free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Pendidikan

Wakaf yang Menggema Sepanjang Zaman: Kisah Abu Thalhah dan Kebun Bairuha

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

19 - Apr - 2026, 07:58

Loading Placeholder
Ilustrasi kisah seorang sahabat yang wakaf (ist)

JATIMTIMES - Di tengah kehidupan Madinah yang terus bertumbuh setelah hijrah, terdapat sosok sahabat yang dikenal bukan hanya karena keberanian, tetapi juga karena cara ia memaknai harta. Ia adalah Abu Thalhah al-Anshari, seorang dari kalangan Anshar yang memiliki kedudukan terhormat sekaligus kekayaan yang melimpah, terutama dari kebun-kebun kurma yang ia miliki.

Kedekatannya dengan Rasulullah SAW membuatnya sering terlibat dalam berbagai momentum penting, termasuk menjaga dan mendampingi Nabi. Namun, yang paling dikenang dari dirinya justru bukan peran militernya, melainkan satu keputusan besar yang lahir dari kepekaan spiritualnya terhadap wahyu.

Baca Juga : Rekomendasi Drakor Terbaru 2026 untuk Temani Akhir Pekan: Dari Yumi’s Cells 3 hingga Perfect Crown

Di antara seluruh aset yang ia miliki, terdapat satu kebun yang memiliki nilai lebih dibandingkan yang lain. Kebun itu bernama Bairuha’, terletak tidak jauh dari Masjid Nabawi, bahkan menjadi tempat yang kerap disinggahi Rasulullah SAW untuk beristirahat dan menikmati airnya. Kedekatan emosional terhadap kebun ini membuatnya sangat dicintai oleh Abu Thalhah.

Perubahan besar terjadi ketika turun firman Allah dalam Al-Qur’an yang secara langsung menyentuh makna pengorbanan harta. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 92: "seseorang tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna sampai ia menafkahkan apa yang paling ia cintai. Ayat ini menjadi titik balik bagi Abu Thalhah. Ia tidak memahaminya sebagai sekadar anjuran, melainkan panggilan langsung untuk bertindak".

Tanpa menunggu lama, ia mendatangi Rasulullah SAW dan menyampaikan niatnya. Ia ingin menyerahkan kebun terbaiknya itu sebagai bentuk sedekah yang paling tulus. Dalam riwayat disebutkan, Rasulullah SAW menyambut keputusan itu dengan pujian, seraya menyebutnya sebagai harta yang sangat menguntungkan di sisi Allah.

Namun, Nabi tidak langsung menerima kebun tersebut untuk kepentingan umum. Beliau justru memberikan arahan strategis agar harta itu lebih dahulu disalurkan kepada kerabat dekat. Prinsip ini selaras dengan hadis Nabi SAW:

“Sedekah kepada orang miskin bernilai sedekah, dan kepada kerabat bernilai sedekah sekaligus silaturahmi.” (HR. Tirmidzi)

Arahan tersebut diterima Abu Thalhah tanpa keberatan. Ia kemudian membagikan kebun itu kepada keluarga dan kerabat yang membutuhkan, termasuk di antaranya beberapa sahabat seperti Hassan bin Tsabit, Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka’ab. Bahkan bagian yang sempat berada di tangan Rasulullah SAW kembali didistribusikan kepada pihak yang berhak.

Baca Juga : Masuk Bulan Dzulqa’dah 1447 H, Ini 4 Keutamaan yang Jarang Disadari Umat Muslim

Kisah ini tidak hanya menggambarkan kedermawanan, tetapi juga menunjukkan bagaimana iman bekerja secara konkret dalam kehidupan seorang muslim. Abu Thalhah tidak berhenti pada pemahaman teks, melainkan menerjemahkannya dalam tindakan nyata yang berisiko secara emosional dan material.

Rujukan kisah ini dapat ditemukan dalam berbagai literatur klasik Islam. Salah satu yang paling dikenal adalah riwayat dalam Shahih Bukhari yang mengabadikan peristiwa wakaf kebun Bairuha’ sebagai respons langsung terhadap turunnya ayat Ali Imran 92. Selain itu, kisah ini juga banyak dikutip dalam buku-buku sirah sahabat dan literatur populer seperti “365 Kisah Pengantar Tidur Islami” karya Erna Fitrini yang mengangkat nilai-nilai keteladanan dari generasi awal Islam.

Dari peristiwa tersebut, terlihat bahwa konsep memberi dalam Islam bukan sekadar soal jumlah, melainkan tentang kualitas pengorbanan. Memberikan sesuatu yang berlebih mungkin mudah, tetapi melepaskan yang paling dicintai membutuhkan tingkat keimanan yang jauh lebih dalam.

Abu Thalhah telah menunjukkan bahwa jalan menuju kebajikan sejati tidak bisa dilepaskan dari keberanian untuk mengalahkan keterikatan duniawi. Hingga kini, kisahnya tetap menjadi rujukan dalam memahami makna sedekah, wakaf, dan keikhlasan dalam Islam.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan

--- Iklan Sponsor ---