free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Aria Panangsang dan Tiga Upaya Pembunuhan: Intrik, Pengkhianatan, dan Perebutan Takhta Jawa

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

01 - Mar - 2025, 09:47

Loading Placeholder
Masjid Laweyan, salah satu peninggalan bersejarah dari Kesultanan Pajang, mencerminkan perpaduan arsitektur Islam dan budaya Jawa yang masih lestari hingga kini. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Sejarah Jawa abad ke-16 dipenuhi dengan intrik politik, pengkhianatan, dan peperangan yang menentukan nasib kerajaan-kerajaan yang bersaing memperebutkan supremasi. 

Di antara tokoh-tokoh yang berperan dalam pusaran kekacauan ini, Pangeran Aria Panangsang menonjol sebagai figur yang kontroversial. Keberaniannya, kesaktiannya, dan ambisinya yang tak terbendung menjadikannya salah satu tokoh paling ditakuti dalam sejarah Demak dan Pajang.

Baca Juga : Mbak Vinanda Bawa Semangat Retret untuk Bangun Kota Kediri, Tekankan Soliditas dan Integritas

Dalam usahanya merebut kekuasaan tertinggi, Aria Panangsang melakukan serangkaian upaya pembunuhan yang mencerminkan strategi politik Jawa saat itu -kekuasaan sering ditentukan oleh ketajaman keris dan kelicikan diplomasi. Ia tidak segan menghabisi pesaingnya, baik melalui tangan sendiri maupun menggunakan algojo bayaran.

Berikut ini adalah kisah tiga percobaan pembunuhan yang dilakukan Aria Panangsang demi mencapai ambisinya, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber historiografi seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, dan Babad Sangkala.

Pembunuhan Sunan Prawata: Akhir Dinasti Demak

Pasca-wafatnya Sultan Trenggana, Kesultanan Demak mengalami krisis suksesi. Sunan Prawata, putra Trenggana, berhasil naik takhta. Tetapi kekuasaannya tidak pernah benar-benar kokoh. Keberadaan Aria Panangsang sebagai pewaris sah dari keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen (saudara Trenggana yang terbunuh) menjadi ancaman besar bagi pemerintahannya.

Atas anjuran Sunan Kudus—seorang wali yang memiliki pengaruh besar di tengah konflik politik kala itu—Aria Panangsang mengirim seorang algojo kepercayaannya, Rangkud, untuk menghabisi Sunan Prawata.

Dalam laporan Babad, Rangkud berhasil menyusup ke istana Prawata. Dia menemukan sang Sunan dalam kondisi sakit, bersandar pada permaisurinya. Tanpa ragu, Rangkud melaksanakan tugasnya. 

Sunan Prawata yang menyadari niat pembunuh itu, dengan ketenangan luar biasa, hanya berkata: "Silakan, tetapi biarlah aku sendiri saja yang kau bunuh."

Rangkud kemudian menikam Sunan Prawata dan permaisurinya dengan kerisnya. Namun, sebelum ajal menjemput, Sunan Prawata sempat melemparkan keris sakti Kyai Betok ke arah Rangkud. Goresan kecil yang ditimbulkan senjata tersebut ternyata cukup untuk membuat si pembunuh tewas seketika.

Sunan Prawata pun gugur bersama permaisurinya, menandai berakhirnya takhta Demak di tangannya. Dengan kematiannya, pintu terbuka bagi Aria Panangsang untuk melangkah lebih dekat menuju takhta yang diidamkannya.

Tragedi Ratu Kalinyamat: Sumpah Seorang Adik yang Terluka

Kematian Sunan Prawata tidak hanya mengguncang politik Demak, tetapi juga membangkitkan amarah saudara perempuannya, Ratu Kalinyamat. Sebagai istri Sultan Hadlirin dari Jepara, ia memiliki posisi yang cukup kuat dalam jaringan kekuasaan pesisir.

Dalam upayanya mencari keadilan, Ratu Kalinyamat dan suaminya menghadap Sunan Kudus. Namun, pertemuan itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Yang terjadi justru pembantaian kedua: Aria Panangsang dengan pengikutnya menyerang pasangan tersebut saat mereka dalam perjalanan pulang. Sultan Hadlirin tewas dalam insiden ini dan Ratu Kalinyamat mengalami guncangan hebat.

