free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Opini

Menghidupkan Rasa “Handarbeni” Mendobrak Apatisme Pendidikan

Penulis : Diah Erna Triningsih - Editor : Redaksi

29 - Jul - 2026, 14:52

Loading Placeholder
Diah Erna Triningsih

Menghidupkan Rasa “Handarbeni” Mendobrak Apatisme Pendidikan

Diah Erna Triningsih

SMPN 2 Karangploso Satu Atap, Kabupaten Malang

 

Pendahuluan

Setiap kepala sekolah, guru, maupun murid tentu menghendaki sekolah yang nyaman dengan fasilitas lengkap. Akan tetapi, kehendak tersebut kadang hanya mimpi dan akan terpental saat terbangun. Begitu pula, tidak pernah terbersit dalam benak saya menjadi kepala sekolah. Bahkan, membayangkan dan bermimpi pun tidak sama sekali. Orang mengatakan ini anugerah, di sisi lain orang mencibir ini musibah. Apa pun kata orang, sekarang saya adalah kepala sekolah dengan amanah yang harus dijalankan. 

Baca Juga : Situbondo dan Serang Teken MoU Anyer-Panarukan 3R, Mas Rio: Warisan Sejarah Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah 

 

Menapaki jalan mendaki dan berlubang sana-sini, bagi sebagian orang melelahkan dan rasa malas menjalari ruang pikiran. Itulah yang saya rasakan. Bagaimana tidak? Tadinya mengajar di sekolah favorit masyarakat, jarak hanya 4 km dari rumah dengan jalan raya lebar dan mulus. Kini, jarak yang ditempuh lebih jauh dengan medan yang berliku-liku, sempit, dan berlubang. 

Hari pertama, saya awali dengan puasa. Bukannya sok agamis, tetapi ketakutan saya tidak bisa menahan buang air kecil/besar karena kendala air ditambah cuaca dingin yang menusuk hingga tulang. Mengawali hari pertama menjadi kepala sekolah fokus saya mengenal para guru yang berjumlah 22 orang, guru SD berjumlah 10 orang dan guru SMP berjumlah 12 orang. Tentunya bukan hanya saya yang ingin mengetahui sosok baru, begitu pula rekan-rekan juga ingin mengenal saya. 

Sekolah ini, SMPN 2 Karangploso Satu Atap, berdiri dengan kokoh meskipun memiliki keterbatasan berlapis. Seluruh fasilitas fisik yang digunakan milik Sekolah Dasar (SD) setempat. Rumah kedua ini tidak memiliki laboratorium, ruang komputer, maupun perpustakaan. Bahkan, buku paket pembelajaran jumlahnya sangat minim, sehingga tidak dipinjamkan kepada murid hanya digunakan di kelas. Itu pun satu buku digunakan satu kelompok (4-5 orang). Ruang kelas jauh dari kata aman dan nyaman, beberapa sudut atapnya bocor, atap pun sudah disangga beberapa titik. 

Sebenarnyan, minimnya infrastruktur bukanlah kendala berarti. Akan tetapi, kualitas pembelajaranlah dasar penopang mutu sekolah. Apakah pembelajaran di sekolah ini sudah mumpuni? Mau ganti kurikulum setahun sekali jika murid hanya datang, duduk, dengar, tanpa ada diskusi dan penalaran kritis tentu semua sia-sia. Sebagai kepala sekolah, bisa saja saya memilih untuk terus mengeluh, meratapi anggaran, dan membiarkan sekolah jalan di tempat. Jika fasilitas fisik tidak tercukupi, maka satu-satunya variabel yang bisa diubah adalah sumber daya manusia. Pertanyaannya jangan berhenti pada, "Bagaimana saya memimpin sekolah?" tetapi berlanjut pada "Bagaimana saya bisa menumbuhkan pemimpin baru dari setiap ruang kelas di sekolah?" karena sejatinya setiap orang adalah pemimpin meskipun bagi dirinya sendiri.

 

Pembahasan

Hal pertama yang saya teguhkan yaitu kepemimpinan bukan tentang fasilitas, tetapi pada kesadaran guru sebagai pemimpin pembelajaran. Kepemimpinan guru merupakan otonomi, inisiatif, dan kemampuan untuk menemukan solusi kreatif di antara riuhnya masalah. Menurut Katzenmeyer dan Moller (2009), kepemimpinan guru muncul ketika para pendidik melangkah keluar dari batas kelas mereka sendiri untuk memengaruhi praktik rekan sejawat menuju perbaikan bersama. Inilah kunci mendobrak keterbatasan fasilitas dengan kompetensi guru menjaga marwahnya sebagai pendidik dengan memperbaiki metode pembelajaran.

