JATIMTIMES – Udara sejuk dan hamparan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan seringkali menjadi alasan utama wisatawan berbondong-bondong datang ke Kota Batu. Namun, di balik keindahan yang kasat mata itu, kualitas udara tengah mengalami kemunduran.
Berdasarkan laporan Kaleidoskop Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu 2025, kualitas udara di kota ini sedang tidak baik-baik saja. Indeks Kualitas Udara (IKU) yang menjadi barometer kesehatan napas warga dan pengunjung, mencatatkan kemerosotan.
Baca Juga : Kumuh dan Tak Terawat, Lima Halte di Kota Batu Rusak hingga 80 Persen
Jika pada tahun 2024 realisasi IKU masih bertengger di angka 83,95, maka pada tahun 2025 angka tersebut meluncur bebas ke level 73,10. Penurunan yang mencapai lebih dari 10 poin ini menjadi sinyal kuning bagi keberlangsungan lingkungan di kota berjuluk De Kleine Switzerland ini.
"Data IKU yang turun ini belum mencapai dari target yang sebelumnya di angka 87,07," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni Kurniawan dalam keterangannya. Dirinya tidak menampik kondisi tersebut. Ia mengakui bahwa tantangan menjaga kualitas udara di kota wisata sangat kompleks.
Angka 73,10 menunjukkan ada tekanan besar pada beban emisi di wilayah Kota Batu. Hal tersebut terungkap dari pemantauan baku mutu lingkungan hidup yang telah dilakukan.
Untuk diketahui, pemantauan kualitas udara dilalui menggunakan metode active sampler untuk mengukur konsentrasi polutan udara secara akurat, mengidentifikasi sumber dan tingkat pencemaran, serta memastikan kualitas udara memenuhi baku mutu yang berlaku. Hal tersebut untuk melindungi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Durasi pemantauannya 24 jam dengan lokasi kegiatan pada 8 titik lokasi.
Penurunan kualitas udara di Kota Batu ini salah satunya diduga perubahan iklim, hingga masih banyaknya aktivitas warga melakukan pembakaran sampah yang kurang bertanggung jawab.
"Ada faktor perubahan iklim, gas rumah kaca, gas methan, dan paling mempengaruhi masih bakar-bakar sampah," ungkapnya.
Ia menambahkan, ada kemungkinan pula disebabkan waktu pengambilan sampling oleh Kementerian dilakukan pada situasi yang berbeda dari keseharian. "Itu karena titik pantau dan waktu tergantung dari Kementerian Lingkungan Hidup," sebut mantan Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Kota Batu itu.
Ada pula pengaruh tingginya volume kendaraan bermotor yang masuk ke Kota Batu, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. Sebagai kota tujuan wisata nasional, mobilitas mesin-mesin berbahan bakar fosil di jalanan protokol Batu memberikan kontribusi emisi karbon yang tidak sedikit. Aktivitas pembangunan infrastruktur dan pembukaan lahan juga disinyalir ikut menyumbang debu partikulat.
Dian menjelaskan bahwa pihaknya kini tengah menyusun strategi untuk melakukan upaya pemulihan kualitas udara. Menurutnya, tidak bisa hanya DLH yang bergerak, melainkan butuh sinergi lintas sektor, termasuk penataan lalu lintas dan penanaman pohon di area-area krusial.