free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Pendidikan

Empat Kampus Satukan Agenda, ICASSE 2026 Bahas Arah Baru Pendidikan IPS di Tengah Disrupsi AI

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

24 - Jul - 2026, 19:18

Loading Placeholder
Empat perguruan tinggi berkolaborasi membangun forum akademik bersama melalui 2nd International Conference on Applied Social Science in Education (ICASSE) 2026 (ist)

JATIMTIMES – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar mengubah metode belajar, tetapi mulai menggeser paradigma pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Di tengah perubahan tersebut, empat perguruan tinggi memilih membangun forum akademik bersama melalui 2nd International Conference on Applied Social Science in Education (ICASSE) 2026 yang berlangsung pada 24 hingga 25 Juli 2026 secara hybrid.

Konferensi ini merupakan kolaborasi Universitas PGRI Kanjuruhan (Unikama) Malang, Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), STKIP Pasundan, dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Tema yang diusung, Reimagining Social Studies Education in the Digital Era: Artificial Intelligence, Character Education, and Local Values for Global Citizenship, menempatkan AI, pendidikan karakter, dan nilai lokal sebagai tiga isu utama yang dinilai akan menentukan wajah pendidikan di masa depan.

Baca Juga : Daftar Negara ASEAN dengan Usia Harapan Hidup Tertinggi 2026: Singapura Nomor 1, Indonesia Peringkat Berapa?

Ketua Panitia, Dr. Yuli Ifana Sari, M.Pd., mengatakan ICASSE dirancang bukan hanya sebagai ruang presentasi hasil penelitian, tetapi sebagai forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi pendidikan, hingga para pemangku kepentingan untuk menyusun arah pengembangan pendidikan sosial yang lebih relevan terhadap perubahan zaman.

2

Menurutnya, pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak cukup dipahami dari sisi teknologi semata. Pengembangannya juga harus dibarengi dengan penguatan karakter, pelestarian nilai budaya lokal, serta kolaborasi antarlembaga pendidikan yang mampu melahirkan riset bersama, publikasi ilmiah, hingga inovasi pembelajaran.

"Konferensi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi platform akademik yang melahirkan publikasi bersama, riset kolaboratif, serta inovasi pendidikan yang berkelanjutan," ujarnya.

Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., menilai transformasi digital telah memaksa dunia pendidikan melakukan penyesuaian secara cepat. Dalam konteks tersebut, pendidikan IPS memiliki fungsi strategis karena tidak hanya membekali peserta didik dengan kemampuan memahami perkembangan teknologi, tetapi juga membangun kesadaran sosial, etika, dan nilai kemanusiaan.

Ia memandang forum internasional seperti ICASSE menjadi instrumen penting untuk memperkuat jejaring akademik lintas negara. "Ini sekaligus mempertemukan berbagai perspektif mengenai pengembangan pendidikan di era digital," paparnya.

Pandangan serupa disampaikan Rektor Universitas PGRI Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Paiman, M.P. Menurutnya, AI telah mengubah pola pembelajaran secara fundamental sehingga membutuhkan pendekatan baru dalam pendidikan. Namun, perubahan tersebut tidak boleh mengikis pendidikan karakter maupun identitas budaya yang menjadi fondasi pembentukan generasi masa depan.

Ia menegaskan bahwa nilai lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan modal untuk membangun warga global yang tetap memiliki identitas nasional. Karena itu, AI perlu diposisikan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti nilai-nilai yang membentuk karakter manusia.

Baca Juga : Gandeng Jatim, Disperindag Kabupaten Tulungagung Gelar Kurasi Promosi Dagang Daerah Tahun 2026

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Assoc. Prof. Saefurrohman, Ph.D., menyoroti derasnya arus informasi digital yang muncul bersamaan dengan perkembangan AI dan media sosial. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat kemampuan berpikir kritis menjadi kompetensi yang semakin penting dimiliki peserta didik.

Kemampuan memverifikasi informasi, membedakan fakta dan opini, serta menjaga integritas dinilai menjadi tantangan yang tidak dapat diselesaikan oleh teknologi semata. Pendidikan, kata dia, tetap memegang peran utama dalam membangun empati, tanggung jawab sosial, dan etika bermasyarakat.

Perspektif itu diperkuat Ketua STKIP Pasundan, Prof. Dr. Dedi Supriadi, M.Pd., AIFO. Ia mengingatkan bahwa kemudahan akses informasi memang membuka peluang besar bagi dunia pendidikan, tetapi pada saat yang sama berpotensi melemahkan karakter apabila tidak diimbangi dengan penguatan nilai kemanusiaan dan kearifan lokal.

Selain menghadirkan diskusi akademik, ICASSE 2026 juga diisi pemaparan empat keynote speaker internasional, yakni Hasliza ABD Halim, Ph.D. dari Universiti Utara Malaysia, Ravinesh Rohit Prasad, Ph.D. dari Fiji National University, Dr. Joanna Tan Tjin Ai dari Universiti Tunku Abdul Rahman, serta Antonius Nico Suryadi, S.Pd., Grad.Dip.TESOL, MBA, Senior Education Consultant. Agenda konferensi mencakup diskusi pleno, presentasi paralel, forum kerja sama akademik, kompetisi mahasiswa internasional, hingga publikasi hasil riset dalam prosiding ilmiah.

Kolaborasi empat perguruan tinggi tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak cukup dijawab dengan adopsi teknologi. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan institusi pendidikan menjaga keseimbangan antara inovasi digital, penguatan karakter, dan pelestarian nilai lokal agar tetap relevan dalam dinamika masyarakat global.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan

--- Iklan Sponsor ---