Perbaikan yang saya maksud tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin murid tetap semangat ke sekolah dan guru mengajar dengan beragam metode menyesuaikan dengan kebutuhan murid bersama menjadikan lingkungan sebagai laboratorium kehidupan. Ketika kepala sekolah menggeser fokus dari apa yang tidak kita miliki (fasilitas) menjadi apa yang kita miliki (potensi guru dan alam sekitar), inilah fondasi peletakan kepemimpinan guru.

Menilik nilai rapor pendidikan tahun 2025, angka-angka tersebut menimbulkan kecemasan. Hampir keseluruhan komponen baik literasi, numerasi, kualitas pembelajaran, iklim pembelajaran, dan karakter mengalami penurunan signifikan dari tahun 2024. Ini menjadi perhatian sekolah untuk mengevaluasi dan berefleksi terhadap pengelolaan sekolah. Tentu bukan perkara mudah, tetapi perlu penanganan khusus untuk njlimeti setiap komponen.

Kami pun melalukan reviu KSP dengan mengundang komite dan perwakilan orang tua. Ternyata, paguyupan orang tua murid dan komite sangat antusias terhadap undangan tersebut karena sebelumnya belum pernah dilakukan sekolah. Selain itu, kepedulian mereka begitu tinggi terhadap pembelajaran. Hal ini saya ketahui dari pertanyaan apakah guru-guru di sini sudah sesuai mata pelajaran dan memiliki kualifikasi pendidik? Merunut sejarah, sekolah ini dahulu gurunya dari SD ataupun guru-guru yang menambah jam agar sertifikasi cair. Akan tetapi, adanya penerimaan P3K memberi hawa segar bagi sekolah Satu Atap. Otomatis, guru-guru yang mengajar kini telah sesuai dengan kualifikasi kependidikan. Pertanyaan ini mengindikasikan bahwa bukan gedung megah yang mereka ributkan, tetapi kualitas pembelajaran sebagai jantung sekolah. 

Berdasarkan reviu KSP dan rapor pendidikan, beberapa hal yang perlu dibenahi fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran. Pertama, mengubah kebiasaan mengajar yang monoton menjadi budaya pembelajaran inovatif meskipun di tengah keterbatasan sarana. Tentunya ini membutuhkan seni kepemimpinan yang adaptif. Guru dipaksa melatih diri untuk menyesuaikan dengan perubahan dunia digital yang serba cepat. Saya selalu mengingatkan bahwa mendidiklah sesuai dengan zamannya karena era digital dengan generasi alpha tentu beda metode mengajarnya. Melalui komunitas belajar, pemanfaatan platform pendidikan, dan pelatihan baik luring maupun daring para guru mulai mengimplementasikan beragam inovasi pembelajaran. 

Ketika tidak ada laboratorium, guru IPA mampu mengubah alam dan lingkungan untuk praktik pembelajaran. Salah satu contohnya, konsep Fisika dalam pembangunan tangga dengan judul proyek STEM “Mendesain Tangga Sekolah”. Ternyata, proyek ini bisa memperlihatkan banyak hal 1) murid belajar konsep Fisika dengan benar dan nyata bahwa ada ukuran ideal tinggi tangga yaitu 17-18cm, panjang step 30cm dan lebar 80cm, 2) murid belajar matematika terkait bahan-bahan dan jumlah uang yang diperlukan untuk membangun tangga, 3) murid belajar memahami tukang bangunan bekerja (tidak meremehkan), 4) secara sosial murid belajar dampak tangga yang tidak sesuai dengan ketentuan ideal. Bukankah ini lebih bermakna dan berdampak bagi murid? Guru tersebut telah bertransformasi menjadi seorang pemimpin. Ia tidak hanya mengubah metode mengajarnya sendiri, tetapi juga mempresentasikan modul pembelajaran berbasis alam tersebut kepada guru-guru lain. Ia membuktikan bahwa keterbatasan buku teks bisa dikompensasi dengan kelimpahan teks kontekstual di alam sekitar. Selain itu, pembelajaran tersebut bisa berkolaborasi dengan mata pelajaran lain seperti IPS, Matematika, maupun PJOK.

