Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Shodanco Supriyadi dan Pantai Serang: Catatan Sejarah Awal Mula Pemberontakan PETA

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

09 - Nov - 2023, 10:53

Placeholder
Monumen Shodanco Supriyadi di kawasan Pantai Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES-Kabupaten Blitar, sebuah surga wisata di Jawa Timur, menggoda pengunjung dengan kekayaan alamnya yang menakjubkan dan jejak sejarah yang mendalam. Salah satu destinasi yang memikat adalah Pantai Serang, yang terletak di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kota Blitar. 

Namun, di balik keindahan alamnya, Pantai Serang juga menyimpan kisah perjuangan Shodanco Supriyadi, seorang pahlawan yang memimpin Pemberontakan PETA. 

Baca Juga : Pantang Menyerah Melawan Portugis, Ratu Kalinyamat dari Jepara Ditetapkan jadi Pahlawan Nasional

 Ya, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, adalah sebuah surga wisata yang menyuguhkan berbagai kekayaan alam dan sejarah yang memukau. Salah satu lokasi yang tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang indah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang berharga adalah Pantai Serang. Pantai ini terletak di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kota Blitar, dan telah menjadi tujuan wisata favorit di Kabupaten Blitar.

Pantai Serang tidak hanya menawarkan panorama laut yang menakjubkan, tetapi juga beragam aktivitas rekreasi, seperti berenang, berjemur, berperahu, dan memancing. Pengunjung dapat menjelajahi keindahan pantai dari sisi barat hingga timur dengan berjalan kaki, serta melihat kehidupan kampung nelayan yang merupakan daya tarik tersendiri. Kurang lebih 20 meter dari bibir pantai, terdapat perkampungan nelayan yang diapit oleh bukit di kanan dan kirinya. Kapal-kapal nelayan bersandar tidak jauh dari sana, dan di sebelah kiri teluk tempat kapal bersandar, terdapat bukit karang yang sering digunakan untuk memancing. Di daerah ini, juga banyak pencari lobster tradisional yang menggunakan peralatan sederhana. Pantai Serang juga terkenal dengan keindahan matahari terbenam, terutama pada bulan Oktober hingga Februari, saat matahari tenggelam secara dramatis tepat di tengah pantai.

Namun, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa di balik keindahan alamnya, Pantai Serang adalah saksi bisu dari perjuangan seorang pahlawan, Shodanco Supriyadi, seorang pemuda kelahiran Trenggalek yang memimpin pergerakan PETA (Pembela Tanah Air) dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di Blitar. Meskipun perjuangan PETA ini pada akhirnya menghadapi kegagalan, semangat perjuangan yang diinspirasi oleh komando Supriyadi menjadi pendorong bagi upaya merebut kemerdekaan di berbagai wilayah. Akhirnya, pada tanggal 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno mengumumkan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Setelah pemberontakan PETA menemui kegagalan, Supriyadi menghilang dan nasibnya tidak pernah diketahui. Meskipun pada akhirnya ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat yang pertama dalam Kabinet Presidensial, ia akhirnya digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo pada tanggal 20 Oktober 1945 karena Supriyadi tidak pernah muncul. Bagaimana dan di mana Supriyadi meninggal tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini.

Supriyadi adalah anak pertama dari Raden Darmadi, Bupati Blitar setelah proklamasi kemerdekaan. Jejak historis Shodanco Supriyadi dapat ditemukan di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Di desa ini, Supriyadi menemukan inspirasi perjuangan dan kemudian memimpin pemberontakan bersejarah pada tanggal 14 Februari 1945.

"Didesa Serang, terdapat bekas asrama Soeprijadi dan tentara PETA, namun kini telah menjadi perkampungan. Saat tinggal di asrama Serang, dia menyaksikan penderitaan para Romusha yang dulu dipekerjakan oleh Jepang untuk membangun tanggul di Pantai Serang dan Pantai Tambakrejo. Romusha ini menghadapi penderitaan yang besar, karena makanan mereka tidak dijamin oleh Jepang, tetapi oleh penduduk sekitar. Soeprijadi, sebagai pemimpin PETA, tidak tahan melihat penderitaan mereka dan memutuskan untuk memulai pemberontakan," kata Raban Yuwono, pengurus Paguyuban Mocopat Blitar Kawentar kepada pewarta JatimTIMES.

Baca Juga : Puluhan Tugu Perguruan Silat di Fasilitas Publik Kabupaten Tulungagung Bakal Dibongkar, Ini Alasannya

Supriyadi tinggal di Serang selama tiga tahun, dari tahun 1942 hingga 1945. Menurut Kepala Desa Serang, Dwi Handoko, di sekitar Pantai Serang terdapat sumur dan saluran pertahanan yang merupakan peninggalan dari tentara PETA. Untuk mengenang pahlawan ini, Pemerintah Desa Serang telah mendirikan sebuah monumen Shodanco Supriyadi di Pantai Serang. Setiap tanggal 14 Februari, upacara HUT PETA dan Napak Tilas diadakan untuk mengenang perjuangan Supriyadi.

"Desa kami memiliki sejarah yang kaya, dan selama tiga tahun terakhir, kami telah mengadakan upacara HUT PETA dan Napak Tilas pahlawan Shodanco Supriyadi. Melalui acara ini, warga menjadi lebih sadar bahwa Soeprijadi pernah berada di sini, dan kami berharap bahwa banyak generasi muda akan terinspirasi oleh perjuangannya," jelas Handoko.

Napak Tilas Pahlawan Shodanco Supriyadi selalu dimulai dengan kirab sejauh 3 kilometer. Napak tilas ini adalah pengingat apel pagi pasukan PETA yang dipimpin oleh Soeprijadi. Perjalanan Napak Tilas berakhir di lapangan desa Serang, di mana monumen Soeprijadi berdiri dengan gagah, lengkap dengan samurainya. Tempat ini dahulu menjadi tempat berkumpul para Romusha, yang memotivasi Shodanco Supriyadi untuk memulai pemberontakan PETA di Blitar.


Topik

Peristiwa Pahlawan Nasional Shodanco Supriyadi pantai serang blitar sejarah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni