Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Raden Kartowibowo: Sukses Angkat Ekonomi Petani, Ditendang Pemerintah Hindia Belanda, Lalu Jadi Pahlawan Pendidikan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

02 - Sep - 2023, 15:25

Placeholder
Potret Raden Kartowibowo semasa hidup. (Foto: Aunur Rofiq/ JatimTIMES)

JATIMTIMES-Raden Kartowibowo adalah orang berpendidikan dengan otak paling cerdas di zamannya. Hidup di era kolonialisme Hindia Belanda, Kartowibowo hanya ingin orang pribumi jadi pintar dan menguasai ilmu pengetahuan. 

Jika di Rembang ada RA Kartini maka di Blitar ada Raden Kartowibowo, keduanya sama-sama memiliki darah keturunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Baca Juga : 5 Warkop Pinggir Sungai yang Kekinian di Malang

Terkait pamor, Kartowibowo jelas kalah terkenal dengan Kartini yang telah dianugerahi pahlawan nasional. Namun jika melihat sepak terjangnya dalam catatan sejarah perjuangan, Kartowibowo sejatinya sama dengan Kartini dan ia sangat pantas mendapatkan anugerah gelar pahlawan seperti halnya Kartini. Kartowibowo adalah seorang local genius dan pendobrak tradisi yang berhasil merubah wajah bangsanya menjadi lebih maju.

Belakangan perjuangan Kartowibowo mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Blitar. Pemkab memberikan penghargaan Achievement Award Blitar Land of Kings kepada Raden Kartowibowo sebagai tokoh berpengaruh dari Blitar. Penghargaan tersebut diberikan oleh Bupati Blitar Rini Syarifah di acara puncak Hari Jadi ke-699 Blitar yang digelar pada 5 Agustus 2023.

Di Blitar, Kartowibowo dikenal sebagai pahlawan pendidikan. Ia adalah guru di Noormalschool (sekarang SMAN 1 Blitar). Kiprahnya semakin berkembang dengan mendirikan sekolah sendiri yang diberi nama Particulire Hollans Indise School ( PHIS) Mardi Siswo, sekolah swasta pertama di Blitar yang ditujukan untuk orang-orang pribumi agar mendapatkan pendidikan yang layak dan setara dengan bangsawan dan orang-orang eropa.

Kartowibowo sejatinya adalah ahli pertanian yang tidak memiliki basic pengajar sebagai guru. Ia adalah Sekolah Tinggi Pertanian Bogor yang kemudian bekerja sebagai pegawai negeri Hindia Belanda. Sebagai pegawai negeri, ia berpindah tugas dari satu kota ke kota lainnya. Beberapa kota yang pernah menjadi tempat tugasnya antara lain Jombang, Tulungagung, Mojokerto, Nganjuk, Madiun, Kediri, Semarang, Salatiga dan tentu saja Blitar. Sebelum pindah ke Blitar itulah Kartowibowo membangun gerakan mencerdaskan rakyat di bidang pertanian.

Sebagai seorang ahli pertanian di zaman penjajahan, Kartowibowo memberikan perhatian terhadap miskinnya metode pertanian yang selama ini dilakukan oleh pribumi. Merespon kondisi ini, Kartowibowo kemudian mendirikan sekolah rakyat yang dikhususkan bagi pribumi. Gerakan yang dibangun Kartowibowo sukses, sebagian wilayah yang ia tempati menjadi pioner pertanian dengan pelopornya adalah orang pribumi asli.

Keberhasilan Kartowibowo mengangkat SDM dan kesejahteraan petani lokal mendapat respon dari Pemerintah Hindia Belanda. Hindia Belanda tidak senang dengan apa yang dilakukan Kartowibowo. Alhasil, Kartowibowo pun akhirnya dimutasi ke Blitar dan diberikan tugas yang tidak sesuai dengan kompetensinya sebagai ahli pertanian. Di Blitar, Kartowibowo diberikan tugas sebagai guru.

“Eyang Karto tidak dipecat (dari pegawai negeri), tapi dipindahtugaskan di pendidikan. Dan pemindahan tugas itu malah jadi sebuah berkah, karena Eyang Karto jadi bisa mendidik orang-orang pribumi,” ungkap Wisnu Ardiyanto, cucu Raden Kartowibowo kepada pewarta JatimTIMES.

Sebuah catatan yang diceritakan secara lisan oleh Soejono Kartowibowo (putra Raden Kartowibowo) menyebutkan, salah satu sekolah rakyat  bidang pertanian didirikan Kartowibowo di Tulungagung. Di Tulungagung pada waktu itu tepatnya di Desa Wonorejo, Kartowibowo memiliki hubungan yang erat dengan para petani di wilayah setempat. Khawatir dengan pengaruhnya, Pemerintah Hindia Belanda kemudian memindahkan Kartowibowo ke Blitar dengan tugas yang tidak dikuasainya yaitu menjadi guru.

Di Blitar, Kartowibowo ditempatkan sebagai guru di Noormalschool satu tempat tugas dengan Soekeni Sosrodihardjo, ayahanda Bung Karno.  Noormalschool di Blitar ini merupakan satu di antara 6 sekolah serupa yang ada di tanah air dan berdiri tahun 1915.

