JATIMTIMES – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan berencana untuk mengimpor 200.000 ton gula mentah dalam rapat koordinasi pada awal tahun 2025 ini.
Kebijakan tersebut menuai respons dari berbagai pihak, terutama petani tebu yang khawatir akan dampaknya terhadap harga gula domestik.
Baca Juga : Awal Ramadan, Sejumlah Harga Bahan Pokok di Kota Malang Naik Meski Tak Signifikan
Sekretaris DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) RNI 1 Jawa Timur, Aji Kurniawan menyampaikan kekhawatirannya. Menurutnya, kebijakan impor gula akan berdampak buruk pada petani, terutama menjelang panen raya tebu yang dimulai April mendatang.
"Impor gula akan membuat harga di pasaran anjlok. Ini jelas tak diingkan petani," ujarnya.
Hal ini disampaikan Aji saat menerima penghargaan Tokoh Nahdliyin Inspiratif 2024 di Surabaya pada Minggu (2/2) malam. Dalam kesempatan tersebut, Aji menegaskan bahwa pihaknya akan segera menyampaikan aspirasi petani kepada pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian. Yakni, agar menunda rencana impor dan lebih memaksimalkan produksi gula dalam negeri.
"Impor mungkin solusi cepat untuk mengatasi kelangkaan, tapi bukan solusi jangka panjang. Pemerintah seharusnya fokus pada peningkatan produktivitas petani," tegasnya.
Alumni IPNU Jatim ini juga meminta kebijakan pemerintah untuk lebih pro-petani. Menurutnya, pemerintah seharusnya memberikan dukungan seperti subsidi pupuk murah, mekanisasi alat pertanian, dan bantuan modal usaha.
"Pemerintah Prabowo-Gibran sudah berkomitmen mendukung ketahanan pangan. Kebijakan ini yang harus segera direalisasikan," tegasnya.
Baca Juga : Jaga Stabilitas Bahan Pangan, Diskopindag Akan Gelar Pasar Ramadan
Aji juga menyoroti pentingnya regenerasi petani. Saat ini mayoritas petani adalah orang tua, maka ia mengajak anak muda juga terjun di sektor ini "Jumlah petani muda yang terjun ke sektor pertanian masih sedikit. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?" ujarnya.
Ia pun menceritakan pengalamannya belajar langsung ke Thailand, di mana industrialisasi pertanian berkembang pesat. "Beberapa poin penting yang saya dapat adalah penggunaan alat modern, pengecekan PH tanah, dan kebijakan pemerintah yang mendukung petani," ungkapnya.
Sebagai alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Aji juga mengutip pesan dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari, tentang ketahanan pangan. "Pak tani itu pahlawan bangsa. Sektor pertanian tidak bisa digantikan, meski teknologi dan digitalisasi semakin marak," tegasnya.
Aji, yang juga alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, mengapresiasi penghargaan dari Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FJN). Ia berkomitmen terus memberikan inspirasi kepada generasi muda, terutama dalam membangun ketahanan pangan di sektor pertanian, khususnya tebu.