JATIMTIMES – Pemerintah Kota Blitar terus memperluas ruang tumbuh ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Langkah itu ditandai dengan pembukaan Soekarno Coffee Festival 2026 di Pelataran Kantor Wali Kota Blitar, Jumat (26/6/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga Minggu (28/6/2026) tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno sekaligus etalase penguatan industri kopi lokal.
Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau yang akrab disapa Mas Ibin membuka langsung kegiatan tersebut. Festival ini menghadirkan 30 peserta, terdiri atas 16 tenant brand lokal Kota Blitar, 4 tenant coffee truck Kota Blitar, 5 tenant brand dari Kabupaten Blitar, serta 5 tenant brand dari luar Blitar Raya.
Baca Juga : Viral Konsumen BBM Diduga Pukul Petugas SPBU di Turen, gegara Barcode Subsidi
Dengan mengusung tema “Jang Lokal Jang Vokal”, Soekarno Coffee Festival 2026 diarahkan bukan hanya sebagai ajang promosi produk, melainkan juga ruang kolaborasi antara petani kopi, pelaku UMKM, pemilik kedai, roaster, barista, komunitas, dan masyarakat penikmat kopi.

Kopi, Bung Karno dan Ekonomi Berdikari
Dalam sambutannya, Mas Ibin menegaskan bahwa Soekarno Coffee Festival memiliki makna penting karena digelar dalam rangkaian Bulan Bung Karno. Menurut dia, Juni menjadi bulan istimewa karena memuat tiga momentum besar, yakni Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, hari lahir Bung Karno pada 6 Juni, dan hari wafat Bung Karno pada 21 Juni.
“Bulan Bung Karno bukan sekadar momentum mengenang sejarah, tetapi juga meneladani semangat nasionalisme, berdikari, dan pengabdian kepada bangsa,” kata Mas Ibin.
Ia menyebut festival kopi ini menjadi salah satu cara Pemerintah Kota Blitar menghidupkan kembali gagasan Trisakti, khususnya berdikari di bidang ekonomi. Bung Karno, kata dia, dikenal sebagai penikmat kopi tubruk. Semangat itu kemudian diterjemahkan dalam gerakan ekonomi lokal melalui penguatan produk kopi dan UMKM.
“Event ini bukan sekadar festival. Ini bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno untuk menghidupkan kembali gagasan Trisakti, khususnya berdikari dalam bidang ekonomi,” ujarnya.
Mas Ibin mengatakan, kopi dan produk lokal harus menjadi penggerak ekonomi rakyat. Pemerintah, lanjut dia, memiliki tugas menciptakan iklim usaha yang sehat agar kedai kopi, pelaku UMKM, dan anak-anak muda yang bergerak di sektor kreatif bisa tumbuh lebih cepat.

Ruang Kolaborasi Pelaku Kopi
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Blitar, Parminto, dalam laporannya menyampaikan bahwa pertumbuhan coffee shop di Kota Blitar terus meningkat dari tahun ke tahun. Fenomena itu menjadi tanda kuatnya sektor ekonomi kreatif, terutama di kalangan anak muda.
Menurut Parminto, dukungan pemerintah diperlukan agar pertumbuhan usaha kopi tidak berhenti pada tren, tetapi berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang lebih kuat. Festival ini, kata dia, menjadi ruang promosi sekaligus kolaborasi antara pemerintah, pemangku kepentingan, dan pelaku usaha kopi dari hulu hingga hilir.
“Penyelenggaraan Soekarno Coffee Festival dimaksudkan untuk mempertemukan pelaku usaha industri kopi di Blitar Raya maupun daerah lainnya,” kata Parminto.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari promosi investasi daerah. Melalui festival ini, produk, usaha, dan brand kopi dapat dipresentasikan secara lebih luas agar memiliki daya saing yang lebih kuat dan kompetitif di sektor ekonomi kreatif.
Selain menghadirkan tenant kopi, festival ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan, seperti coffee competition, acoustic session, talkshow, diskusi, bar take over, public coffee cupping, serta pertunjukan tari dan penampilan band lokal. Penyelenggaraan kegiatan ini turut didukung oleh sejumlah mitra, di antaranya Bank Jatim dan Biznet.

