JATIMTIMES - BPBD Kota Batu memetakan empat kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yakni hutan Arjuna-Welirang, lereng Panderman, lereng Oro-Oro Ombo, dan Klemuk. Pemetaan ini dilakukan sebagai langkah kesiapsiagaan, terlebih kawasan Arjuna-Welirang kembali mengalami kebakaran beberapa hari yang lalu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan, pemetaan tersebut dilakukan berdasarkan dokumen kajian risiko bencana serta riwayat kejadian kebakaran yang pernah terjadi di wilayah Kota Batu.
Baca Juga : Karhutla yang Merambat ke Kota Batu Padam, Petugas Masih Lakukan Pemantauan
“Dalam dokumen kajian risiko bencana, ada tiga titik yang memang sering terjadi kejadian, yaitu di daerah Arjuna-Welirang, kemudian di lereng Panderman, dan yang ketiga di daerah lereng Oro-Oro Ombo, Desa Oro-Oro Ombo,” kata Gatot, Jumat (21/8/2026).
Dari empat kawasan tersebut, Arjuna-Welirang menjadi salah satu wilayah yang memiliki catatan kejadian karhutla. Kebakaran tercatat pernah terjadi pada 2019 dan kembali terjadi pada 2023. Dan kembali membara beberapa hari yang lalu meski berada di kawasan Pausuran, yang sempat merembet di Kota Batu, yakni Gunung Kembar.
“Kalau mengacu pada kejadian kebakaran hutan dan lahan yang pernah terjadi di Kota Batu, itu di tahun 2019. Potretnya tetap ada di Arjuna-Welirang. Kemudian kejadian 2023 juga ada di Arjuna-Welirang,” imbuhnya.
Sementara kawasan Klemuk masuk dalam pemetaan karena dinilai memiliki potensi kebakaran. Empat kawasan tersebut kemudian menjadi fokus BPBD dalam memperkuat kesiapsiagaan, regulasi, dan koordinasi penanganan karhutla.
“Empat titik itu menjadi fokus kami dalam rangka kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Di balik ancaman karhutla, BPBD Kota Batu menilai faktor manusia masih menjadi pemicu dominan. Penggunaan api yang tidak diawasi hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan dapat menjadi sumber awal kebakaran, terlebih ketika berada di kawasan dengan banyak material kering.
“Berdasarkan yang kami potret selama ini, rata-rata lebih banyak karena faktor manusianya. Kalau kita persentasekan, rata-rata kejadian disebabkan oleh faktor manusia,” ungkap Gatot.
Aktivitas yang berisiko antara lain pembakaran lahan yang tidak terkendali, membuat api unggun tanpa memastikan bara benar-benar padam, hingga membuang puntung rokok di antara daun dan rumput kering.
“Pembuangan puntung rokok, mungkin pada waktu melakukan kegiatan di hutan, dibuang di daerah kekeringan, di sela-sela daun kering. Itu juga rata-rata menyebabkan potensi kebakaran,” tegasnya.
Karena itu, aktivitas masyarakat di kawasan hutan menjadi salah satu perhatian BPBD. Terlebih kawasan rawan tersebut juga kerap digunakan untuk pendakian, berkemah maupun aktivitas tektok.
BPBD terus meningkatkan koordinasi bersama Perhutani, Tahura dan instansi lintas sektor untuk mengantisipasi potensi kebakaran sekaligus mempercepat penanganan jika kejadian terjadi.
“Koordinasi terus kami tingkatkan bersama Perhutani, Tahura, serta sejumlah instansi lintas sektor. Langkah tersebut sangat penting karena kawasan rawan karhutla juga menjadi lokasi aktivitas masyarakat, termasuk pendakian dan berkemah,” tambahnya.
Karena itu, Gatot mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan agar tidak menganggap remeh sumber api sekecil apa pun. Pendaki yang merokok diminta memastikan puntung benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
“Kalau mereka melakukan aktivitas, misalnya merokok atau apa pun, puntung rokoknya diusahakan benar-benar padam dan dimasukkan ke tempatnya lagi. Supaya puntung rokok itu tidak ada di lokasi tersebut dan tidak memercikkan api,” imbau Gatot.
Hal serupa berlaku bagi masyarakat yang menggunakan api untuk memasak maupun membuat api unggun. Bara harus dipastikan mati sebelum lokasi ditinggalkan.
“Kalau memang harus membuat api unggun atau memasak air atau apa pun yang menggunakan api, itu diusahakan benar-benar padam. Kalau mau melakukan pemadaman, usahakan ditimbun di dalam tanah supaya benar-benar padam,” ucapnya.
Menurut Gatot, kondisi angin dan banyaknya daun maupun rumput kering dapat membuat bara yang tersisa kembali menyala dan memicu kebakaran lebih luas.
“Supaya bara yang sedikit pun tidak keluar dan memercik ke daun-daun kering atau rumput-rumput kering yang ada di sekitarnya,” tutup Gatot.