JATIMTIMES – Momentum Hari Raya Iduladha selalu identik dengan limpahan konsumsi daging sapi maupun kambing di tengah masyarakat. Namun, di balik kelezatan hidangan khas lebaran kurban tersebut, terdapat ancaman gangguan kesehatan yang serius jika proses pengolahannya keliru.
Kesalahan dalam memasak justru berisiko mengubah bahan pangan bergizi ini menjadi pemicu penyakit kronis. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mengingatkan bahwa pada dasarnya daging merah memiliki kandungan gizi yang sangat baik bagi tubuh, asalkan dikonsumsi pada bagian yang minim lemak.
Baca Juga : Iduladha 1447 H: MAN Kota Batu Salurkan Daging Kurban untuk Siswa Prasejahtera dan Warga Sekitar Madrasah
“Yang sering kali membuat daging kurban ini menjadi tidak baik untuk kesehatan jantung kita adalah cara memasaknya," ujar Sekretaris Dinkes Kota Batu, Yuni Astuti, Jumat (29/5/2026).
Yuni menjelaskan, kesalahan paling umum di masyarakat adalah mengolah daging kurban menjadi masakan bersantan pekat atau menggunakan kecap dan saus secara berlebihan. Hidangan populer seperti gulai, tongseng, atau semur memang menggugah selera, namun menyimpan risiko besar bagi tubuh.
Kombinasi bahan tambahan seperti kecap nyatanya memiliki kadar natrium yang sangat tinggi. Asupan natrium atau garam yang melonjak drastis inilah yang menjadi motor utama penggerak naiknya tekanan darah serta memicu gangguan kardiovaskular pada organ jantung.
“Kecap itu sebenarnya tinggi natrium, dan natrium yang tinggi itu tidak bagus untuk tekanan darah," jelas Yuni.
Pihaknya berharap dapat meluruskan salah kaprah medis yang berkembang di lingkungan warga. Dinkes menegaskan bahwa komoditas daging itu sendiri tidak serta-merta memicu lonjakan tekanan darah atau kolesterol jahat secara drastis. Guna menekan risiko tersebut, otoritas kesehatan merilis tiga metode memasak paling aman bagi masyarakat, yakni direbus, dikukus, dan dipanggang.
Metode merebus menjadi cara paling efektif untuk mematangkan daging sekaligus melunakkan tekstur serat tanpa menyumbang kalori berlebih. Sementara itu, teknik mengukus dinilai paling manjur untuk menjaga keaslian nutrisi serta kandungan protein yang ada di dalam daging merah.
Baca Juga : Penyakit Jantung Rematik Mengintai Anak, 300 Siswa SD di Kota Batu Jalani Skrining untuk Deteksi Dini
Bagi warga yang memilih opsi memanggang, penggunaan wajan teflon dengan minyak berkualitas seperti minyak kelapa atau minyak zaitun sangat direkomendasikan. Namun, bagi pencinta menu sate atau bakaran tradisional, Dinkes memberikan atensi dan peringatan yang keras.
Proses pembakaran daging menggunakan arang sangat rawan menghasilkan bagian yang gosong atau menghitam akibat paparan api langsung. Bagian gosong pada makanan tersebut terbukti secara klinis mengandung senyawa aktif yang berbahaya bagi sel tubuh manusia.
"Dibakar boleh, tapi tidak boleh sampai gosong. Bagian yang hitam atau gosong itu mengandung zat karsinogenik yang bisa memicu penyakit kanker," tandas dia.