JATIMTIMES - Sebelum Islam datang, perempuan di masa Jahiliyah, kerap dianggap buruk dan disepelekan. Suara kaum perempuan tak pernah didengar, apalagi untuk mendapatkan warisan tentunya merupakan hal yang mustahil. Keberadaan mereka sama sekali tak dihargai, bahkan mungkin hanya dianggap sebagai layaknya budak.
Namun, ketika Islam datang, perlakuan buruk dan kurang memanusiakan kaum perempuan perlahan hilang. Kaum perempuan pun mulai mendapatkan posisi strategis, mereka juga mendapatkan kehidupan yang layak, dimana sampai kebutuhan rohani dan jasmani dipenuhi.
Baca Juga : Pasca Hebohnya Video 3 Gadis Mabuk, Penjual Arak Jowo Diamankan Polres Blitar
Dalam Islam, setiap aktivitas lahir dan batin manusia telah diatur dalam syariat. Salah satunya adalah tentang hak waris yang kemudian mulai diakui dalam Islam. Sebaliknya, dahulu hak waris bagi kaum perempuan tidak ada.
Dalam Buku Muamalah Menurut Al-Qur'an, Sunnah dan Para Ulama oleh Muhammad Bagir, dijelaskan bahwa bangsa Arab pada zaman Jahiliyah dahulu hanya mewariskan hartanya kepada kaum laki-laki dewasa tanpa memandang kaum perempuan.
Kemudian, satu ketika ada seorang perempuan janda Sa'd bin Rabi mendatangi bersama kedua anak perempuannya. Bertemu dengan Rasulullah SAW, perempuan itu kemudian berkata, "Ya Rasulullah, kedua anak perempuan ini adalah putri-putri Sa'd. Dia terbunuh dalam medan perang Uhud dan kini paman kedua anak ini mengambil seluruh harta peninggalan Sa'd dan tidak meninggalkan apapun bagi keduanya. Sedangkan mereka tak mungkin memperoleh suami kecuali apabila mereka memiliki harta."
Mendengar perkataan perempuan itu, Rasulullah SAW sempat terdiam sejenak. Entah apa yang dipikirkan beliau. Setelah itu kemudian beliau berkata, "Mudah-mudahan Allah menurunkan keputusan tentang hal ini".
Allah SWT yang maha mengetahui segalanya kemudian menurunkan sebuah firman dalam Al-Qur'an Surat An Nisa. Dalam surat itu Allah SWT berfirman:
Baca Juga : Ryan Sebut Ria Ricis Terlalu Kurus: Ini Cara Menghadapi Suami yang Suka Body Shaming
"Allah memerintahkan kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu; memberi bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan, lebih dari dua (menurut penafsiran kebanyakan ulama yang dimaksud adalah dua orang anak perempuan atau lebih sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Nabi), maka bagi mereka 2/3 bagian dari harta yang ditinggalkan. Dan jika anak perempuan itu satu orang saja, maka dia memperoleh 1/2 dari harta."
Kemudian dari petunjuk-petunjuk yang diberikan Allah SWT, timbulnya hak mewarisi adalah setidaknya ada tiga sebab,
Pertama, hubungan kekeluargaan (nasab hakiki) sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 7. Kedua, hubungan pernikahan, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 12. Dan ketiga hadits riwayat Ibnu Hibban, "Hubungan antara budak yang telah dimerdekakan dan mantan majikan yang memerdekakannya, sebagaimana hadis Nabi, "Wala (hubungan antara majikan yang memerdekakan budak dan budaknya itu) disamakan dengan hubungan nasab; tidak diperjualbelikan dan tidak dihibahkan".