JATIMTIMES - Kebiasaan minum langsung dari kemasan kaleng tanpa membersihkan bagian mulut kaleng terlebih dahulu masih sering dilakukan banyak orang. Padahal, permukaan kaleng yang tampak bersih belum tentu bebas dari bakteri maupun kotoran yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Melalui sebuah video edukasi yang diunggah di media sosial, komunikator sains Andrea Novita menunjukkan hasil uji sederhana terhadap dua minuman kaleng yang dibeli di pasaran. Bagian bibir kaleng diusap menggunakan kapas steril, kemudian sampel tersebut ditumbuhkan pada media agar untuk melihat ada tidaknya mikroorganisme.
Baca Juga : Soroti Manajemen ASN, Komisi A DPRD Jatim Pertanyakan Kebijakan BKD soal Beban Kerja Guru
Hasilnya menunjukkan permukaan kaleng dipenuhi koloni bakteri dengan bentuk dan ukuran yang beragam. “Ternyata bakteri yang tumbuh banyak sekali. Ada yang ukurannya besar, kecil, bahkan bentuknya bermacam-macam,” kata Andrea.
Kemudian Andrea melakukan percobaan pembanding dengan membersihkan permukaan mulut kaleng menggunakan tisu basah sebelum dilakukan pengambilan sampel. Setelah diinkubasi, jumlah bakteri yang tumbuh terlihat jauh lebih sedikit dibandingkan kaleng yang tidak dibersihkan.
Menurut Andrea, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kemasan minuman selama proses distribusi bisa saja terpapar debu, kotoran, maupun berbagai mikroorganisme sebelum sampai ke tangan konsumen.
“Kalau bagian mulut kaleng yang kotor itu langsung menyentuh bibir kita, bakteri yang menempel berpotensi ikut masuk ke dalam tubuh,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa risiko pada kemasan kaleng bukan hanya berasal dari bakteri. Dalam kondisi tertentu, permukaan kaleng juga dapat terkontaminasi urine tikus apabila penyimpanan atau distribusinya tidak higienis.
“Selain bakteri, ada risiko lain yang lebih serius. Pernah ada kasus seseorang sakit parah setelah minum dari kaleng yang ternyata terkontaminasi urine tikus. Karena itu, aspek keamanan pangan atau food safety tidak boleh dianggap sepele,” tambahnya.
Menurutnya minuman kaleng melewati rantai distribusi yang panjang, mulai dari gudang penyimpanan, proses pengiriman, hingga dipajang di toko. Selama proses tersebut, permukaan kemasan dapat terpapar berbagai kontaminan sehingga kebersihannya belum tentu terjamin.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat membiasakan membersihkan bagian atas kaleng menggunakan tisu basah atau air mengalir sebelum diminum. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu mengurangi risiko paparan bakteri dan kotoran yang menempel pada kemasan.
“Biasakan membersihkan permukaan kaleng sebelum diminum. Kebiasaan kecil ini bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keamanan pangan dan mengurangi risiko kontaminasi,” tutup Andrea.