JATIMTIMES - Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah tinggal menghitung hari. Di sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren dan warga Nahdlatul Ulama (NU), terdapat berbagai amalan yang dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Muharam. Di antaranya adalah tradisi meminum susu putih dan menulis lafaz basmalah pada malam 1 Muharram.
Tradisi tersebut bukan sekadar rutinitas turun-temurun. Sejumlah ulama menjelaskan bahwa amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk doa dan harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan, keselamatan, serta semangat untuk meningkatkan amal kebaikan.
Baca Juga : Kejurnas Tenis Beregu Piala Ketua MA RI 2026 Resmi Dibuka di Malang, Diikuti Lebih dari Seribu Atlet
Dilansir dari NU Online, pengasuh Pesantren Al Husna Bukit Rajawali Pringsewu, Lampung, KH Abdul Hamid, menjelaskan bahwa minum susu putih pada momen Tahun Baru Hijriah dimaknai sebagai simbol kesucian dan kebersihan hati dalam mengawali lembaran baru kehidupan.
Menurut Hamid, warna putih pada susu menjadi pengingat agar umat Islam menjadikan tahun yang baru sebagai momentum memperbaiki diri.
"Minum susu pada tahun baru ini sekaligus sebagai sebuah harapan dan doa agar sepanjang tahun dijadikan tahun yang putih, tahun yang bersih, dan tahun melakukan kebaikan-kebaikan," jelasnya.
Saat minum susu, umat Islam juga dianjurkan membaca doa sebagai bentuk permohonan keberkahan kepada Allah SWT.
ُاَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْه
Artinya: "Ya Allah, berkahilah minuman kami dan tambahkanlah darinya (rezeki) pada kami."
Selain dimaknai secara simbolis, Hamid juga menjelaskan bahwa susu memiliki banyak manfaat, baik dari sisi agama maupun kesehatan.
Ia menyebutkan bahwa susu merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang sangat bermanfaat, khususnya bagi tumbuh kembang anak.
"Dari sisi kesehatan pun susu memiliki banyak keutamaan seperti menumbuh kembangkan pertumbuhan anak, mencukupi dan mengenyangkan kebutuhan makan minum anak, tidak bikin perut anak mules," ungkapnya.
Kiai Hamid juga mengaitkan keutamaan susu dengan peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah SAW memilih susu ketika Malaikat Jibril menawarkan dua pilihan minuman.
"Saat Isra' Mi'raj, susu adalah pilihan Rasulullah saw yakni saat Malaikat Jibril menyuguhkan khamr dan susu. Dan susu adalah tanda kefitrahan umat Rasulullah saw," imbuhnya.
Selain minum susu, sebagian kalangan pesantren juga menjalankan tradisi menulis lafaz basmalah sebanyak 113 kali pada malam 1 Muharram.
Pengasuh Pesantren Al Husna Bukit Rajawali Pringsewu itu mengungkapkan bahwa amalan tersebut dilakukan sebagai ikhtiar batin untuk memohon perlindungan dan keberkahan kepada Allah SWT.
Baca Juga : BI Malang Ungkap Penjualan Eceran Anjlok pada Mei 2026, Daya Beli Warga Mulai Melemah?
Penulisan basmalah dilakukan menggunakan tulisan Arab pada kertas polos. Waktunya dimulai setelah Magrib atau sejak munculnya hilal bulan Muharram dan diselesaikan sebelum azan Magrib pada keesokan harinya.
Para santri yang menjalankan amalan tersebut dianjurkan berada dalam keadaan suci, baik dari hadas kecil maupun hadas besar. Mereka juga diminta menghadap kiblat dan menjaga kekhusyukan selama proses penulisan berlangsung.
Saat menulis, para santri tidak diperkenankan berbicara dengan orang lain. Amalan itu diniatkan untuk daf'ul bala' atau memohon dijauhkan dari musibah, tahshin sebagai benteng perlindungan diri, serta jalbul manafi' untuk memperoleh berbagai kebaikan.
Semua itu dilakukan sebagai bentuk tabarruk atau mengambil keberkahan dari ayat-ayat Al-Qur'an dan kemuliaan bulan Muharram sebagai salah satu bulan istimewa dalam Islam.
Tradisi menulis basmalah juga memiliki adab tersendiri sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
Dalam kitab Hasyiyah Tafsir al-Baidhawi jilid pertama halaman 45, Syekh Muhyiddin Zadah mengutip riwayat Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengenai tata cara menulis basmalah sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Qur'an.
Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa ketika menulis lafaz بسم الله, hendaknya huruf ba' (ب) ditulis dengan lebih panjang, huruf sin (س) diperjelas bentuk giginya, serta huruf mim (م) dibuat bulat dengan lubang yang tampak.
Anjuran itu dipahami sebagai salah satu bentuk adab dalam memuliakan kalam Allah SWT.
Tradisi menyambut malam 1 Muharram sejatinya menjadi sarana introspeksi dan memperbanyak doa agar tahun yang baru membawa keberkahan.
Namun, umat Islam juga perlu memahami bahwa berbagai amalan tersebut bersifat sebagai bentuk ikhtiar dan pengharapan kepada Allah SWT. Keyakinan bahwa manfaat maupun perlindungan berasal dari amalan itu sendiri perlu dihindari.
Pada akhirnya, baik minum susu putih maupun menulis basmalah dapat menjadi bagian dari tradisi yang memperkaya khazanah Islam Nusantara, selama tetap dilandasi niat beribadah serta keyakinan bahwa segala kebaikan dan pertolongan hanya datang dari Allah SWT. Semoga informasi ini bermanfaat.