Dalam Serat Kandha, diceritakan bahwa Ratu Kalinyamat kemudian bersumpah untuk tidak mengenakan pakaian hingga Aria Panangsang tewas. Ia bertapa dalam keadaan telanjang di Gunung Danareja, sebuah tindakan spiritual yang mencerminkan keputusasaan dan tekadnya dalam menuntut balas.

Ia juga mengeluarkan janji terbuka: siapa pun yang bisa membunuh Aria Panangsang akan diberikan seluruh harta bendanya dan kesetiaannya. Sumpah dan tawaran ini menjadi pemicu bagi para pesaing Aria Panangsang untuk mulai bergerak.

Percobaan Pembunuhan Sultan Hadiwijaya: Gagalnya Konspirasi di Pajang

Baca Juga : UMKM Naik Kelas: Forum Kemisan FISIP Unisba Blitar Dorong Pelaku Usaha Optimalkan Digital Marketing

Setelah berhasil menyingkirkan Sunan Prawata dan Sultan Hadlirin, target berikutnya bagi Aria Panangsang adalah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang telah memindahkan pusat kekuasaan ke Pajang.

Sunan Kudus, yang masih menjadi penasihatnya, memberi saran untuk membunuh Sultan Pajang secara diam-diam, tanpa menimbulkan gejolak politik yang besar. Dengan strategi ini, dikirimlah empat orang penjaga keputren ke istana Pajang untuk melaksanakan tugas tersebut.

Saat para pembunuh bayaran ini menyusup ke dalam istana, mereka menemukan Sultan Hadiwijaya sedang tidur dengan selimut kebesarannya (dodot). Istri-istrinya beristirahat di kaki ranjangnya. Tanpa ragu, para algojo ini mencoba menikamnya dengan keris mereka. 

Tetapi sebuah kejadian luar biasa terjadi: dodot yang dikenakan Sultan Hadiwijaya ternyata memiliki kekuatan gaib. Tidak hanya kebal terhadap tikaman, tetapi kain itu juga memantulkan serangan sehingga membuat para pembunuh terpental. Sultan pun terbangun karena teriakan istri-istrinya.

Alih-alih menghukum para pembunuh itu, Sultan Hadiwijaya justru menunjukkan kebesaran jiwanya. Ia mengampuni mereka dan bahkan memberi mereka uang serta pakaian sebelum melepaskan mereka kembali ke tempat asalnya. Dalam Serat Kandha, disebutkan bahwa masing-masing menerima 15 rial sebagai bentuk kemurahan hati Sultan.

Gagalnya percobaan pembunuhan ini menjadi titik balik yang menentukan dalam nasib Aria Panangsang. Kegagalan ini mengukuhkan legitimasi Hadiwijaya sebagai pemimpin yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga memiliki perlindungan spiritual yang tak tertandingi.

Akhir dari Aria Panangsang

Ketiga percobaan pembunuhan ini mencerminkan metode politik khas era Jawa abad ke-16 -pembunuhan politik bukan sekadar tindakan kriminal, tetapi bagian dari strategi kekuasaan yang terstruktur.

Namun, bagi Aria Panangsang, kegagalan membunuh Sultan Hadiwijaya menjadi awal dari kehancurannya. Ratu Kalinyamat yang terus mengobarkan dendamnya berhasil menggalang kekuatan untuk menyingkirkannya. Dan akhirnya, melalui pertempuran yang dipimpin oleh Danang Sutawijaya (kelak Panembahan Senopati), Aria Panangsang menemui ajalnya di tepi Bengawan Sore.

Ia gugur dengan kerisnya sendiri menembus perutnya dalam peristiwa tragis yang menutup babak perseteruan panjang antara Demak dan Pajang. Dengan kematiannya, Pajang berdiri kokoh sebagai kekuatan dominan di Jawa, membuka jalan bagi kemunculan Mataram Islam sebagai kekuatan baru yang akan menguasai Nusantara.

Aria Panangsang mungkin telah kalah dalam perebutan kekuasaan, tetapi kisahnya tetap hidup dalam ingatan sejarah, sebagai gambaran tentang betapa berdarahnya politik kekuasaan di tanah Jawa.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---