JATIMTIMES - Begadang atau tidur terlalu sedikit atau terlambat di malam hari adalah kebiasaan yang umum di kalangan banyak orang.
Sebagian orang melakukannya karena tuntutan pekerjaan, jadwal yang padat, atau bahkan sebagai pilihan gaya hidup.
Baca Juga : Tebing Longsor di Nglurup Tulungagung, Akses Desa Lumpuh
Begadang dan kurang tidur ternyata dapat membahayakan kesehatan tubuh. Salah satunya meningkatkan risiko terkena stroke. Pernyataan tersebut bukanlah mitos belaka, melainkan sebuah fakta.
Hal ini dibahas dr Tirta di Youtube Curhat Bang Denny Sumargo seperti dikutip Kamis (23/1/2025). Pada kesempatan itu, dr Tirta menjelaskan potensi risiko stroke akibat begadang terjadi karena peningkatan tekanan darah.
"Itu bukan mitos, tapi fakta. Orang yang tidurnya nggak teratur ya. Misalkan dia begadang karena kerja, jadi dia shift malam artinya cycle kan. Jadi, dia misalkan Senin jaga malam, Selasa turun jaga. Orang yang jaga malam tuh biasanya ada turun jaga, jadi teratur dong. Yang bermasalah adalah orang yang begadang dan jam tidurnya tidak teratur. Itu akan meningkatkan potensi risiko stroke karena peningkatan tekanan darah" jelas dr Tirta.
Lebih lanjut, dia mengatakan, menjaga pola tidur yang baik itu salah satu kunci hidup sehat. Sebab, itu bagian dari istirahat bagi tubuh kita luar dan dalam.
"Ketika Anda tidur, pembuluh darah itu selnya rusak. Kalau Anda nggak tidur, pembuluh darahnya jadi kaku dan siklusnya jadi nggak elastis. Karena nggak elastis, pembuluh darah ini bertabrakan di dalam karena harusnya melebar nggak tabrakan jadinya menggumpal. Gumpalan ini tiba-tiba Anda marah-marah lagi stres pikiran" kata dr Tirta.
Penelitian terkait begadang dan stroke
Studi di European Heart Journal pada 2011 menunjukkan, sering begadang sampai kurang tidur dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, dan penyakit kardiovaskular lain.
Ahli dari University of Warwick Medical School meneliti studi selama 25 tahun dari 470.000 peserta riset dari delapan negara seperti Jepang, AS, Swedia, dan Inggirs.
Hasil penelitian menyebutkan, orang yang tidurnya kurang dari enam jam di malam hari memiliki peluang 15 persen lebih tinggi untuk terkena atau meninggal dunia akibat stroke jika dibandingkan orang yang tidur berkualitas lebih dari enam jam di malam hari.
Studi juga membuktikan, orang yang tidurnya kurang dari enam jam di malam hari memiliki risiko terkena atau meninggal karena penyakit jantung sebesar 48 persen lebih tinggi, jika dibandingkan orang yang tidur berkualitas lebih dari enam jam di malam hari.
“Tren tidur larut malam (begadang) sampai dini hari ini sebenarnya bom waktu untuk kesehatan. Kita perlu mengubahnya untuk mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung yang mengancam jiwa,” kata Profesor Francesco Cappuccio, perwakilan peneliti, seperti dilansir dari ScienceDaily.
Memgapa begadang bisa jadi penyebab stroke?
Dilansir dari SleepFoundation, stroke adalah penyakit yang terjadi saat sel-se otak kekurangan oksigen karena aliran darah ke otak terganggu atau tersumbat.
Terdapat tiga alasan mengapa begadang bisa jadi penyebab stroke, yakni:
• Menaikkan tekanan darah
Baca Juga : Atasi Keluhan Warga Terdampak TPA Supiturang, Dewan Usul Gunakan CSR
Selama tidur normal dan sehat, tekanan darah secara alami bisa turun sekitar 10–20 persen. Sedangkan saat seseorang begadang atau terjaga semalaman, tekanan darah tersebut tidak turun.
Akibatnya, tekanan darah praktis jadi naik sampai terkadang hipertensi. Kondisi ini apabila berkepanjangan bisa mengurangi aliran darah ke otak, meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, sampai penyakit ginjal.
Risiko stroke ini bisa meningkat pesat apabila kebiasaan begadang di malam hari ditambah dengan kondisi stres berlebihan di siang hari.
• Meningkatkan gula darah
Banyak faktor yang bisa memicu kadar gula darah naik. Salah satunya yakni kurang tidur.
Ketika seseorang begadang sepanjang malam dan tidurnya kurang dari waktu ideal, metabolisme glukosa atau gula darah di dalam tubuh terganggu.
Akibatnya, gula darah bisa melonjak. Kadar gula darah tinggi ini apabila berkepanjangan bisa merusak pembuluh darah, termasuk di otak dan jantung. Kondisi ini membuat penderita diabetes memiliki peluang terkena atau meninggal karena stroke dan penyakit jantung dua kali lebih tinggi dibandingkan orang dengan kadar gula darah normal.
• Memicu obesitas
Aktivitas tidur yang normal dan berkualitas juga dapat membantu menjaga keseimbangan hormon yang mengontrol rasa lapar. Saat begadang dan kurang tidur semalaman, seseorang jadi rentan susah mengendalikan rasa lapar dan mudah tergoda untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori di tengah malam atau dini hari.
Kondisi ini apabila berlarut-larut bisa membuat kalori menumpuk di dalam tubuh dan memicu obesitas. Seperti tekanan darah tinggi, obesitas juga termasuk salah satu faktor penyebab stroke.