JATIMTIMES - Pertemuan wali calon murid di MTsN 2 Kota Malang, Sabtu, 25 April 2026, berkembang menjadi ruang komunikasi yang lebih substansial. Di Masjid Al-Ikhlas, forum ini tidak hanya berisi penyampaian informasi, tetapi juga membuka gambaran awal tentang arah pendidikan yang akan dijalani siswa sejak sebelum tahun ajaran dimulai.
Wali murid dari jalur reguler dan afirmasi tampak aktif mengikuti pemaparan. Berbagai program dijelaskan secara terbuka, mulai dari sistem pembelajaran hingga penguatan karakter. Forum ini memberi ruang bagi orang tua untuk memahami pendekatan pendidikan yang akan diterapkan, sekaligus membangun komunikasi sejak awal.

Kepala MTsN 2 Kota Malang Anita Yusianti, M.Pd melalui Wakil Kepala Bidang Humas, Muslihan, menegaskan bahwa madrasah kini tidak hanya berorientasi pada kelulusan, tetapi pada kesiapan siswa menghadapi jenjang berikutnya. “Kita tidak hanya ingin anak-anak kita cerdas secara akademis, tetapi juga fasih berbahasa internasional, dekat dengan Al-Qur’an, dan bermental juara,” kata Muslihan.
Baca Juga : Tingkatkan Kualitas Pembinaan, KONI Kota Malang Dorong Pelatih Naik Level Bersertifikat
Salah satu yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah keberadaan ma’had atau asrama siswa. Fasilitas ini saat ini memiliki kapasitas sekitar 120 santri, masing-masing 60 untuk putra dan putri dengan penempatan terpisah. Kamar tidur, almari, hingga fasilitas sanitasi telah disiapkan untuk menunjang aktivitas harian.

Namun, di balik fasilitas yang tersedia, muncul tantangan baru. Animo orang tua untuk memasukkan putra-putrinya ke ma’had Nawaina terbilang sangat tinggi. Pendaftar tidak hanya berasal dari Kota Malang, tetapi juga dari luar daerah hingga luar pulau. Kondisi ini belum sepenuhnya bisa diakomodasi karena keterbatasan daya tampung yang ada.
Situasi tersebut mendorong pihak madrasah untuk mulai memikirkan langkah pengembangan, baik dari sisi bangunan maupun fasilitas pendukung. Perluasan ma’had dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar tingginya minat masyarakat dapat terfasilitasi secara optimal.

Di sisi akademik, MTsN 2 Kota Malang menawarkan tiga kelas khusus, yakni Bilingual, Tahfidz, dan Olimpiade. Ketiganya dirancang dengan target capaian yang spesifik.
Kelas Bilingual menerapkan pendekatan Content and Language Integrated Learning, yang menggabungkan penguasaan materi pelajaran dengan penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar. Model ini diarahkan untuk membiasakan siswa berkomunikasi aktif sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi lingkungan pendidikan global.

Program Tahfidz disusun dengan sistem yang terstruktur melalui setoran hafalan dan pengulangan secara rutin. Selain mengejar jumlah hafalan, siswa juga didorong memahami makna ayat agar proses belajar tidak berhenti pada aspek memorisasi.
Baca Juga : BPJS Ketenagakerjaan Gandeng NU, Bidik Perlindungan Pekerja Informal Skala Nasional
Sementara kelas Olimpiade difokuskan pada penguatan akademik secara kompetitif. Pembinaan dilakukan intensif dengan melibatkan pakar dan alumni berprestasi, mencakup pendalaman konsep hingga strategi menghadapi kompetisi di berbagai level.
Muslihan menambahkan, seluruh program tetap berjalan dalam kerangka kurikulum nasional yang dipadukan dengan karakter khas madrasah. Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi proses belajar siswa.
Pertemuan ini memperlihatkan bahwa arah pendidikan di MTsN 2 Kota Malang tidak lagi bersifat umum, tetapi mulai bergerak lebih terukur. Di tengah tingginya minat masyarakat, termasuk terhadap program ma’had, tantangan pengembangan fasilitas menjadi bagian dari dinamika yang harus segera dijawab.