free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Agama

Empat Nabi dalam Perdebatan Abadi, Antara Keyakinan Langit dan Tafsir yang Tak Pernah Usai

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

26 - Apr - 2026, 10:15

Loading Placeholder
Ilustrasi tentang nabi-nabi yang diyakini masih hidup hingga kini kerap muncul dalam khazanah keislaman (ist)

JATIMTIMES - Perbincangan tentang nabi-nabi yang diyakini masih hidup hingga kini kerap muncul dalam khazanah keislaman. Tema ini tidak hanya menarik, tetapi juga membuka ruang tafsir yang luas di kalangan ulama. 

Sebagian berpegang pada dalil Al-Qur’an dan hadis, sementara lainnya menekankan kehati-hatian karena adanya riwayat yang lemah. Di tengah perbedaan itu, ada empat nama yang paling sering disebut dalam literatur klasik maupun pembahasan modern.

Baca Juga : Rekomendasi Film Bioskop Terbaru Akhir Pekan: Horor hingga Drama Penuh Emosi

Sosok pertama yang paling banyak dibicarakan adalah Nabi Isa AS. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 55, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku.” Ayat ini menjadi titik perdebatan, khususnya pada frasa yang bermakna “mewafatkan dan mengangkat.” 

Sebagian mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Isa diangkat dalam keadaan hidup, dengan ruh dan jasadnya, setelah Allah menidurkannya. Keyakinan ini diperkuat oleh hadis-hadis tentang turunnya kembali Nabi Isa menjelang hari kiamat. Namun, ada pula ulama yang memahami ayat tersebut sebagai wafatnya Nabi Isa secara sempurna, sebagaimana nabi-nabi lain.

Selain Nabi Isa, Nabi Idris AS juga sering disebut sebagai nabi yang masih hidup. Al-Qur’an menyebutkan dalam Surah Maryam ayat 57, “Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.” Penafsiran terhadap ayat ini melahirkan keyakinan bahwa Nabi Idris diangkat ke langit. Sebuah hadis riwayat Anas bin Malik menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bertemu Nabi Idris di langit keempat saat peristiwa Isra Mi’raj. 

Riwayat ini sering dijadikan dasar bahwa Nabi Idris masih hidup di alam langit. Terlepas dari itu, beliau dikenal dalam literatur sebagai pelopor ilmu pengetahuan, termasuk tulis-menulis dan keterampilan dasar manusia.

Nama berikutnya adalah Nabi Khidr AS, sosok misterius yang kisahnya diabadikan dalam Surah Al-Kahfi. Dalam ayat tersebut diceritakan pertemuan antara Nabi Musa AS dengan seorang hamba Allah yang diberi ilmu khusus. Banyak ulama mengidentifikasi sosok itu sebagai Nabi Khidr. 

Meski demikian, tidak ada penyebutan nama secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Perdebatan pun muncul, apakah beliau seorang nabi atau wali, serta apakah masih hidup hingga kini. Dalam kajian hadis, sebagian ulama menolak keyakinan bahwa Nabi Khidr masih hidup, dengan alasan tidak adanya riwayat sahih yang tegas mendukung hal tersebut.

Sementara itu, Nabi Ilyas AS juga termasuk dalam daftar yang sering disebut masih hidup. Kisahnya banyak ditemukan dalam kitab sejarah dan tafsir. Ia diutus kepada Bani Israil yang menyembah berhala Baal. Dalam beberapa riwayat, diceritakan bahwa Nabi Ilyas diberikan penangguhan ajal karena keinginannya untuk terus berzikir kepada Allah. Kisah ini sering dikutip sebagai gambaran kecintaan seorang nabi terhadap ibadah. Walaupun demikian, riwayat tersebut tidak seluruhnya memiliki derajat sahih yang kuat.

Baca Juga : Fenomena Langka Okultasi Asteroid 26 April 2026, Gerhana Bintang Bisa Diamati dari Indonesia

Perbedaan pandangan tentang empat nabi ini menunjukkan dinamika dalam tradisi keilmuan Islam. Tidak semua riwayat yang beredar memiliki kekuatan sanad yang dapat dijadikan landasan akidah. Karena itu, para ulama mengingatkan agar umat tidak menjadikan persoalan ini sebagai keyakinan mutlak, melainkan sebagai bagian dari kajian sejarah dan tafsir.

Rasulullah SAW sendiri pernah mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menerima berita. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” Hadis ini menjadi pengingat agar setiap informasi, termasuk kisah para nabi, disaring dengan ilmu dan kehati-hatian.

Secara literasi, pembahasan tentang nabi-nabi yang disebut masih hidup banyak merujuk pada kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Tabari, serta karya sejarah Islam seperti Qashash Al-Anbiya. Selain itu, buku kontemporer seperti Lentera Kematian karya Hakim Muda Harahap dan Khidir AS, Nabi Misterius karya Mahmud asy-Syafrowi turut memperkaya perspektif. Namun, penting dicatat bahwa tidak semua sumber memiliki tingkat keabsahan yang sama, sehingga perlu ditelaah dengan pendekatan ilmiah.

Kisah-kisah ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari khazanah yang mengandung pelajaran, bukan sekadar perdebatan tentang status hidup atau wafat. Nilai utama yang dapat diambil adalah keteladanan para nabi dalam ketaatan, kesabaran, dan kedekatan mereka kepada Allah SWT.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---