JATIMTIMES - Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur (DPRD Jatim) Puguh Wiji Pamungkas menyebut, peran agama menjadi fondasi utama di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Menurutnya, peran agama yang kuat dapat menjawab tantangan era Vuca hingga segala bentuk penyimpangan sosial. Termasuk pemberantasan penyimpangan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang saat ini semakin marak terjadi.
Guna menjawab tantangan tersebut, Puguh juga telah melakukan berbagai langkah konkret. Di antaranya ialah dengan menginisiasi terselenggaranya sosialisasi peran agama sebagai pilar kehidupan masyarakat Jawa Timur di tengah arus globalisasi dan digitalisasi modern. Agenda sosialisasi tersebut berlangsung di Aula Rumah Sakit Umum (RSU) Wajak Husada, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Sabtu (18/4/2026).
Baca Juga : Tagar #BebaskanIbamArief Trending di X, Ini Awal Mula Kasus dan Tuntutan 15 Tahun Penjara
"Acara sosialisasi ini merupakan salah satu agenda di DPRD Provinsi Jatim yang rutin kami selenggarakan. Agama itu menjadi salah satu fondasi yang merekatkan keberagaman bangsa kita, Indonesia. Apalagi di Jatim memiliki banyak karakter yang khas dan beragam," ujarnya saat ditemui JatimTIMES di sela-sela berlangsungnya sosialisasi.
Disampaikan Puguh, pada era globalisasi saat ini juga semakin menegaskan bahwa agama menjadi pilar yang sangat penting. Terutama untuk menjaga moralitas hingga penguatan karakter.
Penguatan karakter dan moralitas tersebut juga turut ditujukan untuk menjawab tantangan Vuca. Yakni yang meliputi tantangan volatility (volatilitas/gejolak), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas/kerumitan), ambiguity (ambiguitas/ketidakjelasan).
Selain itu, penguatan karakter dan moralitas juga memiliki peran penting dalam pemberantasan penyimpangan sosial. Termasuk LGBT.
"LGBT itukan perilaku menyimpang, orang bisa melakukan seperti itu karena bisa jadi mereka tidak memiliki fondasi agama yang kuat. Makanya melalui sosialisasi ini juga menjadi salah satu upaya untuk itu (membentengi diri, red)," ujarnya.
Di sisi lain, disampaikan Puguh, agama juga turut berperan penting dalam beragam upaya pencegahan permisivisme atau tindakan menyimpang. Termasuk di kalangan remaja dan perempuan.
"Permisivisme di kalangan remaja, kemudian tindak kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan itukan juga semakin luar biasa. Termasuk kalau kita lihat tren seks bebas kemudian peredaran narkoba, itukan bagian dari yang saya pikir solusinya adalah agama," ujarnya.
Selain menggelar sosialisasi, diakui Puguh, pihaknya juga aktif menjalin komunikasi dan koordinasi dengan sejumlah lintas agama. Yakni mulai dari pondok pesantren hingga berkoordinasi dengan tokoh agama.
"Jawa Timur ini sebagai salah satu provinsi religius karena memang terdapat banyak pesantren. Sehingga peran dari agama lewat beragam tokoh agama, kiai, ustaz, hingga pesantren ini menjadi sesuatu yang sangat penting," ujarnya.
Baca Juga : Jawab Kebutuhan Global, MAN 2 Kota Malang Perkuat Kompetensi Bahasa Lewat Kolaborasi dengan UIN Malang
Perlu diketahui, pada serangkaian agenda sosialisasi tersebut juga turut menghadirkan sejumlah narasumber termasuk dari Kementerian Agama (Kemenag). Dua narasumber yang dihadirkan tersebut ialah Imam Syafii dan Abdul Malik dari Kemenag.
Sebagaimana yang disampaikan Puguh, dalam pemaparannya, Imam menyebut, Jawa Timur dikenal sebagai lumbung spiritualitas dan basis pesantren terbesar di Indonesia. Di mana, pada era modern ini, masyarakat menghadapi tantangan ganda. Yakni tantangan globalisasi yang mengaburkan batas budaya dan tantangan digitalisasi yang mengubah cara manusia berinteraksi.
"Teknologi informasi telah membawa dampak positif, namun juga membawa risiko degradasi moral, polarisasi digital, dan pendangkalan pemahaman agama melalui konten instan," bebernya.
Menurut Imam, agama bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan lebih dari itu. Yakni merupakan energi masa depan. "Sebagai pilar kehidupan, agama berfungsi sebagai kompas moral yang mencegah masyarakat kehilangan pegangan di tengah badai informasi. Kolaborasi antara pemerintah yang suportif, ulama yang adaptif, dan masyarakat yang kritis adalah kunci keberhasilan," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Abdul Malik juga menyebut bahwasanya agama harus tetap menjadi pilar utama dalam kehidupan masyarakat. Tanpa terkecuali di Jawa Timur yang memiliki basis keagamaan yang sangat kuat.
"Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi, agama tidak hanya berfungsi sebagai pedoman spiritual. Tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu menjaga keharmonisan, memperkuat identitas budaya, dan mendorong pembangunan masyarakat," pungkasnya sebagai pemateri kedua dalam agenda sosialisasi tersebut.