JATIMTIMES – Ancaman krisis air baku di Kota Batu disebut menunjukkan sinyal bahaya. Perumda Air Minum (Perumdam) Among Tirto Kota Batu mencatat penurunan rata-rata debit mata air mencapai 20 persen sepanjang dua tahun terakhir.
Anjloknya ketersediaan air tanah ini dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan konservasi serta praktik eksploitasi air baku skala besar di kawasan hulu.
Pakar Hukum Lingkungan Universitas Widyagama Malang, Purnawan Dwikora Negara, mengungkapkan bahwa secara historis pada dekade 1990-an, kawasan catchment area Sungai Brantas menyimpan sekitar 500 titik mata air yang mayoritas berada di Kota Batu. Namun, angka tersebut terus merosot drastis.
Dalam dokumen Peraturan Daerah (Perda) lama Kota Batu, jumlah titik mata air yang terdata hanya tersisa 111 lokasi. Dari jumlah yang kian terbatas itu, kondisi alirannya pun makin memprihatinkan.
"Dari 111 titik mata air yang terdata di Perda lama itu, hampir separuhnya atau sekitar 50 titik alirannya terus mengecil dari tahun ke tahun," ujar Purnawan, belum lama ini.
Pria yang akrab disapa Pupung itu menilai, hilangnya kawasan vegetasi hijau akibat alih fungsi lahan tata ruang membuat daya resap tanah terhadap air hujan menurun drastis. Tak hanya itu, penyedotan air bawah tanah secara agresif di kawasan hulu, seperti di Kecamatan Bumiaji, kian memperparah keadaan.
Aktivitas penyedotan ini tidak hanya dilakukan oleh korporasi, tetapi juga pada sektor pertanian modal besar. Pemasangan mesin pompa berdaya tinggi yang dihubungkan dengan instalasi pipa paralon hingga kilometeran dari dasar sumber air langsung menarik pasokan ke atas ladang.
"Panjang pipa penyedot air tersebut dibentangkan dari dasar hingga kilometeran jaraknya. Eksploitasi secara agresif di kawasan atas ini pada akhirnya memicu ketimpangan pasokan. Saat cadangan di bawah terkuras, kawasan dan ladang di bagian hilir otomatis kehabisan suplai," beber Pupung.
Baca Juga : Sebut Wartawan Londo Ireng, AJI Minta Prabowo Minta Maaf
Merespons kondisi tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menegaskan bahwa Pemkot terus memutahirkan pemetaan sumber daya air. Berdasarkan data terbaru Bidang SDA Dinas PUPR Kota Batu, saat ini tercatat ada 157 titik sumber mata air yang dijadikan acuan resmi.
Kendati demikian, Dian mengakui tekanan terhadap ekosistem air baku sangat berat akibat laju pertumbuhan penduduk, masifnya pembangunan infrastruktur pariwisata, serta tingginya alokasi irigasi.
Di tengah ancaman kuantitas air yang terus menyusut, Dian menyampaikan bahwa Indeks Kualitas Air (IKA) di Kota Batu masih dalam kondisi relatif baik.
"Khusus untuk Indeks Kualitas Air kita sekarang berada di poin 71,60 setelah sempat terpuruk di poin 63 pada tahun 2023. Capaian ini masih mempertahankan Kota Batu dengan kualitas air tertinggi di Jawa Timur," pungkasnya.