JATIMTIMES - Keberuntungan sedang tidak berpihak pada beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Ponorogo, Jawa Timur. Pasalnya, sekolah-sekolah tersebut tidak mendapat siswa baru pada tahun ajaran kali ini.
Bukan karena acuh, sekolah negeri tersebut telah mengupayakan berbagai cara agar para orang tua dan anak tertarik untuk mendaftar di sekolah tersebut. Namun tetap saja, sekolah-sekolah tersebut tetap mendapatkan hasil zonk. Pada tahun ajaran 2023/2024 tidak ada satupun anak yang mendaftar ke sekolah tersebut.
Baca Juga : Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Rutin Salurkan Bantuan Pangan Non Tunai Daerah 6.400 KPM Lewat 57 E-Warung
Nasib miris ini menimpa dua sekolah yang ada di Ponorogo, yakni SDN Jalen Keca, Balong dan SDN 2 Munggu Kecamatan Bungkal, Ponorogo. Kedua SD Negeri tersebut tidak mendapat satu pun siswa yang mendaftar pada Senin (17/7/2023) lalu.
Dilihat dalam akun Tiktok @wongdesooraiso, akibat tidak adanya siswa yang mendaftar membuat suasana sekolah di SDN Jalen Keca sepi dan hanya diisi oleh para guru saja.
Masih dalam video yang sama, terlihat pengumuman jika para siswa yang baru mendaftar di SD tersebut akan mendapatkan seragam 4 stel, tas dan tabungan pendidikan secara gratis. Tak hanya tabungan, di SDN Jalen itu juga diberikan uang transportasi per bulannya untuk para siswa.
Kepala SDN Jalen, Dedy Adi Nugroho membenarkan tidak adanya siswa baru yang mendaftar di SDN Jalen. Padahal katanya, SDN Jalen untuk tahun ajaran 2023-2024, SDN Jalen-Balong mendapatkan kuota penerimaan siswa baru sebanyak 28 anak.
“Kemarin sebenarnya mendapatkan dua siswa yang mendaftar. Tetapi karena maunya ada lima orang akhirnya saya suruh mencari (sekolah) yang lain. Sebenarnya kuota penerimaan siswa ada 28 anak,” kata Dedy dikutip dari Kompas, Rabu (19/7/2023).
Deddy juga menjelaskan upaya yang telah dilakukan sekolah seperti mendatangi orang tua calon siswa baru agar mau sekolah di SDN Jalen. Tak sekedar mendatangi, sekolah juga sudah memberitahukan akan memberikan seragam gratis, uang tabungan sebesar Rp 100.000 dan uang transportasi.
“Selain seragam kami berikan uang tabungan Rp 100.000 bila ada pendampingan untuk pembelian buku LKS. Dan, juga uang transportasi Rp 150.000 per bulan yang diambilkan dari uang pribadi para guru,” jelas Dedy.
Peristiwa tersebut menurut beberapa warganet terjadi akibat para orang tua beralih dari sekolah negeri ke swasta karena kurikulum baru yang telah menghilangkan nilai agama di dalamnya.
Baca Juga : Menilik Festival Merjosarian, Ajang Peringati Suroan dan Tampilkan Kreativitas Warga
"Ada yang salah sama kurikulum kita, seharusnya SD lebih ke pembelajaran agama dan moral," tulis @Buku Bekas
"sekolah berbasis agama yg dicari orang tua skrng," tulis @harrisdanu
"kurikulum pelajaran agama yg hilang. anak masuk dibpondok," tulis @Hamka Hamka
Fenomena krisis siswa baru ini membuat beberapa warganet prihatin. Banyak yang menyebut jika di ibu kota sendiri banyak sekolah negeri yang justru menjadi rebutan.
"di jakarta sklh negri malah jd rebutan smpe bela belain beli bangku segala..," tulis @Chio***
"ya Allah... sediiih banget padahal kalo dilihat disitu kayak nya sekolah nya bagus tetap semangat bapak dan ibu guru... ????," tulis @Naira***.