JATIMTIMES - Pedagang Pasar Gadang yang direlokasi ke lokasi baru mengaku lebih nyaman berjualan dibandingkan di tempat sebelumnya. Meski demikian, proses adaptasi masih berlangsung sehingga omzet pedagang disebut sementara mengalami penurunan.
Koordinator Pembangunan Pasar Gadang, Abdul Khodir, mengatakan mayoritas pedagang mendukung proses relokasi karena sejak awal menginginkan tempat berjualan yang lebih layak. “Kalau pada umumnya pedagang, semua pedagang itu senang semua. Enggak ada yang mengeluh,” ujar Khodir saat ditemui, Kamis (7/5/2026).
Baca Juga : Pansus DPRD Surabaya Usulkan Normalisasi Drainase Gunakan Dakel
Menurutnya, tidak ada unsur paksaan dalam proses perpindahan pedagang ke lokasi baru. Justru para pedagang sejak lama berharap dipindahkan dari lokasi lama yang dinilai semrawut dan menyebabkan kemacetan. “Kalau dari dulu ya pedagang kepinginnya segera dipindah tapi tempatnya yang layak. Karena di sana jalannya macet, interaksi sama pedagang sama pembeli itu enggak maksimal,” katanya.
Dari sisi fasilitas, kondisi pasar baru disebut jauh lebih nyaman. Pedagang kini menempati bangunan permanen dengan lingkungan yang lebih bersih dibandingkan lokasi lama yang becek dan kumuh. “Ya nyaman di sini. Kalau dulu becek, kumuh, sekarang sudah bagus, permanen,” imbuhnya.
Meski demikian, Khodir mengakui jumlah pembeli masih belum stabil. Banyak pelanggan lama disebut masih belum mengetahui lokasi baru para pedagang sehingga aktivitas jual beli belum sepenuhnya pulih. “Kalau pembelinya masih semburat, masalah parkirannya belum tertata rapi, jalannya belum maksimal,” jelasnya.
Ia optimistis kondisi tersebut hanya sementara. Apalagi pembangunan akses jalan dan penataan parkir masih terus diselesaikan agar aktivitas pasar lebih tertata dan mudah dijangkau masyarakat. “Mungkin nanti kalau sudah jalannya selesai, parkiran masuk semua, insyaallah lancar-lancar senang,” katanya.
Baca Juga : Bupati Malang Tinjau Pemindahan Pembangunan Alun-Alun di Kawasan Stadion Kanjuruhan
Sementara itu, terkait pembangunan pasar, Khodir menjelaskan bahwa seluruh proses dilakukan secara swadaya oleh para pedagang. Namun ia menegaskan tidak ada jual beli lapak kepada pihak luar.
Menurutnya, pedagang yang sudah memiliki hak lapak tetap mendapatkan tempat tanpa dipungut biaya. Sementara tambahan lapak diambil oleh pedagang lain melalui kesepakatan bersama untuk membantu biaya pembangunan. “Enggak ada pemaksaan, sukarela,” tegasnya.