JATIMTIMES - Musim panas yang terasa lebih terik, cuaca semakin kering, hingga berkurangnya pasokan air sering membuat banyak orang langsung mengaitkannya dengan El Nino. Padahal, El Nino dan musim kemarau sebenarnya merupakan dua fenomena yang berbeda. Keduanya memang saling berkaitan, tetapi memiliki penyebab dan karakteristik yang tidak sama.
Belakangan ini, istilah El Nino kembali ramai dibahas seiring prediksi musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Karena itu, penting bagi masyarakat memahami perbedaan kemarau dan El Nino agar bisa lebih siap menghadapi dampaknya.
Baca Juga : Ramalan Keuangan Zodiak Selasa 12 Mei 2026: Peluang Rezeki Aries Terbuka, Gemini Diminta Lebih Hemat
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, musim kemarau merupakan siklus cuaca yang datang setiap tahun. Sementara itu, El Nino adalah fenomena iklim yang terjadi secara periodik dan dapat memperparah kekeringan di sejumlah wilayah.
Perbedaan Kemarau dan El Nino
1. Pengertian Kemarau
Kemarau adalah kondisi iklim normal yang terjadi secara musiman di Indonesia. Musim ini hadir setiap tahun akibat pengaruh angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia.
Ciri-ciri musim kemarau antara lain:
• Terjadi rutin setiap tahun
• Bersifat musiman
• Dipengaruhi angin monsun Australia
• Curah hujan cenderung menurun
2. Pengertian El Nino
El Nino merupakan anomali atau penyimpangan iklim yang terjadi akibat meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.
Fenomena ini tidak terjadi setiap tahun, melainkan muncul secara berkala sekitar 3 hingga 7 tahun sekali. Saat El Nino terjadi, musim kemarau di Indonesia biasanya menjadi lebih panjang dan lebih kering.
Ciri-ciri El Nino:
• Termasuk anomali iklim
• Terjadi periodik setiap 3-7 tahun
• Dipicu kenaikan suhu laut di Samudra Pasifik
• Bisa memperparah kekeringan
Dampak Kemarau Lebih Kering
Ketika musim kemarau berlangsung lebih kering akibat pengaruh El Nino, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Beberapa dampak yang dapat terjadi antara lain:
• Persediaan air bersih menurun
• Polusi udara meningkat
• Risiko kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi
• Produksi listrik tenaga air menurun
• Ancaman gagal panen akibat kekeringan
Meski begitu, kondisi cuaca kering juga membawa beberapa keuntungan, seperti:
- Produksi garam berkualitas tinggi meningkat
- Kualitas hasil hortikultura menjadi lebih baik
- Proyek infrastruktur lebih lancar karena minim hujan
- Produksi listrik tenaga surya meningkat
Tips Menghadapi Kemarau dan El Nino
Agar dampak musim kemarau dan El Nino bisa diminimalkan, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah berikut:
• Menghemat penggunaan air
• Tidak membakar sampah atau lahan sembarangan
• Memilih tanaman yang tahan kekeringan
• Menampung air hujan sebagai cadangan
• Menjaga kesehatan dengan cukup minum dan memakai masker saat udara berdebu
Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, La Nina lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026.
Baca Juga : Niat Puasa Dzulhijjah 2026 dan Keutamaannya, Pahalanya Setara Puasa Setahun
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April hingga Juni 2026. Wilayah Nusa Tenggara menjadi daerah yang lebih dulu mengalami musim kemarau sebelum meluas ke daerah lainnya. Selain itu:
• Musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal di banyak wilayah
• Curah hujan diprediksi lebih rendah dari normal
• Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026
• Sebagian wilayah diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dibanding biasanya.
Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama terkait ketersediaan air bersih dan potensi kebakaran hutan saat cuaca semakin kering.