free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Mengapa Hantu Lebih Sering Diidentikkan dengan Perempuan?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

04 - Oct - 2024, 09:45

Loading Placeholder
Foto Suzzana saat memerankan hantu perempuan di film Indonesia. (Foto: Hipwee)

JATIMTIMES - Selama lebih dari lima dekade, sosok Suzanna begitu ikonik dalam film-film horor Indonesia, menggambarkan karakter hantu perempuan yang penuh dendam, seperti kuntilanak dan sundel bolong. Hantu-hantu ini digambarkan sebagai arwah perempuan yang gentayangan, menghantui karena kemarahan atau ketidakadilan yang mereka alami semasa hidup. 

Di Jakarta, Terowongan Kasablanka terkenal dengan cerita hantu kuntilanak merah. Sementara Jembatan Ancol memiliki legenda Si Manis, hantu perempuan bergaun merah yang kerap menakuti pengendara. 

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Di belahan dunia lain, misalnya Inggris dan Amerika, ada cerita tentang Bloody Mary. Sedangkan Meksiko memiliki La Llorona, hantu perempuan yang juga penuh dendam. 

Mengapa hantu perempuan ini begitu mendominasi dalam mitos horor, baik di Indonesia maupun di negara lain? 

Menurut Bang Jaka, anggota dari tim Kisah Tanah Jawa, ada anggapan bahwa hal ini terkait dengan stereotip bahwa perempuan lebih emosional dan sulit mengikhlaskan sesuatu, sehingga rasa sakit atau trauma terbawa hingga kematian. 

"Namun, apakah benar sederhana seperti itu? Atau, mungkin ini mencerminkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu ketidakadilan yang sering dialami perempuan, bahkan setelah mereka meninggal?," tulis Bang Jaka, dikutip melalui akun X @kisahtanahjawa, Jumat (4/10). 

"Diskriminasi dan kriminalisasi perempuan tidak berhenti hanya karena mereka meninggal. Semasa hidup, perempuan sering dilihat sebagai objek yang bisa menyenangkan, tapi juga berpotensi menghancurkan dan membawa bencana." tambahnya. 

Hal ini bisa jadi alasan mengapa banyak hantu digambarkan sebagai sosok perempuan, yang dianggap 'mengganggu' dan 'menyesatkan'. "Namun, ada juga pandangan bahwa kemunculan hantu perempuan adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang mereka alami di dunia nyata," pungkas Bang Jaka. 

Sementara itu, Gita Putri Damayana, peneliti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), mengaitkan popularitas hantu perempuan dengan rendahnya akses perempuan terhadap keadilan, termasuk dalam hal layanan kesehatan dan perlindungan dari kekerasan. 

Dalam tulisannya di The Conversation, Gita menjelaskan bahwa "Si Manis Jembatan Ancol dan sundel bolong adalah korban kekerasan seksual yang menjadi hantu untuk menuntut keadilan." 

Selain itu, banyak hantu perempuan dalam cerita rakyat Indonesia yang digambarkan meninggal saat melahirkan, seperti kuntilanak dan sundel bolong. Gita mencatat, angka kematian ibu melahirkan di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup. Sayangnya, alih-alih diperlakukan sebagai pahlawan, perempuan yang meninggal saat melahirkan justru sering dijadikan legenda hantu. 

"Padahal, dalam ajaran Islam, ibu yang meninggal ketika melahirkan memiliki status yang sama dengan mati syahid," jelas Gita. Namun, di mata masyarakat, perempuan yang meninggal karena melahirkan malah dianggap sebagai sosok hantu yang gentayangan. 

Sundel bolong dan Si Manis Jembatan Ancol juga sering dikaitkan dengan cerita kekerasan seksual. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2015 tercatat 1.739 kasus pemerkosaan di Indonesia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kasus pencurian dengan senjata yang mencapai 1.097 kasus di tahun yang sama. 

Gita menekankan pentingnya memastikan bahwa pelaku kekerasan seksual dihukum dengan tegas. "Jika pelaku pemerkosaan dihukum berat, mungkin sundel bolong tidak perlu bergentayangan untuk menuntut balas," ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa selama tidak ada perubahan sistemik untuk melindungi perempuan, kisah hantu perempuan akan terus hidup, tidak hanya di layar kaca, tetapi juga dalam kenyataan sehari-hari. 

Pendapat berbeda datang dari Hatib Kadir, seorang mahasiswa PhD di bidang Antropologi di University of California, Santa Cruz. Dalam artikel di Cinema Poetica, Hatib beragumen bahwa hantu perempuan mencerminkan ketakutan laki-laki dalam mempertahankan dominasi patriarki. 

Menurutnya, kemunculan hantu perempuan dalam film-film horor Indonesia, terutama pada era Orde Baru, memperlihatkan kecemasan laki-laki terhadap perubahan sosial, khususnya transisi dari sistem prakapitalis ke kapitalisme. 

“Dalam film-film tersebut, hantu perempuan sering kali dikalahkan oleh tokoh kiai atau pemuka agama laki-laki. Sosok hantu itu kemudian dinasehati untuk sadar dan kembali ke jalan yang benar. Ini menunjukkan bahwa patriarki selalu menang," tulis Hatib. 

Ia melihat fenomena ini sebagai cerminan ketakutan masyarakat terhadap modernitas yang menuntut persaingan dan kemajuan. 

Meski dalam cerita hantu perempuan sering digambarkan sebagai sosok yang menakutkan, dalam kajian antropologis, Hatib menekankan bahwa perempuan di masyarakat Indonesia, terutama yang menganut sistem patrilineal seperti Batak dan Maluku, sering kali justru memiliki kekuasaan lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. 

"Secara hukum, laki-laki seharusnya berada di posisi teratas, namun dalam praktiknya, perempuanlah yang sering memiliki kendali, terutama dalam urusan keluarga," jelas Hatib. 

"Dalam banyak kasus, ibu memiliki kuasa yang lebih besar dalam menentukan jodoh anaknya dibandingkan ayah." tambahnya. 

Hal ini kata Hatib menunjukkan bahwa dalam masyarakat Indonesia, perempuan sering kali dihormati karena peran mereka dalam keluarga dan komunitas. Bukan hanya karena gender, melainkan juga karena usia dan kebijaksanaan mereka. 

Pada akhirnya, sosok hantu perempuan bisa jadi adalah perwujudan dari ketakutan mendalam masyarakat terhadap kekuasaan perempuan yang tak terduga. Ketakutan ini, menurut Hatib, bisa mencerminkan kecemasan yang muncul dari perubahan sosial yang sedang terjadi di masyarakat modern. "Keberadaan hantu perempuan adalah refleksi dari ketakutan laki-laki terhadap dominasi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan," pungkas Hatib.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---