JATIMTIMES - Sya'ya bin Amshaya, seorang nabi dari Bani Israil yang namanya kurang dikenal, memiliki peran penting dalam sejarah keagamaan. Meskipun sedikit riwayat yang menceritakan tentang dirinya, referensi dari berbagai sumber, termasuk Qashashul Anbiyaa karya Ibnu Katsir, menyebutkan bahwa ia diutus setelah Nabi Daud dan Sulaiman, namun sebelum kedatangan Nabi Zakaria dan Yahya.
Sya'ya dikenal sebagai nabi yang menyampaikan kabar gembira mengenai kedatangan Isa putra Maryam dan Muhammad bin Abdullah.
Baca Juga : Meninggal kala Punya Utang Puasa, Siapa Yang Mengganti?
Pada masa Sya'ya, Baitul Maqdis dipimpin oleh Raja Hizqiya, yang terkenal dengan ketaatannya terhadap ajaran nabi. Raja Hizqiya tidak hanya mematuhi perintah Nabi Sya'ya, tetapi juga menerima dengan lapang dada segala larangan yang diberikan demi kebaikan rakyat dan dirinya sendiri.
Namun, krisis melanda ketika Raja Hizqiya jatuh sakit. Bisul-bisul muncul di kakinya.
Sementara Raja Babilonia, Sanharib, dengan pasukan besar yang berjumlah lebih dari enam ribu tentara, bergerak menuju Baitul Maqdis. Kabar kedatangan pasukan besar itu membuat ketegangan meningkat di kalangan penduduk kota.
Raja Hizqiya pun segera mendatangi Nabi Sya'ya, bertanya apakah sudah ada wahyu yang diterima untuk menghadapi ancaman dari Raja Sanharib. Sya'ya menjawab bahwa belum ada wahyu yang diterima mengenai hal tersebut. Namun, tak lama setelah itu, wahyu pun turun.
Wahyu tersebut memerintahkan Sya'ya untuk memberi pesan kepada Raja Hizqiya agar ia segera mencari pengganti karena ajalnya sudah dekat. Menyadari beratnya kabar tersebut, Raja Hizqiya melaksanakan salat, berdoa, dan menangis memohon kepada Allah agar diberi kemurahan hati dan umur panjang. Dalam doanya, ia menyerahkan segalanya kepada Allah, mengingatkan diri tentang takdir dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.
Tak lama setelah doa dan tangisan itu, Allah mengabulkan permohonan Raja Hizqiya. Wahyu pun turun kembali kepada Nabi Sya'ya, menyampaikan kabar gembira bahwa Allah menunda ajal sang raja selama lima belas tahun. Tak hanya itu. Allah memberikan perlindungan kepada Raja Hizqiya dari ancaman Raja Sanharib, yang pasukannya berada di luar Baitul Maqdis.
Baca Juga : Bacaan Lengkap saat Ziarah Kubur Menjelang Ramadan
Kabar gembira ini langsung disampaikan oleh Sya'ya kepada Raja Hizqiya. Dan tak lama setelahnya, keajaiban pun terjadi: sakit Raja Hizqiya yang parah langsung sembuh total. Rasa cemas yang sebelumnya menghantuinya pun sirna seketika.
Dalam rasa syukurnya, Raja Hizqiya bersujud, memuji Allah yang Maha Kuasa atas segala keputusan-Nya, baik dalam memberikan kekuasaan maupun dalam menurunkan rahmat.
Kebesaran Allah semakin tampak ketika wahyu terakhir turun kepada Nabi Sya'ya, yang memerintahkan Raja Hizqiya untuk menggunakan air lumpur sebagai obat untuk bisul-bisulnya. Setelah melakukannya, Raja Hizqiya sembuh sepenuhnya dari penyakit yang dideritanya.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa doa yang tulus dan kepasrahan kepada Allah dapat mendatangkan keajaiban. Ketaatan Raja Hizqiya terhadap Nabi Sya'ya dan kesungguhannya dalam berdoa menjadi contoh keteguhan hati yang akhirnya mendatangkan rahmat dari Allah. Peristiwa ini bukan hanya menjadi pelajaran bagi umatnya, tetapi juga bagi seluruh umat muslim saat menghadapi ujian hidup.