free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ekonomi

Rupiah Sama-Sama Melemah, Begini Beda Respons Presiden Prabowo dan SBY

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

17 - May - 2026, 14:42

Loading Placeholder
Viral lagi, pidato Presiden Ke-6 SBY saat merespons rupiah melemah pada 2013 lalu. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah menjadi sorotan publik. Di tengah kurs dolar yang menembus Rp17.600, pernyataan Presiden Prabowo Subianto dibanding-bandingkan dengan respons Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono saat rupiah melemah pada 2013 silam.

Perbedaan cara keduanya merespons kondisi ekonomi pun ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial.

Baca Juga : DPRD Kabupaten Blitar Dukung Penguatan Koperasi Merah Putih, Dorong Kemandirian Ekonomi Desa

Diketahui saat ini, nilai tukar dolar AS berada jauh di atas asumsi kurs dalam APBN 2026 yang dipatok di angka Rp16.500 per dolar AS. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran soal dampaknya terhadap harga barang, impor, hingga daya beli masyarakat.

Namun Presiden Prabowo menilai pelemahan rupiah belum terlalu berdampak langsung bagi mayoritas masyarakat, khususnya warga di daerah yang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadi, saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pake dolar, kok,” kata Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5).

Menurut Prabowo, di tengah tekanan ekonomi global yang juga dirasakan banyak negara lain, kondisi Indonesia masih relatif aman dan stabil. “Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” ucap Prabowo.

Pernyataan tersebut berbeda dengan sikap yang pernah ditunjukkan SBY saat rupiah melemah pada 2013. Kala itu, kurs rupiah bergerak dari kisaran Rp11.600 ke Rp11.700 per dolar AS.

Dalam pidatonya pada 27 November 2013, SBY justru meminta seluruh pihak mewaspadai dampak buruk dari gejolak ekonomi global. Ia menilai pelemahan rupiah menjadi sinyal serius yang harus dihadapi dengan realistis.

“Bad news-nya, rupiah melemah,” ujar SBY kala itu.

SBY juga menyebut Indonesia kemungkinan memasuki “new equilibrium” atau keseimbangan baru dalam kondisi ekonomi nasional. Ia mengakui sejumlah indikator ekonomi sedang mengalami tekanan, mulai dari pelemahan harga saham hingga defisit perdagangan. “Saya duga kita akan memiliki new equilibrium, normal baru,” kata SBY.

Ia menjelaskan pemerintah saat itu sudah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi impor dan mendorong ekspor melalui berbagai insentif fiskal dan kebijakan ekonomi.

Baca Juga : Jomber Curva Nord Kenalkan Presiden Baru PSID Jombang

“Kesimpulannya, kesimpulan dari situasi ekonomi kita dan dunia, ekonomi Indonesia tahun ini dan tahun depan tidak mudah,” lanjutnya.

SBY bahkan menegaskan dirinya lebih memilih berbicara jujur mengenai kondisi ekonomi ketimbang memberikan harapan berlebihan kepada masyarakat.

“Saya lebih baik bicara seperti itu, daripada suka mengalirkan angin surga,” ungkapnya.

Perbedaan respons dua presiden ini kini menjadi bahan perbincangan publik. Unggahan soal respons SBY terkait pelemahan rupiah bahkan dilihat dan dikomentari hingga 598 ribu pengguna Instagram. Banyak warganet yang miris dengan pernyataan Presiden Prabowo soal hal ini. 

"'orang desa ga pake dollar' KOK BISA INI KELUAR DARI MULUT PRESIDEN," @ordinary.*****. 

"Kok yang ini pidato nya lebih bijak, lebih kristis, lebin paham baca data dan lebih ke sewajarnya Seorang presiden yaa. ?? Kok beda yaa," @ard****. 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi

--- Iklan Sponsor ---