Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pemerintahan

Ditjen PKH Kementan RI Beber 6 Tantangan Utama Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau

Penulis : Tubagus Achmad - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

10 - May - 2024, 20:46

Placeholder
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI Agung Suganda saat memaparkan tantangan utama peningkatan populasi sapi dan kerbau di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Selasa (7/5/2024). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian RI membeberkan enam tantangan utama peningkatan populasi sapi dan kerbau di Indonesia. 

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementerian Pertanian RI Agung Suganda menyampaikan, bahwa enam tantangan utama tersebut yang saat ini perlu menjadi perhatian bersama agar peningkatan populasi sapi dan kerbau di Indonesia dapat lancar. 

Baca Juga : Pria Botak yang Viral Ajak YouTuber Jiah ke Hotel Ternyata Pejabat Bandara 

Tantangan pertama yakni ada pada data populasi sapi atau kerbau yang belum valid. Di mana pendataan dimulai pada akhir tahun 2022. Lalu, sapi atau kerbau tersebar dan dimiliki oleh sekitar 13,6 juta peternak rakyat. Selain itu, menurut Agung kesadaran peternak masih rendah. 

Kedua, kondisi peternakan rakyat yang harus menjadi perhatian. Pasalnya, 90 persen populasi merupakan peternakan rakyat. Di mana untuk setiap peternak memiliki 2 sampai 3 ekor sapi. 

Lalu, lahan Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang terbatas, rendah modal, pola peningkatan populasi masing-masing peternak masih menggunakan cara tradisional dan belum terintegrasi. 

"80 persen umur peternak lebih dari 50 tahun, 70 persen peternak berpendidikan rendah, dan kelembagaan usaha peternakan rakyat sedikit," terang Agung. 

Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjelaskan, tantangan ketiga yakni penurunan populasi sapi atau kerbau akibat wabah penyakit mulut dan kuku (pmk). 

"Potensi penurunan populasi sekitar 10 persen akibat kematian dan potong paksa. Serta potensi penurunan produktivitas sekitar 30 persen," ujar Agung. 

Lalu, tantangan keempat penyediaan bibit ternak belum optimal. Di mana produksi bibit unggul di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) nasional dan daerah yang masih rendah. 

Baca Juga : Masifnya Gen Z Pakai Bahasa Inggris, Ancam Eksistensi Bahasa Daerah?

Selain itu, para peternak memiliki ketergantungan dengan negara sumber hewan ternak. Lalu, pembinaan dan pendampingan kelompok Village Breeding Center (VBC) belum optimal.  

Selanjutnya, tantangan kelima yakni lemahnya pengendalian pemotongan betina produktif. Agung menyebut, pemotongan sapi atau kerbau betina produktif di Tempat Pemotongan Hewan (TPH) atau Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang masih tinggi. 

Selain itu, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Kemudian, masih belum adanya program penjaringan dan penggantian sapi atau kerhau betina produktif. 

Terakhir, tantangan keenam yakni kurangnya keterlibatan sektor lain dalam meningkatkan populasi sapi atau kerbau. Menurut Agung, adanya regulasi yang tumpang tindih dan menghambat upaya peningkatan populasi sapi atau kerbau. Selain itu, belum adanya regulasi mewajibkan keterlibatan seluruh stakeholder terkait.


Topik

Pemerintahan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan kemenangan hewan ternak



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Tubagus Achmad

Editor

Sri Kurnia Mahiruni