JATIMTIMES - Komunitas berbasis cerita dan ruang aman untuk berbagi pengalaman kini mulai tumbuh di Kota Malang. Salah satunya adalah Cerita Jagiya, sebuah komunitas yang menghadirkan konsep unik dengan menggabungkan storytelling dan public speaking dalam suasana santai namun bermakna.
Komunitas ini berdiri sejak Juli 2025, berangkat dari keresahan akan budaya literasi di Indonesia. Founder Cerita Jagiya, Andy Mahmudi Uzair Efendi, mencoba menawarkan pendekatan berbeda melalui literasi tutur yang lebih dekat dengan kultur masyarakat.
Baca Juga : Grand Opening Gantangan Wijaya Kusuma Hadirkan Lomba Burung, Jadi Ajang Silaturahmi Kicau Mania
“Awalnya saya ingin mengecek apakah budaya tutur di Indonesia, khususnya di Malang, masih punya semangat literasi. Karena ada asumsi bahwa literasi tulis-baca kurang cocok dengan kultur kita, jadi saya ingin melihat apakah literasi tutur justru lebih relevan,” kata Andy, Minggu (3/5/2026).
Nama “Cerita Jagiya” sendiri memiliki makna filosofis. “Jagiya” merupakan singkatan dari “JAdi GIni ceritanYA” dan juga terinspirasi dari slang bahasa Korea “chagiya” yang berarti sayang. Konsep ini diusung agar setiap orang yang bergabung merasa diterima, bebas bercerita, dan tetap dihargai sebagai dirinya sendiri.
Dalam setiap pertemuannya, lanjut Andy juga dibantu oleh empat relawan dari mahasiswa. Sejak berdiri, tercatat sebanyak 53 orang sudah bergabung dalam grup WhatsApp komunitas dan pernah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan.
Cerita Jagiya menghadirkan dua jenis kegiatan utama, yakni storytelling club dan speaking club. Pada storytelling club, peserta diajak mengikuti kegiatan seperti “Cerita di Atas Tikar”, yakni piknik di taman kawasan Kota Malamg sambil berbagi cerita bersama peserta lain yang sebagian besar belum saling mengenal.
Selain itu, ada pula kegiatan tematik seperti “Buka dan Bercerita” saat Ramadan, “Silaturahmi, Cerita Sini” setelah Lebaran, hingga “Cerita & Motret Bareng” yang menggabungkan sesi berbagi cerita dengan latihan street photography.
Sementara itu, speaking club difokuskan pada pengembangan kemampuan berbicara di depan umum. Kegiatan yang dilakukan di antaranya “Open Mic sambil Refleksi”, “Belajar Bersua(ra)”, dan “Fun Presentation Night”.
Dalam sesi ini, peserta tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga belajar menyusun materi, tampil berbicara di depan audiens, serta mendapatkan evaluasi.
“Kami ingin membuat kegiatan yang tanpa disadari bisa meningkatkan kemampuan storytelling dan public speaking. Tapi di sisi lain, kami juga ingin menciptakan ruang yang membuat orang lebih nyaman menjadi dirinya sendiri dan berani bertemu orang baru,” jelas Andy.
Kegiatan komunitas ini rutin diadakan setiap akhir pekan, dengan frekuensi sekitar dua minggu sekali. Lokasi kegiatan menyesuaikan dengan jenis acara, di mana storytelling club biasanya berlangsung di taman atau ruang publik, sedangkan speaking club digelar di kafe.
Baca Juga : Ratusan Kicau Mania Antusias Perebutkan Piala Disparbud Kabupaten Malang di Gantangan Wijaya Kusuma Dau
Setiap pertemuan dikemas interaktif dan santai. Untuk storytelling club, kegiatan meliputi piknik bersama, sesi curhat atau berbagi cerita, permainan ringan seperti outbound, hingga networking antar peserta.
Sedangkan dalam speaking club, peserta mengikuti sesi penulisan materi, praktik berbicara satu per satu, serta evaluasi terhadap cara penyampaian cerita.
Dari sisi peserta, komunitas ini menyasar kalangan mahasiswa hingga pekerja muda, bahkan terdapat peserta berusia di atas 30 tahun.
Menurutnya anggota komunitas berasal dan berdomisili di Malang. “Kebanyakan mahasiswa atau yang sudah bekerja usianya sampai 30 ke atas,” imbuh warga Kelurahan sawojajar ini.
Anggota yang tergabung memang sengaja bukan kalangan anak-anak, segmentasi ini dipilih karena materi yang dibahas dalam sesi berbagi cerita kerap menyentuh hal-hal personal dan sensitif, sehingga kurang cocok untuk anak-anak.
Hadirnya Cerita Jagiya menjadi warna baru dalam ruang komunitas di Malang, sekaligus menjadi wadah alternatif bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan komunikasi sekaligus membangun koneksi sosial yang lebih luas.