JATIMTIMES - Terjadi dugaan keteledoran yang dilakukan oleh manajemen RSUD Besuki terhadap standar penanganan pasien terjangkit virus menular yang berpotensi beberapa tenaga media ikut terinfeksi.
Hal tersebut disampaikan oleh anggota DPRD Situbondo dari Fraksi DNS Toton Beni Martono. Dia mengatakan bahwa ada salah satu dokter spesialis di RSUD Besuki yang melakukan operasi terhadap salah satu pasien kemudian diketahui terjangkit virus B20.
Baca Juga : Pembebasan Lahan Capai 99,55 Persen, Konstruksi Tol Probowangi Dikebut
"Jadi, saat operasi, dokter tidak diberikan informasi bahwa pasien yang dia tangani terjangkit virus B20. Ini kan membahayakan si dokter. Seharusnya SOP-nya harus dicek lab dulu. Hasilnya diberikan kepada dokter sebelum dilakukan tindakan. Ini tidak," ujar Toton saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp, Sabtu (22/02/2025).
Selain itu, Toton mengatakan, pasien sebelum dilakukan tindakan, tidak ada pengecekan laboratorium terlebih dahulu. Maka potensi tertularnya tenaga medis bisa mencapai 99 persen.
"Kalau tanpa dicek lab, risiko itu tambah 99 persen. Tenaga medis kan tidak tahu pasien punya sakit apa. Jangankan HIV/AIDS, hepatitis saja, kalau tidak dilakukan cek lab, kan tidak tahu tenaga medis," ujarnya.
Tidak hanya itu. Toton juga mengungkapkan bahwa tindakan cek laboratorium baru dilakukan setelah ada permintaan dokter yang menangani. "Nah dari hasil lab itulah, baru diketahui pasien yang dia tangani ternyata terjangkit virus B20," imbuhnya.
Bahkan dalam video berdurasi 1 menit 41 detik yang Toton kirimkan, diperlihatkan bahwa dokter yang menangani pasien pengidap virus B20 itu merasa dirugikan dan meminta tanggung jawab dari pihak RSUD Besuki. Bahkan tidak ada satu pun pihak RSUD Besuki yang menanyakan kabar kesehatan sang dokter yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Legislator dari Partai Demokrat itu bahkan mengatakan dirinya sudah menelepon kepala Dinas Kesehatan Situbondo terkait persoalan ini. "Saya ini orang kesehatan. Jika ada hal yang tidak sesuai prosedur, saya pasti tahu. Saya sudah telepon kepala adinas Kesehatan, dokter Sandy. Memang bukan laporan resmi, hanya lewat telepon. Masa hal se-urgent ini tidak ditindaklanjuti," ungkapnya.
Baca Juga : Kasus Chikungunya Naik 50 Persen, Ini Kata Dinkes Kabupaten Malang
Sementara itu, saat dihubungi melalui chat WhatsApp, Direktur RSUD Besuki dr Imam Hariyono menyangkal dan mengatakan bahwa hal itu tidaklah benar. "Walaaikum salam, gak bener Mas," balasnya singkat.
Dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kepala Dinas Kesehatan Situbondo dr. Sandy Hendrayono meminta JATIMTIMES untuk mengonfirmasi langsung kebenaran hal tersebut kepada pihak RSUD Besuki.
"Waalaikumsalam. Bisa konfirmasi langsung ke direktur RSUD Besuki. Dinkes belum terima laporan dari RSUD Besuki," balasnya.