JATIMTIMES - Kisah Nabi Daud Alaihissalam menjadi salah satu peristiwa yang kerap dikaitkan dengan bulan Muharram. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa pada tanggal 10 Muharram, Allah SWT menerima tobat Nabi Daud setelah melalui penyesalan dan munajat yang sangat panjang atas kesalahan yang pernah diperbuatnya.
Dalam buku 'Mengungkap Rahasia Shalat' karya Syamsuddin Noor dijelaskan bahwa Nabi Daud bukan hanya seorang nabi, tetapi juga seorang raja yang memimpin kaumnya. Di tengah kedudukannya yang mulia, beliau pernah diuji dengan keinginan untuk memperistri seorang perempuan yang telah bersuami.
Baca Juga : Di Selamatan Akbar Haul Bung Karno, Wali Kota Blitar Ajak Lanjutkan Api Perjuangan Sang Proklamator
Saat itu Nabi Daud telah memiliki 99 istri. Namun, beliau berkeinginan menjadikan jumlahnya genap menjadi 100 dengan menikahi seorang perempuan yang merupakan istri seorang petani. Sebagai seorang raja, keinginannya sulit ditolak oleh rakyatnya.
Ketika permintaan itu disampaikan, sang petani mencoba mengungkapkan keberatannya. "Mengapa baginda meminta istri saya? Padahal, istri baginda telah berjumlah 99," ujar petani tersebut.
Nabi Daud kemudian menjawab, "Hai Pak Tani, sesungguhnya saya ingin mencukupkan istri-istri saya menjadi 100."
Meski berat hati, petani itu tidak memiliki kekuatan untuk menolak kehendak rajanya. Dalam hatinya, ia merasa sedih dan tidak rela harus berpisah dengan istrinya. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi bagian dari ujian yang Allah berikan kepada Nabi Daud.
Allah SWT lalu menunjukkan kekeliruan tersebut melalui cara yang penuh hikmah. Pada suatu malam, dua malaikat diutus ke istana Nabi Daud dengan menyamar sebagai dua orang lelaki yang sedang berselisih dan meminta keputusan hukum.
Salah seorang di antara mereka mengadukan persoalannya kepada sang raja.
"Kami ini dua orang yang berselisih. Saudaraku ini mempunyai 99 ekor biri-biri dan aku hanya mempunyai seekor. Ia berkata kepadaku, 'Berikanlah biri-biri milikmu ini kepadaku, akan kupelihara bersama biri-biriku yang lain.' Aku menolak, tetapi ia pandai berbicara sehingga aku dikalahkannya," kata lelaki itu.
Mendengar pengaduan tersebut, Nabi Daud segera memberikan penilaian.
"Sungguh, saudaramu itu telah berbuat aniaya karena meminta biri-biri milikmu yang hanya seekor," ujar Nabi Daud.
Sesaat setelah mengucapkan keputusan itu, beliau menyadari bahwa perkara yang dibawa kedua lelaki tersebut merupakan perumpamaan atas dirinya sendiri. Dua orang yang datang menghadap ternyata adalah malaikat yang diutus Allah untuk mengingatkannya bahwa keinginannya terhadap istri sang petani merupakan tindakan yang tidak adil.
Baca Juga : Munas dan Konbes NU 2026 Resmi Dibuka, Serukan Penguatan Khidmah Jam'iyah untuk Umat
Kesadaran itu membuat Nabi Daud sangat menyesal. Beliau segera memohon ampun kepada Allah SWT dan bersujud dengan penuh kerendahan hati. Dalam berbagai riwayat disebutkan, sujud tobat tersebut berlangsung sangat lama.
Muhammad bin Ka'ab Al-Qurizi meriwayatkan bahwa Nabi Daud bersujud selama 40 hari dan 40 malam. Beliau tidak bangkit dari sujudnya kecuali untuk menunaikan salat wajib atau memenuhi kebutuhan yang benar-benar mendesak.
Sementara itu, Muhammad bin Nashr Al-Maruzi dalam kitab Ta'zhimur Qodrish Sholah menyebutkan bahwa Nabi Daud menangis terus-menerus hingga air matanya mengering karena rasa takut kepada Allah. Lamanya sujud juga membuat kedua lutut beliau memar.
Penyesalan yang mendalam itu lahir dari kekhawatiran bahwa Allah tidak akan mengampuni kesalahannya. Hingga kemudian Allah SWT mewahyukan kepadanya agar mengangkat kepala dari sujud.
"Hai Daud, Aku telah mengampuni kesalahanmu," demikian firman Allah sebagaimana disebutkan dalam riwayat.
Meski telah mendapatkan kabar ampunan, Nabi Daud masih tetap menundukkan diri dalam sujudnya hingga akhirnya Malaikat Jibril datang menyampaikan berita tersebut kepadanya. Kisah ini kemudian dikenang sebagai salah satu pelajaran tentang pentingnya keadilan, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam bertobat kepada Allah SWT, yang diyakini diterima pada 10 Muharram.