Kedua, setiap program memiliki penanggungjawab yang berbeda tidak bertumpu pada satu orang. Berdasarkan reviu KSP dan suara murid terhadap sekolah, terwujudlah beberapa program unggulan. Sering kali, sekolah hanya mengandalkan segelintir orang yang dianggap paling rajin untuk memegang semua program. Hal ini memicu kelelahan dan membuat warga sekolah lainnya merasa tidak berdaya, tidak dilibatkan, bahkan apatis terhadap program sekolah. Inilah wujud kepemimpinan pembelajaran untuk mencegah dominasi dan kelelahan (bornout). Ketika seseorang hanya menerima perintah, mereka bekerja sebagai pelaksana tugas. Berbeda halnya ketika mereka ditunjuk sebagai penanggung jawab program, mereka memiliki otonomi untuk merancang, mengeksekusi, dan mengevaluasi. Kepercayaan inilah yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa memiliki (rasa handarbeni); mereka akan merasa keberhasilan atau kegagalan program tersebut adalah representasi dari diri mereka sendiri. Setiap individu memiliki pendekatan, bakat, dan kreativitas yang berbeda. Menurut James Spillane, distributed leadership bukan berarti pemimpin (kepala sekolah) melepas tanggung jawab, melainkan menyebarkan praktik kepemimpinan itu sendiri ke seluruh jaringan interaksi di dalam sekolah. Dengan penanggung jawab yang beragam, sekolah akan memiliki program-program yang kaya akan inovasi. 

Ketiga, membangun kemitraan dengan pihak eksternal baik pemerintah, instansi lain, komunitas, maupun masyarakat. Salah satu bentuk kepemimpinan guru meluas hingga ke ranah sosial-ekologis. Masalah air yang sering mati bukan hanya mengganggu sanitasi, tetapi juga konsentrasi belajar murid. Ekosistem akan hidup dan saling melengkapi tatkala air benar-benar menjadi sumber kehidupan. Dari data yang saya himpun, air sering mati karena pipa saluran dari sumber mengalami kerusakan. Tentunya, ini harus segera diselesaikan. Sementara itu, fasilitas kamar mandi murid masih terbatas dari jumlah total 178 murid SD dan SMP hanya ada empat toilet, sedangkan kamar mandi guru ada satu. Kondisi kebersihan kamar mandi kurang terjaga bukan murid malas membersihkan, tetapi ketiadaan air. Sarana sarana cuci tangan juga belum tersedia padahal, ada menu MBG. Tidak hanya itu, tanaman dan lahan pangan sekolah pun mati karena jarang disiram. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana visi sekolah untuk menciptakan delapan profil lulusan dapat tercapai? Oleh karena itu, pengadaan infrastruktur air bersih yang terjamin secara kualitas dan kuantitas bukan sekadar pelengkap sarana fisik, melainkan bentuk pemenuhan hak dasar anak atas lingkungan belajar yang layak dan aman. Di sinilah peran guru pemimpin melampaui tugas mengajar.  

Pentingnya aspek ini diperkuat oleh Peneliti Riset Bidang Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, Prof. Sri Irianti, menekankan bahwa integrasi layanan WASH yang adekuat di lingkungan sekolah berperan signifikan sebagai intervensi kesehatan berbasis pencegahan untuk menekan angka kesakitan (morbiditas) serta membina Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sejak dini. Dengan demikian, komitmen pemerintah dan pihak sekolah dalam merealisasikan infrastruktur air bersih menjadi investasi jangka panjang yang sangat krusial bagi pencapaian mutu pendidikan dan kualitas generasi mendatang.

Pemenuhan sarana air dilakukan dengan koordinasi dengan kepala dusun dan kepala desa. Inilah wujud kemitraan sesungguhnya di mana seluruh elemen berkolaborasi untuk mewujudkan sekolah nyaman. Seperti penjelasan Slamet PH bahwa Manajemen Berbasis Sekolah tidak akan berjalan tanpa adanya pergeseran paradigma dari pendekatan sentralistik menjadi desentralisasi. Agar sekolah berhasil, harus ditumbuhkan "rasa kepunyaan". Masyarakat sekolah (guru, staf, orang tua, dan tokoh masyarakat) didorong untuk memiliki tanggung jawab moral, sosial, dan intelektual secara bersama-sama terhadap mutu pendidikan. Tanpa rasa kepemilikan bersama, MBS hanya akan menjadi beban administratif belaka. 

