JATIMTIMES - Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, seperti dilansir Reuters mengatakan serangan udara Israel pada Selasa (17/10/2023) malam menewaskan ratusan orang di sebuah rumah sakit di Gaza.
Jumlah korban tewas sejauh ini merupakan yang tertinggi dari semua insiden di Gaza selama kekerasan yang terjadi saat ini, sehingga memicu protes di berbagai daerah. Termasuk Tepi Barat (Gaza), Istanbul, dan Amman.
Baca Juga : Tanggapi Putusan MK, Gerindra Sebut Duet Prabowo-Gibran Menguat
Menteri Kesehatan Otoritas Palestina, Mai Alkaila, menyebut Israel melakukan "pembantaian" di Rumah Sakit Al-Ahli al-Arabi. Serangan itu menewaskan ratusan orang dan terjadi selama 11 hari pengeboman intensif Israel di Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim jika penyerangan Rumah Sakit di Gaza bukan militer Israel.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan, Ashraf Al-Qudra, mengatakan pada Rabu (18/10/2023) pagi bahwa ratusan orang tewas dan petugas penyelamat masih mengeluarkan mayat-mayat dari reruntuhan.
Pada jam-jam pertama setelah ledakan, seorang kepala pertahanan sipil Gaza mengatakan 300 orang tewas. Sementara sumber kementerian kesehatan menyebutkan angkanya mencapai 500 orang tewas.
Juru bicara Militer Israel Laksamana Muda Daniel Hagari membantah melakukan pengeboman ke Rumah Sakit Gaza. Ia menuduh roket yang ditembakkan oleh kelompok militan Jihad Islam Palestina melewati rumah sakit pada saat serangan terjadi, yang katanya mengenai tempat parkir fasilitas tersebut.
Juru bicara Israel lainnya, Letnan Kolonel Jonathan Conricus, mengatakan kepada CNN bahwa militer menyadap percakapan di mana para militan mengakui adanya kesalahan tembak. Dia mengatakan militer akan merilis rekaman percakapan tersebut.
Di sisi lain, Jihad Islam membantah bahwa ada roket yang terlibat dalam ledakan rumah sakit tersebut, dan mengatakan bahwa mereka tidak melakukan aktivitas apa pun di atau sekitar Kota Gaza pada saat itu.
Diketahui, Jihad Islam yang didukung Iran mengambil bagian dalam serangan pimpinan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober dan, seperti Hamas, telah menembakkan banyak roket ke Israel.
Berita tentang kedaruratan rumah sakit dan tingginya angka kematian memicu kecaman dari banyak negara menjelang kunjungan Presiden AS Joseph Biden ke Israel. Rusia dan Uni Emirat Arab menuntut diadakannya pertemuan Dewan Keamanan PBB dan bentrokan pun terjadi di Tepi Barat.
Sebelumnya pada hari Selasa, PBB mengatakan serangan Israel telah menghantam salah satu sekolahnya di mana sedikitnya 4.000 orang berlindung. Badan tersebut mengatakan enam orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat serangan itu. Militer Israel mengatakan pihaknya sedang menyelidiki laporan itu.
Baca Juga : Hari Jadi Kota Batu ke 22, Pertama Kali Upcara di Pasar Induk Among Tani
Biden mengaku marah dan sangat sedih dengan kabar ledakan yang terjadi di rumah sakit hingga hilangnya ratusan nyawa. Dalam sebuah pernyataan, Biden mengklaim telah berbicara dengan para pemimpin Yordania dan Israel, telah mengerahkan tim keamanan nasional untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Otoritas kesehatan di Gaza mengatakan sebelum insiden hari Selasa, setidaknya 3.000 orang telah tewas dalam 11 hari pemboman Israel sejak peperangan antara Hamas dan Israel, pada 7 Oktober.
Pengungsi yang melarikan diri dari pemboman Israel berbondong-bondong ke rumah sakit, mencari perlindungan di sekitar mereka dengan harapan mereka akan lebih aman.
Pekan lalu Israel memerintahkan semua orang yang tinggal di bagian utara Jalur Gaza, yang panjangnya hanya 45 km (25 mil) dan merupakan rumah bagi 2,3 juta orang, untuk meninggalkan rumah mereka dan pergi ke selatan.
Namun, serangan udara telah menghantam sasaran di seluruh wilayah kantong tersebut dan meskipun ada perkiraan akan adanya serangan darat Israel, beberapa pengungsi sudah mulai kembali ke utara.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan serangan terhadap rumah sakit itu mengerikan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Menutut WHO, pada Selasa ada 115 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza dan sebagian besar rumah sakitnya tidak berfungsi.
Israel telah memutus semua pasokan listrik, air, makanan, bahan bakar dan obat-obatan ke Gaza sejak serangan Hamas, sehingga memperkuat blokade yang sudah ada terhadap wilayah tersebut.
Negara-negara termasuk Kanada, Mesir, Turki, Yordania dan Qatar mengutuk serangan terhadap rumah sakit tersebut.