JATIMTIMES - Upaya mencegah dan angka stunting di Kabupaten Jember, terus disosialisasikan oleh Bupati di berbagai kesempatan, termasuk saat menggelar Apel Siswa pada program Bunga Desaku di Kecamatan Pakusari yang digelar pada Senin 20 Juli 2026.
Di depan ratusan siswa SMP se-Kecamatan Pakusari, Bupati Jember Dr. Muhammad Fawait SE. MSc., mengajak siswa untuk menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi, dan tidak menikah sebelum cukup umur.
Baca Juga : Wamenag Apresiasi Tradisi Juara OSN MAN 2 Kota Malang, Bukti Madrasah Berdaya Saing Nasional
“Adik-adik semua, harus memiliki pendidikan yang tinggi dan jangan menikah dulu sebelum cukup umur. Kalau belum cukup umur menikah, nanti kalau punya anak, anaknya akan stunting. Ini ada dokter Nyoman, Direktur Rumah Sakit Soebandi. Ayo dok, jelaskan ke anak-anak, berapa usia perempuan yang siap menikah dan hamil,” ujar Bupati sambil meminta dokter Nyoman berdiri dan menjelaskan kepada seluruh peserta Apel Siswa yang digelar di SMP Negeri 1 Pakusari.
Di depan seluruh peserta Apel, dokter Nyoman menjelaskan, bahwa idealnya bagi perempuan yang siap hamil, adalah minimal di usia 21 tahun dan maksimal di usia 35 tahun.
Untuk memastikan siswa di SMP di Kecamatan Pakusari tidak menikah dini, Bupati pun melakukan dialog dengan siswa, dan menanyakan cita-citanya. Melihat antusiasme peserta apel yang menyampaikan cita-citanya, Bupati pun mendoakan, semoga semua cita-cita siswa di SMP Pakusari bisa terwujud.
Ada yang unik saat Bupati memanggil 3 siswa laki-laki untuk maju. Seperti biasa, Bupati memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa yang dipanggil. Salah satu siswa yang berasal dari SMP swasta, saat ditanya kapan menikah oleh Bupati Jember, dijawab akan menikah saat usia 20 tahun.
“Sekarang umur berapa kamu,” tanya Bupati yang dijawab, bahwa siswa tersebut berumur 13 tahun.
“Kalau nikah di usia 20 tahun, punya anaknya nanti ya, kalau sudah 21 tahun. Terus akan punya anak umur berapa?” lanjut Gus Fawait. Siswa pun menjawab akan punya anak saat usia 24 tahun.
Baca Juga : Tak Berhenti pada Santunan, BPJS Ketenagakerjaan Dorong Ahli Waris Mandiri lewat Program PEKA
Tak ayal dialog ini pun membawa suasana lebih hidup di Apel Siswa tersebut.
Bupati sendiri menyampaikan, bahwa ada kalanya komunikasi antara pimpinan dalam hal ini Bupati dengan rakyatnya, tidak hanya melalui komunikasi formal. Melainkan juga dengan bertemu langsung, dan dialog yang santai, masyarakat akan memahami dan lebih mengerti.
Termasuk dengan adanya program Bunga Desaku yang digelar di sejumlah kecamatan secara bergiliran setiap bulannya.
“Memang untuk membangun komunikasi yang baik, antara pemerintah dengan masyarakat, tidak selalu menggunakan bahasa formal seperti surat menyurat. Tapi dengan bertemu langsung, dan dialog, masyarakat akan merasa dekat. Karena bertemu secara langsung ini, adalah bentuk perhatian pemerintah kepada warganya, termasuk berkomunikasi yang santai dan menghibur seperti saat ini,” pungkas Bupati. (*)