Keempat, keteladanan mutlak diperlukan sebagai bentuk handarbeni dan empati. Bapak Pendidikan Nasional Indonesia menempatkan keteladanan sebagai hukum pertama dalam trilogi kepemimpinan pendidikan. "Ing Ngarso Sung Tulodo" berarti di depan (seorang pemimpin) harus mampu memberikan teladan atau contoh yang baik. Dalam konteks sekolah, kepala sekolah tidak hanya memberikan instruksi, tetapi perilakunya (kedisiplinan, tutur kata, dedikasi, dan etika) menjadi kurikulum tersembunyi yang diamati dan ditiru oleh guru, staf, dan murid. Keteladanan ini tidak diucapkan, melainkan diwujudkan secara konsisten dalam keseharian. Saya juga ikut turun langsung memeriksa pipa air, memastikan persiapan pelaksanaan program sudah siap agar program berjalan lancar, memberikan apresiasi sebagai wujud empati dan ketulusan.  

Baca Juga : Wali Kota Blitar Serahkan Santunan JKM kepada Ahli Waris Tukang Becak dan Juru Kunci Makam di Sukorejo 

 

Kelima, pemenuhan sarana utama pendukung pembelajaran. Apakah sarana itu gedung megah? Ternyata, unsur utama penunjang pembelajaran fokus pada buku. Selain memanfaatkan buku pemerintah melalui Sibi Kemendikdasmen, kami mengirimkan surat permohonan hibah buku ke sekolah besar. Meskipun belum seluruh buku terpenuhi, setidaknya sebagian besar murid bisa menikmati baca buku di rumah untuk menambah pengetahuan.

 

Penutup

Menjadi kepala sekolah bukanlah pilihan, nyatanya jabatan yang memilih kita. Semua kembali ke diri pribadi masing-masing dalam manajemen kepemimpinan dan menjalankan amanah tersebut. Banyak pelajaran dari pengalaman dua bulan ini tentang hakikat sejati pendidikan. Kemegahan gedung, kelengkapan sarana prasarana memang bisa mempercepat proses pembelajaran, tetapi itu benda mati yang tidak memiliki jiwa.

Ruh sekolah terletak pada sumber daya manusia. Keberhasilan kepemimpinan sebagai kepala sekolah tidak diukur dari kecepatan membangun gedung baru, tetapi keberhasilan mengubah cara pandang dari mengeluh menjadi memimpin. 

Ketika berhasil menumbuhkan jiwa kepemimpinan guru, kita sedang menyalakan cahaya di ruang-ruang kelas. Meskipun sekolah berada di lereng gunung terpencil dan minim sarana, cahaya kepemimpinan guru akan tetap menerangi untuk mengusir kebodohan. Tugas kepala sekolah adalah menjaga agar cahaya itu tetap berkobar, memastikan bahwa dari sekolah ini akan lahir generasi emas pemimpin bangsa masa depan.

 

Daftar Pustaka

Irianti, S., & Yuniar, Y. (2018). Ketersediaan sarana sanitasi air bersih dan fasilitas cuci tangan di sekolah dasar Indonesia. Jurnal Ekologi Kesehatan, 17(3), 162–173. https://doi.org/10.22435/jek.v17i3.738

Katzenmeyer, M., & Moller, G. 2009. Awakening the Learner Within: Making a Difference in Every Classroom. Corwin Press.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 2022. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Muijs, D., & Harris, A. 2003. Teacher Leadership—Improvement through Empowerment? An Overview of the Literature. Educational Management & Administration, 31(4), 437-448.

Slamet, P.H. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

UNICEF, & World Health Organization. (2020). Core questions and indicators for monitoring WASH in schools in the Sustainable Development Goals. World Health Organization & United Nations Children’s Fund.

World Health Organization, & UNICEF. (2021). Progress on WASH in schools 2000–2020: Five years into the SDGs. World Health Organization.

 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Diah Erna Triningsih

Editor

Redaksi

Opini

Artikel terkait di Opini

--- Iklan Sponsor ---