JATIMTIMES – Perubahan nama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya menjadi Fakultas Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (FSTeM) mulai menunjukkan dampak positif. Meski masih berada dalam masa adaptasi, perubahan identitas tersebut dinilai perlahan berhasil mengubah cara pandang masyarakat terhadap prospek lulusan dan arah pengembangan fakultas.
Dekan FSTeM UB, Prof. Ir. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D., mengungkapkan respons positif itu diperolehnya saat berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan di luar lingkungan kampus. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi lain telah mengetahui perubahan nama tersebut dan menilai langkah yang diambil UB sudah tepat.
Baca Juga : Bandara Dhoho Jadi Embarkasi Haji 2027, Khusnul Arif: Pemda Harus Jemput Multiplier Effect
"Dengan adanya perubahan nama fakultas, perubahan mindset itu memang sedikit demi sedikit sudah mulai kelihatan. Ketika saya bertemu dengan berbagai stakeholder dan beberapa perguruan tinggi di luar UB, mereka ternyata sudah mengetahui perubahan nama kami dan memberikan tanggapan yang positif," ujarnya, Sabtu, (4/7/2026).
Menurut Sukir, selama ini masyarakat masih memiliki persepsi bahwa lulusan fakultas berbasis MIPA identik dengan profesi guru atau dosen. Padahal, perkembangan keilmuan saat ini telah melahirkan banyak bidang terapan yang membutuhkan identitas lebih luas daripada sekadar MIPA.
Ia mengatakan penggunaan nama STEM menjadi bagian dari upaya mengubah paradigma tersebut agar masyarakat memahami bahwa lulusan FSTeM memiliki peluang karier yang jauh lebih beragam, mulai sektor industri, teknologi, rekayasa, riset hingga inovasi.
"Ketika saya menjelaskan bahwa tujuan perubahan nama ini adalah mengubah mindset masyarakat yang selama ini menganggap masuk MIPA hanya menjadi guru dan dosen, mereka justru membenarkan. Bahkan ada yang mengatakan memang sudah saatnya menggunakan nama STEM," katanya.
Sukir menjelaskan perubahan nama juga didasarkan pada perkembangan akademik di lingkungan fakultas. Menurutnya, wadah FMIPA sudah tidak lagi mampu merepresentasikan keseluruhan program studi yang kini berkembang pesat ke arah ilmu terapan.
"Wadah MIPA sudah tidak cukup karena di fakultas kami saat ini terdapat program studi yang bersifat teoretis maupun program studi aplikasi. Dengan nama STEM, ruang pengembangan menjadi jauh lebih luas," jelasnya.
Baca Juga : Rel yang Menyatukan Hindia: Sejarah Jaringan Kereta Api Kolonial 1867-1928
Ia menambahkan, penerimaan positif dari berbagai pihak menjadi sinyal bahwa transformasi identitas FSTeM mulai dipahami masyarakat. Meski demikian, fakultas masih akan terus memantau perkembangan respons publik sebagai bagian dari proses adaptasi.
"Kami memang masih dalam tahap transformasi dan terus melihat bagaimana respons masyarakat ke depan. Tetapi sejauh ini sambutannya positif dan mereka satu visi bahwa penggunaan nama STEM memang lebih relevan dengan perkembangan pendidikan saat ini," tuturnya.
Perubahan identitas tersebut juga diikuti dengan penyusunan berbagai kebijakan baru, termasuk melalui uji publik Peraturan Dekan mengenai Unit Layanan Terpadu. Menurut Sukir, transformasi FSTeM tidak hanya berhenti pada pergantian nama, tetapi juga dibarengi pembenahan tata kelola dan pelayanan agar sejalan dengan semangat baru fakultas.
"Kami ingin membawa FSTeM melaju lebih cepat, tetapi tetap menjaga standar pelayanan kepada masyarakat. Perubahan nama harus diikuti perubahan kualitas layanan dan cara kerja, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh stakeholder," pungkasnya.