JATIMTIMES - Sekitar 6.500 hektare (ha) lahan tebu di Kabupaten Bondowoso telah tercover Program Mari Kita Majukan Usaha (Makmur). Terbukti, produktivitas tebu di Bondowoso khususnya di Kecamatan Tapen meningkat drastis. Dari yang awalnya 76 ton per ha naik menjadi 110 ton per ha atau naik 45 persen.
Program Makmur ini diinisiasi oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan pola kolaboratif. Beberapa BUMN bekerjasama dengan petani Indonesia mulai dari permodalan, pembudidayaan hingga pemasaran produk pertanian milik petani.
Baca Juga : Buntut Pengungkapan Pabrik Narkoba, Pendatang di Kota Malang Bakal Diperketat
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Bondowoso H Rolis Wikarsono menjelaskan beberapa hal tentang manfaat program Makmur bagi petani setempat.
"Program Makmur sudah mengcover sekitar 6.500-an ha. Jadi bukan hanya di Mangli Wetan, tapi sudah rata di seluruh Kabupaten Bondowoso. Hampir semua kecamatan sudah tercover dengan program ini," kata Rolis dalam sambutannya.
Rolis juga menyampaikan banyak hal di sela kegiatan Gelar Tanam Tebu dan Seremonial, Panen Tebu Program Makmur Kerjasama PT Petrokimia Gresik dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Desa Mangli Wetan, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, Kamis (4/7/2024).
"Kalau tidak salah ingat, kita yang mengawali program makmur di Indonesia. Program ini sudah berjalan 3 tahun," sebutnya.
Ia menyatakan, petani tebu menuai ragam manfaat dari program Makmur. Yang paling utama adalah kepastian dari sisi permodalan hingga pemasaran. "Petani mendapatkan dana dari perbankan untuk di transfer ke Petrokimia. Setelah itu, petani terima pupuknya, sehingga petani dapat jaminan pupuk yang asli dan bagus dalam waktu yang cepat. Untuk prosesnya hanya butuh 2-3 hari saja," urainya.
Rolis kemudian menekankan tentang pentingnya pupuk bagi petani. Jika pemberian pupuk telat, maka 'kiamat' bagi petani, karena produktivitas akan menurun. "Kalau pupuknya asli, tepat waktu, tepat jumlah, saya jamin jos dan bagus. Sedangkan kalau terlambat stagnansi namanya," tuturnya.
Yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah penyediaan pupuk tepat waktu, tepat jumlah dan harga yang kompetitif. "Kami berharap untuk Petrokimia Gresik, harga pupuk kalau bisa disamakan. Kalau sekarang ada selisih Rp 1.000 - Rp 2.000," pintanya.
Baca Juga : Wujudkan Ekonomi Biru, Wapres Ma'ruf Amin Buka Asian Pacific Aquaculture (APA) 24
Robby Setyabudi Madjid, Direktur Keuangan dan Umum pada PT Petrokimia Gresik menjelaskan bahwa Program Makmur tidak hanya di Jawa Timur dan tidak cuma untuk pertanian tebu.
"Program ini memang yang mengadopsi pertama di Bondowoso dan tebu," kata Robby.
Pihaknya berkeinginan menanggulangi sejumlah permasalahan petani, mulai dari modal dan input pertanian berkualitas tinggi. "Nah kebetulan khusus untuk tebu memang parameternya bukan hanya berat dan kuintalan dari hasil batangan, tapi sebenarnya juga berapa sih rendemennya," ucapnya.
Selain giat panen dan tanam tebu, giat itu juga diwarnai dengan ajang penyemprotan pupuk cair menggunakan drone. "Kami akan launching program petro spring atau smart precission farming. Salah satunya menggunakan drone," bebernya.
Sekali terbang selama 7 menit, penyemprotan bisa mencangkup luasan 5.000 meter persegi atau 1/2 ha. "Harapannya lebih efektif, lebih efisien dalam penerapan atau pemberian pupuk dan obat-obatan atau pestisida," pungkasnya.