JATIMTIMES- Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survey yang menyebutkan Khofifah Indar Parawansa dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi kandidat kuat sebagai cawapres yang mampu memenangkan Pilpres 2024 nanti.
Hasil studi ini disampaikan Prof. Saiful Mujani dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Mengangkat Anies: AHY atau Khofifah?” yang disiarkan kanal Youtube SMRC TV.
Baca Juga : Peringatan Nuzulul Qur'an di Kota Mojokerto, Berikut Pesan Khofifah dan Ning Ita
AHY adalah Ketua Umum Partai Demokrat yang mengusung Anies Baswedan, dapat mengangkat suara Anies Baswedan jika melawan Ganjar atau Puan dari PDIP. Jika berpasangan dengan AHY, suara Anies mampu memperoleh 47 persen.
Sedangkan jika dipasangkan dengan Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur dan ketua Muslimat NU mampu mengerek suara Anies dengan selisih suara yang cukup signifikan. Anies meraih 46 persen sementara lawannya dari PDIP 33 persen.
“Jika Khofifah dipasangkan dengan Anies, punya probabilitas secara signifikan untuk menaikkan suara Anies. Demikian pula AHY, jika dipasangkan dengan Anies, suara Anies punya peluang untuk naik secara signifikan,” lanjut Saiful.
Khofiffah sudah beberapa kali teruji kompetitif dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur selama tiga kali pemilihan. Sama halnya AHY yang juga dianggap berpengaruh di Jatim.
AHY tidak bisa dipisahkan dari Demokrat dan lebih khusus dengan SBY. SBY adalah orang Pacitan, Jawa Timur, dan punya basis yang sangat kuat di wilayah tersebut.
Khofifah dan AHY memiliki basis yang sama-sama kuat di Jawa Timur. Bedanya, lanjut Saiful, Khofifah kuat di basis santri NU yang ada di wilayah Tapal Kuda atau Jatim bagian utara. Sebaliknya, SBY atau AHY memiliki basis di wilayah Mataraman. Mataraman adalah daerah yang secara tradisional dalam studi antropologis disebut sebagai daerah kaum abangan atau di bagian selatan Jatim.
Baca Juga : Didominasi Pemilih Laki-laki, DPS Pemilu 2024 di Kabupaten Malang Berjumlah 2.064.468
Pertanyaannya, lanjut Saiful, siapa di antara keduanya yang kemudian lebih potensial untuk dipertimbangkan menjadi cawapres Anies?
Khofifah, kata Saiful, memang memiliki kekuatan elektoral seperti AHY, tapi dia tidak punya kekuatan politik untuk membangun koalisi. Khofifah bukan tokoh partai yang bisa mengarahkan keputusan partai untuk berkoalisi.
Sementara AHY adalah ketua umum Partai Demokrat. Dan partainya sudah menginginkan agar dia menjadi cawapres Anies. Dan jika Demokrat mencabut dukungan atau keluar dari Koalisi Perubahan, maka koalisi itu akan bubar.
“Di situ kekuatan AHY yang tidak dimiliki oleh Khofifah. AHY punya partai sebagai kekuatan politik yang bisa menggenapi Koalisi Perubahan (yang mendukung Anies sebagai Capres),” imbuhnya.