JATIMTIMES - Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah menghadapi masa sulit. Kehilangan, kesedihan, tekanan hidup, hingga cobaan yang terasa begitu berat sering kali membuat seseorang ingin mencurahkan isi hati. Namun dalam pandangan Islam, ada pelajaran penting tentang kepada siapa seorang hamba seharusnya mengadukan segala kegelisahannya.
Al-Qur'an menghadirkan teladan dari dua nabi mulia, yakni Nabi Ya'qub Alaihissalam dan Nabi Ayyub Alaihissalam. Keduanya mengalami ujian yang sangat berat, tetapi sama-sama memilih menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai tempat pertama untuk mengadu.
Nabi Ya'qub merasakan kesedihan mendalam ketika putra yang sangat dicintainya, Nabi Yusuf Alaihissalam, hilang sejak masih kecil. Di tengah rasa duka yang berkepanjangan, beliau tidak melampiaskan keluh kesah kepada manusia. Sebaliknya, beliau menyampaikan seluruh kesedihannya kepada Allah.
Allah mengabadikan perkataan Nabi Ya'qub dalam Surah Yusuf ayat 86.
"Qāla innamā asykū batstsī wa huznī ilallāhi wa a'lamu minallāhi mā lā ta'lamūn". Doa ini artinya, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui."
Sikap tersebut menunjukkan keyakinan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan penuh untuk mengubah keadaan. Tidak ada pertolongan yang sempurna selain pertolongan-Nya.
Keyakinan itu juga ditegaskan dalam Surah Al Baqarah ayat 186.
"Wa idzā sa'alaka 'ibādī 'annī fa innī qarīb. Ujību da'watad dā'i idzā da'ān". Artinya, "Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku."
Pelajaran serupa tampak dalam perjalanan hidup Nabi Ayyub Alaihissalam. Beliau dikenal sebagai sosok yang mendapat cobaan luar biasa berat. Dalam waktu yang relatif singkat, beliau kehilangan anak-anaknya, hartanya habis, ditinggalkan istrinya, serta menderita penyakit yang sangat berat selama bertahun-tahun.
Meski demikian, Nabi Ayyub tetap menjaga kesabaran dan tidak menyalahkan siapa pun. Saat mengadu, beliau hanya memohon kepada Allah.
Allah mengabadikan doa tersebut dalam Surah Shaad ayat 41.
"Annī massaniyasy syaithānu binushbin wa 'adzāb. Doa ini memiliki, artinya, "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan."
Doa itu tidak dibiarkan tanpa jawaban. Allah kemudian memerintahkan Nabi Ayyub menghentakkan kakinya ke tanah.
Baca Juga : 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim, Jangan Dianggap Sepele
"Urkudh birijlik. Hādzā mughtasalun bāridun wa syarāb". Artinya, "Hentakkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan diminum." (QS. Shaad: 42).
Setelah itu Allah mengangkat penyakit beliau serta mengembalikan kenikmatan hidupnya. Bahkan dalam Surah Shaad ayat 43 dijelaskan bahwa Allah mengaruniakan kembali keluarganya dan melipatgandakan nikmat tersebut sebagai bentuk rahmat sekaligus pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
Dari dua kisah tersebut, para ulama menjelaskan bahwa mengadukan kesulitan kepada manusia belum tentu mampu menghilangkan beban yang dirasakan. Sebaliknya, ketika seorang hamba mengadu kepada Allah, ia sedang memohon kepada Zat Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Al-Qur'an juga menegaskan dalam Surah Qaf ayat 16.
"Wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warīd", arti ayat ini, "Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah menerangkan bahwa kedekatan dalam ayat tersebut adalah kedekatan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Selain itu, Allah juga memiliki kedekatan khusus kepada hamba-hamba-Nya yang beribadah dan berdoa kepada-Nya, berupa pertolongan, pengabulan doa, dan taufik.
Karena itu, seorang muslim dianjurkan menjadikan Allah sebagai tempat utama mencurahkan segala kegelisahan. Bukan berarti seseorang dilarang meminta nasihat kepada orang yang saleh atau terpercaya, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah semata. Sebab hanya Dia yang mengetahui seluruh isi hati dan mampu memberikan jalan keluar terbaik bagi setiap persoalan.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Az Zumar ayat 36, "Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya?" Ayat ini menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah adalah sandaran paling kokoh bagi setiap orang yang sedang menghadapi ujian kehidupan.