free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Setum Tlekung, Cerobong Kuno Peninggalan Belanda di Kota Batu Simpan Sejarah Tiga Zaman

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

31 - May - 2026, 18:09

Loading Placeholder
Setum merupakan cerobong tua yang menjulang di tengah area pertanian Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Cerobong tua yang menjulang di tengah area pertanian Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah kawasan tersebut. Bangunan yang dikenal masyarakat dengan sebutan Setum itu diyakini telah berdiri sejak masa kolonial dan masih bertahan kokoh hingga saat ini.

Keberadaan Setum Tlekung kini tak hanya menjadi penanda masa lalu, tetapi juga berkembang sebagai salah satu ikon wisata sejarah di Desa Tlekung. Warga dan pemerintah desa terus berupaya menjaga bangunan bersejarah tersebut agar tetap lestari dan dikenal generasi muda.

Baca Juga : Gus Iqdam Pengajian Akbar di Malang, Bakal Doakan Korban Tragedi Kanjuruhan

Kepala Desa Tlekung, Mardi, mengatakan Setum memiliki nilai historis yang sangat penting karena melewati berbagai periode pemerintahan, mulai dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga Indonesia merdeka.

“Setum ini menjadi saksi perjalanan sejarah di Desa Tlekung. Dari zaman Belanda, Jepang, hingga Indonesia merdeka, bangunan ini masih tetap berdiri dan menjadi bagian penting dari identitas desa kami,” kata Mardi.

Cerita yang berkembang di masyarakat, kawasan di sekitar Setum pada masa kolonial Belanda diduga menjadi lokasi pabrik barang pecah belah. Dugaan tersebut muncul setelah ditemukan bekas bangunan ruangan luas di bawah cerobong yang kini telah tertimbun tanah dan berubah menjadi lahan pertanian.

Menurut Mardi, cerobong tersebut dipercaya berfungsi sebagai tempat pembakaran kaolin, yakni bahan baku utama dalam pembuatan keramik dan berbagai peralatan pecah belah.

“Dulu, cerobong tersebut diyakini digunakan sebagai tempat pembakaran kaolin, bahan utama pembuatan keramik dan peralatan pecah belah,” imbuh Mardi.

Sejumlah temuan lain juga memperkuat dugaan tersebut. Salah satunya berasal dari cerita warga yang mengaku pernah menemukan tulisan “Anno” saat memanjat hingga ke bagian atas cerobong.

Istilah tersebut digunakan pada bangunan era kolonial untuk menunjukkan tahun pendirian. Tak hanya itu, di sekitar lokasi juga ditemukan sejumlah peluru berukuran besar yang diduga berasal dari masa konflik pada era penjajahan.

Baca Juga : Cara Membuat Twibbon Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, Bisa lewat HP hingga ChatGPT

Memasuki masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, fungsi Setum disebut mengalami perubahan. Cerobong itu dimanfaatkan sebagai bagian dari pabrik penyamakan kulit yang mendukung kebutuhan militer Jepang saat perang berlangsung.

Kulit hewan yang diproses di lokasi tersebut diduga digunakan untuk memproduksi berbagai perlengkapan tentara, mulai dari sepatu lars, ikat pinggang hingga tas logistik.

“Jadi, dulu Setum ini bukan sekadar cerobong biasa. Ada sejarah besar yang pernah terjadi di sini. Karena itu sekarang kami berupaya menjaga dan mengenalkannya kepada generasi muda,” tambah Mardi.

Kini, setelah aktivitas industri lama tak lagi berlangsung, Setum justru hadir dengan peran baru sebagai destinasi wisata berbasis sejarah. Pemerintah desa berharap bangunan tersebut bisa terus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus pengingat perjalanan panjang Desa Tlekung dan Kota Batu.

“Kami berharap keberadaan cerobong kuno tersebut dapat terus dilestarikan sekaligus menjadi pengingat perjalanan panjang Desa Tlekung dan Kota Batu di masa lalu,” harap Mardi.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---