free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Peristiwa

Indonesia Masuki Musim El Nino, Akademisi Nilai Tepat Program Kementan Bangun Waduk hingga Embung

Penulis : M. Bahrul Marzuki - Editor : Yunan Helmy

16 - May - 2023, 23:57

Loading Placeholder
Ilustrasi embung

JATIMTIMES - Indonesia mulai memasuki musim kemarau yang panjang atau El nino yang diperkirakan akan mencapai puncaknya di bulan Agustus mendatang. Kemarau panjang tersebut bisa menyebabkan kekeringan di berbagai daerah, sehingga dapat berdampak pada sektor pertanian.

Pengamat pertanian sekaligus Wakil Dekan Fakultas Pertanian dari Universitas Brawijaya (UB) Malang Sujarwo mengatakan, El nino akan berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Jika terjadi, tentunya berpotensi pada penurunan suplai air yang dibutuhkan sektor pertanian. 

Baca Juga : Viral, Napi di Lapas Nobar Miracle In Cell No 7, Momen Sedihnya Jadi Sorotan 

"Dalam sistem produksi pertanian, kekurangan air akan menghambat proses metabolisme tanaman yang berdampak pada penurunan produktivitas sampai pada kegagalan panen. Situasi ini tentunya sangat merugikan bagi petani dan juga ketahanan pangan nasional," kata Sujarwo melalui seluler, Selasa (16/5/2023).

Apalagi, kata Sujarwo, menurut data BNBP pada Maret 2023, terdapat 11 provinsi yang berpotensi kekeringan dengan curah hujan rendah. Yaitu  Aceh, Bali, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi tengah, dan Sumatera Utara. Padahal, Jawa Timur dan Jawa Barat adalah dua provinsi besar penopang produk pertanian nasional. Hal tersebut tentu perlu diwaspadai  ersama.

"Dari sisi produksi pertanian, hampir pasti ini akan terancam terjadi penurunanndan berdampak pada pergerakan harga produk pertanian, yang meningkat bukan karena tarikan demand tapi karena efek penurunan produksi (supply side). Penurunan harga ini akan memukul konsumen, pada saat produksi petani juga tidak terlalu bagus," jelasnya. 

Sehingga, sambung Sujarwo, baik masyarakat  sebagai konsumen maupun petani sebagai produsen, tidak menjadi lebih baik keadaannya akibat efek yang ditimbulkan El Nino tersebut. 

"Ini artinya, secara keseluruhan efek El Nino akan mengancam kesejahteraan masyarakat," ujarnya. 

Maka, kata Sujarwo, langkah pemerintah untuk mengantisipasi persoalan ini sudah cukup tepat, dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) yang memiliki peranan penting. Mulai dari program yang saat ini terus dijalankan untuk atasi kekeringan seperti pembangunan embung, waduk, rehabilitasi irigasi, hibah pompa hingga asuransi pertanian. 

"Adanya waduk atau embung adalah hal yang baik dalam meningkatkan daya tampung permukaan atas air hujan yang turun. Rehabilitasi saluran irigasi juga penting karena meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi air sehingga tidak banyak yang hilang dalam pendistribusian air ke lahan-lahan pertanian," paparnya. 

Sementara, lanjut Sujarwo, untuk program asuransi pertanian adalah suatu hal yang lain. Asuransi pertanian adalah upaya memitigasi atas risiko dihadapi yang berpotensi pada kehilangan yang besar. Maka, petani yang peduli atas hasil usaha taninya akan cenderung membeli asuransi untuk menjaga agar potensi kehilangan tidak terlalu besar. 

Baca Juga : LockBit Klaim Telah Unggah Data Nasabah BSI di Dark Web Pagi Ini

"Hal ini dikarenakan adanya coverage dari asuransi atas kegagalan produksi yang sangat mungkin terjadi. Apa-apa yang dilakukan pemerintah itu sangat baik dalam upaya mitigasi potensi negatif El Nino," kata Sujarwo.

Sementara itu dari sisi lain seperti teknologi produksi, sambung Sujarwo, tentu terus diupayakan jenis-jenis tanaman yang mampu bertahan pada  siutasi air rendah. Menurut dia,  inovasi menjadi kunci untuk perbaikan teknik budidaya pada berbagai lingkungan yang berbeda. 

"Selain itu, tentu menjadi penting untuk mengembangkan teknologi produksi berbasis laboratorium terkontrol (precision agriculture) dan penggunaan artificial intelligence (AI) untuk membangun sistem produksi sustainable tanpa pengaruh lingkungan luar dan perubahan cuaca," ungkap Sujarwo. 

Sebagai negara tropis, lanjut Sujarwo, pertanian konvensional membawa keberkahan tersendiri dengan sistem produksi yang sederhana dan daya dukung produksi yang melimpah, sehingga memungkinkan biaya produksi yang jauh lebih murah dibandingkan dengan sistem produksi berbasis AI dan laboratorium terkontrol. 

"Namun demikian, ancaman climate change dan hama penyakit yang semakin tinggi, maka alternatif-alternatif sistem produksi dikembangkan, salah satunya precision agriculture – berbasis laboratorium terkontrol, menjadi alternatif perlu dikembangkan secara bertahap dan berkesinambunga. Hadirnya anak-anak muda pertanian yang melek teknologi menjadi titik kritis dalam hal ini," pungkasnya.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

M. Bahrul Marzuki

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---