UMKM Naik Kelas
Mas Ibin menilai Soekarno Coffee Festival dapat memberi dampak langsung terhadap perekonomian lokal. Festival ini menjadi ruang bertemu bagi petani kopi, pelaku UMKM, pengelola kedai, roaster, barista, dan konsumen.
“Festival ini menjadi ruang promosi dan kolaborasi bagi petani kopi, pelaku UMKM, pengelola kedai kopi, dan barista lokal. Melalui kegiatan ini, kita memperluas pasar, meningkatkan daya saing produk lokal, serta menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja,” kata Mas Ibin.
Menurut dia, pertumbuhan kedai kopi di Kota Blitar menunjukkan bahwa ekonomi kreatif daerah terus bergerak. Pemerintah Kota Blitar ingin memastikan geliat itu mendapat dukungan yang tepat, baik melalui promosi, fasilitasi, maupun penguatan ekosistem usaha.
Mas Ibin berharap pelaku usaha kopi lokal tidak hanya berkembang di Kota Blitar, tetapi juga mampu memperluas pasar ke tingkat nasional bahkan internasional.
Baca Juga : Cek Bansos tapi Nama Tak Muncul? Ini 5 Penyebab yang Paling Sering Terjadi
“Kita berharap dengan event seperti ini, kopi-kopi lokal di Blitar dan pengusaha kopinya berkembang pesat. Warungnya bisa tambah banyak, tambah ramai, bisa menjadi franchise, sehingga nanti bisa go nasional dan internasional,” ujarnya.
Ia mencontohkan, saat ini ada brand kopi nasional yang mampu berkembang hingga memiliki banyak cabang di luar negeri. Mas Ibin berharap semangat serupa dapat tumbuh dari Kota Blitar.
“Saya berharap dari Kota Blitar ini nanti ada anak-anak muda kita yang bisa seperti itu. Event seperti ini untuk memberikan semangat kepada pengusaha muda kita supaya bisnisnya bisa membawa nama Kota Blitar ke mancanegara,” katanya.

Kota Sejarah, Kota Kreatif
Pemerintah Kota Blitar, kata Mas Ibin, terus memperkuat posisi daerah sebagai kota sejarah sekaligus kota kreatif. Soekarno Coffee Festival menjadi salah satu instrumen untuk mempromosikan potensi daerah, mendorong UMKM naik kelas, serta menggerakkan ekonomi masyarakat.
Mas Ibin juga melihat perkembangan kafe dan warung kopi di Kota Blitar sebagai peluang membangun identitas baru. Menurut dia, suasana Kota Blitar pada malam hari kini semakin hidup, salah satunya karena tumbuhnya UMKM dan usaha kopi.
“Hari ini kalau kita keliling malam-malam, Kota Blitar sudah sangat ramai. Hampir sebagian besar adalah UMKM, dan sebagian besar lagi UMKM-nya adalah warung kopi. Saya kira ini bagus,” ujarnya.
Ia menilai ruang-ruang nongkrong anak muda juga dapat menjadi tempat lahirnya gagasan positif. Di kedai kopi, anak-anak muda berdiskusi, membangun jejaring, dan memikirkan masa depan.
“Di tempat anak-anak muda nongkrong, di situlah banyak berdiskusi, banyak ngobrol memikirkan masa depan dirinya, masa depan masyarakat, ataupun masa depan bangsa,” kata Mas Ibin.
Mas Ibin bahkan menyebut Kota Blitar memiliki potensi untuk membangun identitas sebagai kota kopi. Selain memiliki keterikatan historis dengan Bung Karno, Kota Blitar juga berada di posisi yang strategis sebagai daerah sentral.
"Dari mana pun Anda berasal, ngopinya di Kota Blitar. Saya kira itu bisa menjadi tagline Kota Blitar ke depan," ujar Mas Ibin.
Mas Ibin menegaskan, secangkir kopi adalah simbol kolaborasi. Kopi yang nikmat tidak lahir dari satu tangan, tetapi dari kerja bersama petani, roaster, barista, hingga pelaku usaha. Filosofi itu, kata dia, sejalan dengan pembangunan Kota Blitar.
“Tidak ada kopi yang nikmat tanpa racikan yang pas antara petani, sangrai, dan barista. Begitu pula dengan pembangunan Kota Blitar, tidak akan ada kemajuan tanpa sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat,” kata Mas Ibin.
Ia mengajak masyarakat dan pengunjung untuk meramaikan Soekarno Coffee Festival 2026, membeli produk UMKM lokal, serta menunjukkan bahwa produk Bumi Bung Karno memiliki kualitas yang mampu bersaing lebih luas.
“Produk-produk lokal harus menjadi tuan rumah di daerah sendiri dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” tegasnya.