free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Lingkungan

El Nino Godzilla Mengintai RI, Dampaknya Separah Apa? 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

25 - Apr - 2026, 19:07

Loading Placeholder
Ilustrasi musim kemarau. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Isu kemunculan fenomena El Nino kuat yang dijuluki “Godzilla” mulai ramai dibicarakan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kondisi ini berpotensi terjadi di Indonesia pada 2026 dan bisa membawa dampak besar, terutama pada musim kemarau.

Dalam penjelasannya, BRIN menyebut El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berpengaruh langsung terhadap pola hujan di Indonesia.

Baca Juga : Iran Bebaskan Tarif Selat Hormuz untuk Negara Sahabat, Ini Daftarnya

"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis periset BRIN, Erma Yulihastin dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (25/4/2026). 

Sejumlah model global menunjukkan El Nino mulai berkembang sejak April 2026. Dalam periode ini, Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan curah hujan cukup signifikan.

Fenomena ini membuat pembentukan awan dan hujan bergeser ke wilayah Samudra Pasifik. Dampaknya, sebagian besar wilayah Indonesia justru kekurangan awan dan hujan. "Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sebaliknya, wilayah Indonesia mengalami minim awan dan hujan," tulis BRIN.

Tak hanya itu, kondisi ini diperkirakan semakin kuat dengan munculnya fenomena lain, yakni Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang turut menekan curah hujan, terutama di wilayah barat Indonesia.

BRIN memperkirakan kombinasi El Nino dan IOD positif akan berlangsung sepanjang musim kemarau, dari April hingga Oktober 2026.

Namun, dampaknya tidak merata di seluruh wilayah. Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur diprediksi lebih dulu merasakan kemarau kering.

Sebaliknya, wilayah timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru masih berpotensi mengalami curah hujan tinggi meski berada di periode kemarau.

Sejumlah sektor diperkirakan terdampak jika fenomena ini benar-benar terjadi. Mulai dari ancaman kekeringan di wilayah lumbung padi, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan.

Selain itu, kondisi cuaca kering juga dinilai bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi garam nasional, khususnya di wilayah selatan Indonesia.

Baca Juga : Kejar Momentum Hujan, Pemkot Malang Genjot Tanam Padi dan Salurkan 10 Ton Benih

Di tengah kekhawatiran yang berkembang, pengamat pertanian Khudori mengingatkan agar publik tidak langsung menganggap kondisi terburuk akan terjadi. "Soal El Nino 'Godzila' ini masih sumir. Saya tak hendak mengecilkan maksud periset BRIN. Mungkin agar publik aware (sadar akan bahanya) dan pemerintah ambil langkah sigap," kata Khudori.

Ia menilai informasi tersebut perlu disikapi hati-hati agar tidak memicu kepanikan yang justru kontraproduktif. "Tapi kalau tidak hati-hati bisa kontraproduktif. Karena itu, saya tanya kolega di BMKG terkait bagaimana duduk perkaranya. Penjelasan mereka gak se-'ngeri' perkiraan periset BRIN," sambungnya.

Berdasarkan informasi dari BMKG, peluang terjadinya El Nino ekstrem saat ini masih relatif kecil. "Menurut kolega saya di BMKG, kondisinya saat ini sebetulnya peluang untuk sampai level super kuat, atau disebut godzila, itu hanya 15-20%. Berdasarkan hasil perhitungan saat ini, peluang terbesarnya hanya sampai level moderate," jelasnya.

Khudori juga menekankan bahwa prediksi fenomena iklim seperti El Nino memiliki keterbatasan, terutama untuk jangka panjang. "Prediksi ENSO, yang dikeluarkan di bulan Februari-Maret-April itu memiliki akurasi yang baik hanya sampai 3 bulan. Artinya, prediksi kekuatan El Nino untuk bulan ke 4 dan seterusnya itu harus hati-hati menerjemahkan," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai peluang El Nino “Godzilla” masih kecil dan belum bisa dipastikan akan terjadi. "Penjelasan kolega BMKG sudah jelas, bahwa peluangnya (El Nino 'Godzila') saat ini masih kecil. Saya bukan ahlinya. Maka saya tanya pada yang kompeten," ucapnya.

Meski belum pasti, potensi perubahan iklim tetap perlu diantisipasi. Pemerintah dan masyarakat diimbau mulai bersiap menghadapi kemungkinan kemarau lebih panjang, terutama di sektor pertanian dan sumber daya air.

Di sisi lain, informasi yang beredar juga perlu disaring dengan bijak agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Lingkungan

Artikel terkait di Lingkungan

--- Iklan Sponsor ---