“Bung Karno dan Eyang Kartowibowo adalah keponakan. Beliau berdua itu dulu akrab dan sering ketemu kalau Bung Karno pas pulang ke Blitar. Beliau  berdua punya hobi yang sama, menyukai dan tidak bisa jauh dari buku,” jelas Wisnu Ardiyanto, salah satu cucu Raden Kartowibowo.

 Kartowibowo menjadi guru yang istimewa di Noormalschool. Kiprahnya semakin berkembang dengan mendirikan sekolah sendiri yang diberi nama Particulire Hollans Indise School ( PHIS) Mardi Siswo, sekolah swasta pertama di Blitar. Disinilah bukti jika Kartowibowo adalah local genius dan pendobrak tradisi. Pemerintah Hindia Belanda melihat Kartwibowo sebagai ancaman dan ingin menghancurkan  kariernya. Namun dengan dihancurkan justru Kartowibowo semakin memberikan sinar terangnya untuk dunia bagaikan lilin-lilin kecil.

Di tangan Kartowibowo, Mardi Siswo berkembang menjadi sekolah dengan kurikulum muatan lokal yang dirancang Kartowibowo. Tujuan dari Mardi Siswo adalah mendidik dan mencerdaskan anak-anak bumiputra (inlanders ) yang tidak dapat diterima masuk HIS Diens atau HIS Negeri.

Kartowibowo mendirikan PHIS Mardi Siswo setelah terusik dengan sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Di Blitar pada waktu itu, banyak murid sekolah dasar mengalami kegagalan saat akan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. 

Baca Juga : Melalui Research Camp, Prodi PBI Unikama Dorong Peningkatan Penelitian Terindeks 

Kasus yang terjadi waktu itu, banyak murid di Blitar sekolah dasar di Blitar gagal melanjutkan studi pendidikannya di HIS Blitar, sekolah lanjutan satu-satunya yang ada di Blitar kala itu. Sedangkan MULO, Osvia dan lain-lain telah terstruktur sebagai sekolah yang berorientasi khusus. 

Demikian juga kasus yang sama terjadi pada sekolah lanjutan lainnya yang sudah disusun sesuai kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Kehadiran PHIS Mardi Siswo mendapat apresiasi dan dukungan dari Bupati Blitar waktu itu. 

Perjuangan Kartowibowo melalui jalur pendidikan ini aman-aman saja, tidak dicurigasi seperti ketika ia mendirikan sekolah rakyat untuk petani. Pemerintah Hindia Belanda justru menganggap sekolah ini sebagai sekolah swasta yang biasa saja. Yang terjadi justru adalah, Mardi Siswo mampu berkibar dan memecahkan kebuntuan yang ada. Murid-murid sekolah yang tidak dapat diterima di HIS Diens memperoleh pendidikan yang sama di PHIS Mardi Siswo. 

Di sinilah, penghargaan  Achievement Award Blitar Land of Kings sangat pantas diterima Kartowibowo. Meskipun sekolah swasta, semua yang ada di PHIS Mardi Siswo dibuat persis seperti sekolah negeri.  Hasilnya hebat, rakyat pribumi di Blitar pada waktu itu berhasil menjadi orang berpendidikan. Kartowibowo pantas disebut sebagai pahlawan pendidikan.

Di tahun-tahun mengajar inilah, Kartowibowo membangun rumah di Jalan Kalimantan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Rumah yang dibeli pada 1932 ini kemudian dikenal dengan nama Wisma Kartowibowo.

Keterangan lain yang dituliskan oleh Sawito Kartowibowo, anak Kartowibowo, menyebutkan rumah di Sananwetan itu dibeli ketika Kartowibowo sudah pensiun sebagai pegawai negeri Hindia Belanda. 

Rumah tersebut dibangun cukup megah dengan pendapa berukuran 10×10 m di bagian depannya. Pendapa tersebut kemudian diisi dengan gamelan jawa pelok dan slendro, wayang kulit dan perlengkapan pakaian wayang orang.

Setelah berhasil menjadi guru dan mendirikan sekolah sendiri, di Blitar Kartowibowo juga merintis kembali keberhasilannya di masa lalu pada bidang pertanian. Hasil karya Kartowibowo di bidang pertanian di Blitar saat ini masih ada dan jadi petilasan. Beberapa diantaranya sudah berubah fungsi seperti balai benih di Bence Garum, area pembibitan di Jiwut dan lainnya.

Di bidang pertanian, Kartowibowo juga menerbitkan buku berjudul Mardi Tani yang diterbitkan oleh van Dorp & Co pada 1919. Buku ini pernah menjadi salah satu diktat penting bagi pemerintah Belanda dalam penyelenggaraan pendidikan pertanian.

“Pada waktu itu di Jawa ahli pertaniannya ya Eyang Karto. Termasuk muridnya Eyang Karto diantaranya adalah Insinyur Bosscha, pendiri Planetarium (sekarang Observatorium Bosscha) di Bandung,” jelas Wisnu Ardiyanto.

Raden Kartowibowo meninggal dunia di Blitar pada 30 Desember 1948. Ia dimakamkan di Pasarean Pangeranan di Lingkungan Gebang, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar. Pasarean Pangeranan adalah satu pemakaman paling keramat di Blitar. Di tempat ini dimakamkan pula Bupati Blitar ke-2 KPH Warsokoesoemo, Bupati Blitar ke-3 KPH Sosrohadinegoro dan Bupati Blitar ke-4 KPH Warsohadiningrat.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Raden Kartowibowo sejarah sejarah blitar pahlawan pendidikan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni