminta agar inovasi itu dikembangkan dalam skala yang lebih besar.

"Intinya dia bisa meredam, ya? Menarik sekali itu. Bahan bakunya dari ubi? Dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar ya. Ajukan biaya untuk produksinya," ucap Prabowo.

Prabowo kemudian menyebut metode tersebut dengan istilah ubi bombing. "Ya kita, kita usahakan semua upaya ya. Berarti yang kita water bomb, bukan water bomb ya, ubi bombing," kata Prabowo.

Apa Itu Ubi Bombing?

Dalam pemaparan kepada Presiden, Sigit menjelaskan bahan berbasis tepung singkong tersebut dapat dibuat dalam bentuk tertentu, termasuk bola-bola kecil. Ada pula formulasi yang dapat disemprotkan menggunakan alat seperti alat pemadam api ringan (APAR).

"Jadi kalau disemprot dengan alat, dengan zat tersebut, itu dia bisa mencegah agar antara api, O2, dan CO2 itu bisa terpisah," ujar Sigit.

Menurut Sigit, inovasi tersebut sejauh ini telah digunakan untuk menangani kebakaran dalam skala kecil.

Namun, ketika ditanya mengenai kemungkinan penerapannya pada karhutla yang melanda area luas, ia menyebut hal tersebut masih memungkinkan untuk dikembangkan.

Penggunaannya akan bergantung pada luas lahan yang terbakar serta ukuran dan volume bahan yang digunakan.

Sigit juga menjelaskan bahan tersebut diklaim dapat membantu mencegah munculnya api dengan meredam permukaan objek sehingga tidak mudah terbakar.

Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis kemudian menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan hasil temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau. Namun, produksi bahan tersebut saat ini masih terbatas.

"Memang kapasitas produksinya masih kecil bapak. Kalau memang ada ini kami akan coba secara besar sehingga nanti ini juga sudah disampaikan kepada BNPB," kata Darwis.

Baca Juga : Karhutla dan Dosa Merusak Bumi dalam Perspektif Islam

Prabowo kemudian meminta efektivitas bahan tersebut diuji lebih lanjut. Salah satu yang ingin diketahui adalah sejauh mana bahan berbasis tepung itu dapat digunakan dalam jumlah besar melalui helikopter atau pesawat.

Prabowo bahkan menyinggung penggunaan pesawat M17 yang selama ini digunakan untuk water bombing.

"Kalau M17 itu 4 ton water boombing. Mungkin ubi serbuk, tepung ini kita uji coba efektif luasnya berapa. M17 cukup efektif?" tanyanya.

Di sisi lain, pembahasan mengenai ubi bombing perlu dijelaskan lebih rinci. Apakah tepung dijadikan sebagai bahan baku, atau tepung akan dibuat gel sebagai formulasi pemadam, atau juga tepung kering akan disebarkan ke udara.

Sebagaimana diketahui dalam pengembangan material pemadam kebakaran, hydrogel atau water-enhancing gel telah diteliti untuk membantu air bertahan lebih lama di permukaan, mempertahankan kelembapan, mengurangi perpindahan panas, dan memperlambat penyalaan.

Pati (tepung singkong) juga dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam formulasi hydrogel tertentu. Pati singkong sendiri diduga dapat direkayasa menjadi berbagai jenis hydrogel.

Namun, hal tersebut belum otomatis membuktikan bahwa tepung singkong dalam bentuk kering dapat langsung menggantikan water bombing untuk memadamkan karhutla dalam skala luas.

Justru aspek keselamatan menjadi salah satu hal yang perlu diuji. Sebab, material pati dalam bentuk debu halus pada kondisi tertentu dapat memiliki risiko combustible dust atau debu yang mudah terbakar.

Karena itu, apabila ubi bombing hendak dikembangkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan, efektivitas, formulasi bahan, cara penyebaran, dampak terhadap lingkungan, hingga aspek keselamatannya perlu diuji terlebih dahulu.

Diketahui selama ini penanganan karhutla di Sumatera Selatan, pemerintah masih mengandalkan metode water bombing menggunakan helikopter.

Dalam paparan penanganan karhutla, disebutkan satu helikopter dapat melakukan sekitar dua sorti dalam sehari. Setiap sorti berlangsung sekitar 3-4 jam dan dapat melakukan 30-40 kali water bombing. Sekali menjatuhkan air, helikopter rata-rata membawa sekitar 4 ton air.

Dalam paparan tersebut juga disebutkan lebih dari 300 kali water bombing dilakukan setiap hari selama 90 hari. Helikopter yang digunakan antara lain Black Hawk dan Mi-8, yang masing-masing memiliki kemampuan membawa sekitar 4 ton air.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---