JATIMTIMES - Kebijakan baru terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali menarik perhatian dunia. Iran dikabarkan memberikan perlakuan khusus bagi sejumlah negara sahabat dengan membebaskan tarif bagi kapal tanker yang melintas di jalur vital tersebut.
Informasi ini disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, dalam pernyataannya kepada kantor berita Rusia RIA Novosti, seperti dikutip dari Al Jazeera. Ia menyebutkan bahwa pengecualian tarif hanya berlaku untuk negara tertentu yang memiliki hubungan dekat dengan Iran.
Baca Juga : Travel Malang Juanda Murah dan Nyaman? Nahwa Travel Solusinya
“Kami telah memberikan pengecualian untuk beberapa negara. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar Jalali.
Ia juga menambahkan bahwa Kementerian Luar Negeri Iran saat ini tengah mengupayakan optimalisasi kebijakan tersebut bagi negara-negara sahabat, salah satunya Rusia.
Negara yang Dapat Bebas Tarif Selat Hormuz
Berdasarkan pernyataan tersebut, berikut tiga negara yang saat ini mendapatkan pembebasan tarif saat melintas di Selat Hormuz:
• Rusia
• China
• Pakistan
Latar Belakang Kebijakan Iran
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel. Konflik tersebut berdampak langsung pada akses pelayaran di Selat Hormuz, yang kini berada di bawah pengawasan ketat militer Iran.
Tidak semua kapal tanker dapat melintas secara bebas. Kapal dari negara yang tidak termasuk dalam daftar sahabat Iran disebut harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk kemungkinan pembayaran tarif tinggi untuk menjamin keamanan jalur pelayaran.
Baca Juga : Polresta Banyuwangi Renovasi Rumah Warga Kalipuro Yang Nyaris Roboh
Dalam proposal perdamaian yang tengah dibahas, Iran bahkan disebut mengusulkan tarif hingga US$2 juta bagi kapal yang ingin melintas dengan aman. Namun, usulan ini belum mendapat persetujuan dari pihak Amerika Serikat.
Kebijakan tarif ini menuai reaksi beragam dari komunitas internasional. Sejumlah negara menilai kebijakan tersebut berpotensi melanggar hukum laut internasional, termasuk ketentuan dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Meski demikian, laporan dari The Straits Times menyebutkan bahwa beberapa operator kapal tetap memilih membayar tarif demi memastikan keamanan pelayaran mereka.
Selain itu, data yang dikutip dari laporan Llyod yang dimuat di situs Kementerian Perdagangan China menyebutkan bahwa sejumlah kapal telah membayar biaya hingga US$2 juta untuk melewati Selat Hormuz.
Sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, Selat Hormuz memegang peranan penting dalam distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati perairan ini setiap harinya.
Situasi di kawasan tersebut akan terus menjadi sorotan internasional, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.