JATIMTIMES - Setiap tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh internasional, momen dimana seluruh dunia menyoroti kondisi para pekerja yang kerap berada di posisi rentan.
Dalam Islam, kerja keras harus diiringi dengan sistem yang adil, baik dalam pemberian upah maupun perlindungan hak-hak pekerja.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Pon 1 Mei 2026: Finansial Naik Turun
Khutbah Jumat kali ini mengangkat pentingnya keadilan dalam hubungan kerja sebagai bagian dari nilai luhur ajaran Islam. Upah yang layak, perlindungan terhadap tenaga kerja, serta kesejahteraan yang manusiawi adalah bagian dari prinsip keadilan yang diajarkan agama.
Melalui tema ini, umat Islam diajak untuk kembali memahami bahwa memperjuangkan hak buruh merupakan wujud menjalankan nilai-nilai keadilan dalam Islam. Dengan demikian, hubungan antara pekerja dan pemberi kerja dapat berjalan secara lebih adil, harmonis, dan penuh tanggung jawab.
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَ أَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Hadirin jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Segala puji hanya milik Allah SWT, Dzat yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kita, sehingga pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan menunaikan ibadah salat Jumat dalam keadaan sehat.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, sosok mulia yang telah menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia, juga kepada keluarga, sahabat, tabi’in, serta para ulama yang terus melanjutkan perjuangan dakwah hingga saat ini.
Khatib mengingatkan diri pribadi dan seluruh jemaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kehidupan ini berakhir kecuali dalam keadaan beriman kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 102:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Hadirin jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Momen ini menjadi pengingat atas peran para pekerja yang selama ini menopang roda perekonomian, namun tidak jarang masih berada dalam posisi yang kurang beruntung.
Dalam realitas sosial, masih banyak buruh yang bekerja dalam kondisi terbatas, menerima upah yang minim, serta belum mendapatkan perlindungan yang layak. Bahkan, ketimpangan dalam hubungan kerja kerap terjadi, sehingga menimbulkan ketidakadilan.
Padahal, Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat. Islam tidak hanya menghargai kerja keras, tetapi juga menuntut terciptanya sistem sosial yang adil, seimbang, dan melindungi pihak yang lemah dari berbagai bentuk kezaliman.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 90:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”
Dari ayat ini disimpulkan bahwa keadilan tidak hanya dianjurkan, melainkan perintah dalam Islam. Ketika dalam praktiknya terdapat ketimpangan, di mana keuntungan besar hanya dinikmati sebagian pihak, sementara pekerja hanya menerima bagian minimal, maka kondisi tersebut belum mencerminkan nilai keadilan yang diajarkan Islam.
Hadirin jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Di tengah kondisi tersebut, Islam hadir dengan tuntunan yang menjunjung tinggi hak-hak pekerja. Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap perlakuan yang adil dan manusiawi kepada para pekerja. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan:
عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
Baca Juga : Orang Tua Paksa Balita Ngamen di Stadion Kanjuruhan, Diduga Eksploitasi Anak sejak Bayi
Artinya: "Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasululllah saw bersabda: 'Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya mengering.'" (HR. Ibnu Majah)
Pesan ini menunjukkan betapa Islam sangat menghargai kerja dan menekankan pentingnya pemenuhan hak pekerja secara tepat waktu. Lebih dari itu, hadits ini juga mengandung makna luas, bahwa sistem ketenagakerjaan harus dibangun di atas prinsip keadilan, kesejahteraan, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Hadirin jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Dalam praktiknya, sistem ekonomi modern kerap lebih berpihak kepada pemilik modal dibandingkan pekerja. Bahkan, tidak sedikit kebijakan yang justru melemahkan posisi buruh. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama, terutama bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan, untuk terus menyuarakan nilai-nilai keadilan sosial sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hadid ayat 25:
لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ
Artinya: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca agar manusia dapat berlaku adil.”
Para ulama, termasuk Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa kata “الْمِيْزَانَ” dalam ayat ini bermakna keadilan yang harus ditegakkan dalam kehidupan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya para rasul adalah menegakkan keadilan di tengah masyarakat.
Hadirin jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Peringatan Hari Buruh ini adalah momen untuk kembali mengingat bahwa kerja keras para buruh harus disertai penghormatan terhadap hak dan martabatnya. Kesabaran dan rasa syukur tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam ketidakadilan. Dalam ajaran Islam, membiarkan kezaliman sama halnya dengan ikut membenarkannya.
Mari kita bersama-sama mendoakan para pekerja agar senantiasa diberikan kekuatan dan mendapatkan hak yang layak. Sekaligus, mari terus mengingatkan diri sendiri, masyarakat, serta para pemangku kebijakan agar tidak mengabaikan prinsip keadilan sosial yang menjadi ajaran utama dalam Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Aamiin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْالْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَىالنَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِالْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