JATIMTIMES - Dalam sejarah Islam, hanya sedikit manusia yang mendapat kemuliaan berbicara dengan Allah. Rasulullah Muhammad SAW dan Nabi Musa 'alaihissalam dikenal dengan kemuliaan tersebut. Namun, terdapat satu sosok yang bukan nabi maupun rasul, tetapi memperoleh anugerah luar biasa berupa dialog langsung dengan Allah tanpa perantara. Keistimewaan itu diberikan kepada sahabat Nabi, Abdullah bin Amr bin Haram radhiyallahu 'anhu.
Kisah ini menjadi salah satu bukti tentang tingginya derajat orang yang mengorbankan jiwa dan raganya di jalan Allah. Rasulullah SAW sendiri yang menyampaikan kabar tersebut kepada putra Abdullah, Jabir bin Abdullah, setelah Perang Uhud berakhir.
Baca Juga : Temui Bupati Malang, PLN UP3 Bahas Listrik Andal hingga Dukung Investasi Daerah
Abdullah bin Amr bin Haram merupakan tokoh terkemuka dari kabilah Khazraj di Madinah. Ia termasuk kelompok Anshar yang hadir dalam Baiat Aqabah, peristiwa penting yang menjadi fondasi berdirinya masyarakat Islam di Madinah. Sebelum berbaiat, para tokoh Madinah merahasiakan pertemuan itu dari kaum musyrikin. Abdullah kemudian menerima dakwah Islam dan menjadi salah satu pemimpin yang berdiri di barisan Rasulullah SAW.
Kesetiaannya tidak berhenti pada ikrar. Ia turut berjuang dalam Perang Badar, lalu kembali mengangkat senjata ketika kaum Quraisy menyerbu Madinah pada Perang Uhud. Menjelang keberangkatan, Abdullah telah merasakan firasat bahwa dirinya akan gugur sebagai syahid.
Ia berpesan kepada putranya, Jabir, agar menjaga saudara-saudaranya dengan baik apabila dirinya tidak kembali dari medan perang. Wasiat itu menjadi bukti bahwa perjuangan di jalan Allah tidak membuatnya melupakan tanggung jawab terhadap keluarga.
Di Perang Uhud, firasat tersebut menjadi kenyataan. Abdullah bin Amr bin Haram syahid setelah mempertahankan Islam. Ketika Jabir melihat jasad ayahnya, ia tidak mampu membendung air mata. Rasulullah SAW tidak melarang kesedihan itu, tetapi beliau menghibur keluarga Abdullah dengan kabar yang menenangkan hati.
Rasulullah bersabda: "Dia menangisinya ataupun tidak, para malaikat tetap menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkat jenazahnya." (HR. Al Bukhari No. 1244).
Kemuliaan Abdullah tidak berhenti pada syahadahnya. Saat Rasulullah bertemu Jabir yang bersedih karena ayahnya wafat dengan meninggalkan utang dan keluarga, beliau menyampaikan kabar yang belum pernah dialami manusia biasa.
Rasulullah bersabda, "Maukah aku menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang apa yang Allah lakukan terhadap ayahmu? Sesungguhnya Allah tidak pernah berbicara kepada seorang pun dari makhluk-Nya kecuali dari balik hijab. Akan tetapi Allah menghidupkan ayahmu, lalu berbicara kepadanya secara langsung tanpa hijab." (HR. Ibnu Majah).
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa Allah berfirman kepada Abdullah, "Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku apa saja yang engkau inginkan, niscaya akan Aku berikan."
Baca Juga : Di Sumberjambe, Bupati Jember Komitmen Tingkatkan Mutu Layanan Kesehatan Lewat Program UHC
Abdullah menjawab bahwa dirinya ingin dikembalikan ke dunia agar dapat kembali berjihad dan gugur sekali lagi di jalan Allah. Namun Allah berfirman bahwa ketetapan-Nya telah berlaku, yakni orang yang telah meninggal tidak akan dikembalikan lagi ke kehidupan dunia.
Peristiwa itu menunjukkan betapa agungnya kedudukan seorang syahid di sisi Allah. Keistimewaan berdialog langsung dengan Sang Pencipta merupakan kemuliaan yang tidak dimiliki sembarang hamba.
Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah tidak dapat dipandang sebagai orang mati. Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan memperoleh rezeki." (QS. :169).
Kisah Abdullah bin Amr bin Haram bukan sekadar catatan sejarah tentang seorang syuhada. Sosoknya menjadi teladan mengenai keikhlasan, keberanian, serta keyakinan bahwa pengorbanan di jalan Allah tidak pernah berakhir dengan kematian. Justru di sisi-Nya, kematian seorang mukmin yang ikhlas menjadi awal dari kemuliaan yang tidak dapat diukur dengan kehidupan dunia.