free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Agama

Benarkah Bulan Safar Adalah Sial? Berikut Penjelasan Ulama Wahabi 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

05 - Aug - 2024, 06:58

Loading Placeholder
Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan. (Foto: laman laduni.id)

JATIMTIMES - Sebentar lagi umat Islam akan meninggalkan bulan Muharram dan memasuki bulan Safar. Banyak dari kita mungkin bertanya-tanya, kapan tepatnya bulan Safar 2024 dimulai? 

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2024 yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama RI, bulan Safar akan jatuh pada Selasa, 6 Agustus 2024, bertepatan dengan 1 Safar 1446 H dalam sistem penanggalan Hijriah. Bulan ini memiliki jumlah 30 hari, dimulai dari bulan Agustus dan berakhir pada bulan September 2024.

Lantas benarkah anggapan orang Safar adalah bulan Sial? 

Baca Juga : Fakta Mengonsumsi Jagung Manis Saat Diet, Benarkah Bisa Membuat Gemuk?

Di kalangan umat Islam, terdapat anggapan yang sudah lama beredar bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Namun, Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan, seorang ulama Wahabi, menegaskan bahwa anggapan sial terhadap bulan Safar itu tidaklah benar dan termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyah.

"Bulan Safar itu layaknya bulan-bulan lainnya. Dalam bulan Safar, kita tidak menjadi lebih istimewa, juga tidak ada kesialan (berkaitan dengan bulan tersebut)," jelas Syaikh Shalih dalam sebuah video yang diunggah di YouTube Shahih Fiqih pada Senin (5/8/2024).

Untuk memperkuat pandangannya, Syaikh Shalih mengutip hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyaroh, tidak ada shafar, dan tidak ada hammah.” (HR. Bukhari 5707 dan Muslim 2220)

"Maksudnya adalah bulan Safar tidak perlu diyakini yang tidak-tidak. Sebagaimana burung hantu juga tidak boleh diyakini yang tidak-tidak. Sebagian orang memiliki keyakinan dan anggapan buruk terhadap keberadaan burung hantu. Padahal burung hantu itu tidak menjadi sinyal keburukan sama sekali," tegasnya.

Syaikh Shalih juga menambahkan bahwa burung hantu hanyalah layaknya burung yang lain. Hendaknya setiap Muslim bertawakal kepada Allah dan bersandar hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Anggapan sial seperti ini termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyah.

Sejarah Bulan Safar dalam Masyarakat Jahiliyah

Mengenal lebih jauh tentang bulan Safar, kata "Safar" (Arab: صفر) dalam bahasa Arab artinya nol. Orang Arab menyebut angka nol dengan shifrun. Mereka menyebut rumah yang kosong (karena ditinggal pergi penghuninya) dengan sebutan ash-fa-rat Ad-Dar (Arab: اصفرت الدار), artinya rumah yang kosong. 

Mengapa rumah kosong? Pasalnya pada bulan inilah masyarakat jahiliyah mulai mengadakan perjalanan jauh dalam rangka perang, setelah sebelumnya dilarang berperang di bulan Muharram.

Dalam sejarahnya, masyarakat jahiliyah memiliki dua sikap menyimpang terhadap bulan Safar:

1. Mengganti Kesucian Bulan Muharram 

Baca Juga : Cara Kuliah di Inggris, Ini Syarat Mendaftar Beasiswa Chevening 2025

Jika mereka terdesak untuk berperang di bulan Muharram, mereka mengganti kesucian bulan tersebut dengan bulan Safar. Kebiasaan ini disebut an-Nasi’ (menunda). Allah mencela keras sikap ini dalam Al-Qur'an, Surah At-Taubah ayat 37:

 

   إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ

 

Sesungguhnya menunda bulan haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan sikap menunda-nunda itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

2. Menganggap Bulan Safar Sial

 Masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa bulan Safar adalah bulan sial dan tidak berani mengadakan acara penting di bulan ini. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini saat Islam datang.

Salah satu di antara makna "tidak ada Safar" adalah tidak ada keyakinan sial di bulan Safar. Ibnu Rajab mengutip dan menjelaskan bahwa masyarakat jahiliyah berkeyakinan sial terhadap bulan Safar. Masyarakat jahiliyah mengatakan, Safar adalah bulan sial. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghapus keyakinan ini.

Akan tetapi sangat disayangkan, ternyata keyakinan semacam ini masih dilestarikan oleh sebagian kaum Muslimin. Ketika Nabi Muhammad saw telah menghapuskannya sejak 15 abad silam, masih ada pengikutnya yang melestarikannya.

"Semoga Allah melindungi kita dari keyakinan yang menyimpang dan memberikan kita pemahaman yang benar sesuai ajaran-Nya. Hendaknya setiap Muslim bertawakal kepada Allah dan bersandar hanya kepada-Nya, menghindari kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar dan berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni," pungkas Syaikh Shalih. 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---